Berpetualang di Ibukota Mencari Soto Terenak

pinterest

Dengan motor roda tiga, seorang ibu paruh baya menjajakan soto ayam di pinggir jalan Sudirman, Jakarta.

Mungkin, bak foodtruck yang tengah mewabah, dia mendesain motor roda tiganya menjadi warung makan berjalan.

Pembelinya pun cukup ramai, dengan meja yang menempel pada gerobak di motor roda tiga itu.

empat pelanggan tampak memenuhi seluruh kapasitas tempat makan yang tersedia.

Pelanggan lainnya menikmati soto ayam sambil duduk di kursi gratis yang disediakan pemerintah daerah Jakarta.

Saya berjalan melintasi soto di motor roda tiga itu sempat terhenti ingin menyicipi.

Apalagi, melihat setoples serbuk koya yang bisa membuat kuah soto menjadi lebih gurih.

Lalu, perut pun memang sudah lapar karena setelah liputan di sebuah bank kawasan Senayan sedari pagi sampai sejam setelah adzan ashar waktu Jakarta belum ada makan berat.

Tawa dan meriah di tengah keramaian pelanggan, komunikasi yang apik sambil membawa mangkok berisi soto.

Wangi kuah soto yang menggoda benar-benar membuat rasa lapar kian mengebu-ebu untuk segera dipuaskan.

Sayang, akhirnya saya memutuskan tidak memakan soto itu, karena ada beberapa pertimbangan eksternal terkait kerjaan.

Saya pun lupa, apa nama soto motor roda tiga di pinggir jalan Sudirman tersebut.

Bagi saya, soto itu menu yang bisa dijadikan andalan untuk makan disetiap waktu, dari pagi hingga malam.

Apalagi, dengan karakter soto yang berbeda-beda di setiap daerah, soto betawi dan soto tangkar dengan kuah santennya.

Lalu, soto lamongan, surabaya, dan madura dengan kuah kaldunya.

Soto kudus dengan karakter kuah bening, serta soto balikpapan, soto padang, dan berbagai macam jenis soto lainnya.

 

BACA JUGA : Kredit UMKM, Pelaku Usaha masih Resah Agunan

 

Ketika kuliah di kawasan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat,  saya punya pilihan tempat makan soto yang selalu dijadikan andalan untuk sarapan pagi.

Tampaknya, penggemar soto itu pun bukan hanya saya seorang, bisa jadi di hampir seluruh wilayah kampus tersebut.

Bahkan, soto itu sempat disebut ‘soyul’ atau soto tuyul karena pengunjung yang ramai sekali.

Walaupun, pada saat akhir-akhir masa studi strata 1 (S1) saya, tukang soto itu memasang spanduk nama sotonya, yakni Soto Madura Nayla.

Menariknya, para pelanggan bukan hanya memburu soto yang menurut saya salah satu terenak, tetapi juga memburu koya yang cukup gurih tersebut.

Sampai, tukang soto itu membuat beberapa toples pada meja makan pelanggannya yang berisi koya sehingga bisa puas menyicipinya.

Kala itu, ketenaran koya soto itu sampai enak untuk dinikmati langsung dengan nasi, walaupun biasanya dimasukkan ke dalam kuah soto.

Sampai saat ini, bila saya bermain ke wilayah bekas kampus itu, menyantap soto nayla seolah menjadi ritual wajib. Salah satu tujuannya untuk meresapi nostalgia kuliner.

Jauh sebelumnya, ketika masih sekolah menengah pertama (SMP) sekitar 10 sampai 15 tahun silam, di kawasan Tangerang, Banten ada beberapa penjual soto lamongan yang membuat saya untuk pertama kalinya menyukai soto.

Salah satunya, penjual soto lamongan gerobak yang suka mangkal di kawasan perumahan Modernland.

Selain itu, ada juga penjual soto lamongan tetap di jalan KH. Hasyim Ashari, Tangerang.

Keduanya memiliki karakter soto lamongan yang sama dari segi kuah, isi, maupun koya.

Walaupun, isi soto lamongan pada penjual yang tetap lebih banyak dan beragam.

Sayangnya, tiba-tiba saja penjual soto lamongan, baik yang dengan gerobak dan penjual tetap menghilang begitu saja tanpa jejak.

Sampai saat ini, belum ditemukan lagi soto lamongan yang rasa, isi, dan koyanya pas seperti kala itu.

Rata-rata penjual soto sekarang cenderung kebanyakan kuah dengan isi yang diramaikan oleh bihun.

Berbeda dengan dulu yang lebih beragam seperti, macam jeroan dari Ati, Ampela, dan sebagainya.

Adapun, petualangan mencari soto terenak masih terus dilakukan, sampai tanpa sengaja diajak seorang rekan makan soto di kawasan Jalan Sabang, Jakarta.

Namanya, soto pak gendut, di kawasan jalan Sabang itu dia memiliki tiga tempat, pertama yang terletak di dalam dengan ruangan agak besar dan nyaman.

Dua lainnya di pinggir jalan dengan gerobak, ada yang dipertengahan Jalan Sabang, lalu ada juga di samping Sarinah.

Dari segi rasa dan isi memang belum bisa menyaingi soto yang saya rasakan di beberapa dekade silam, tetapi sejauh ini cukup nikmat.

Walaupun, bentuk koyanya agak berbeda dari yang selama ini saya makan.

Bentuknya seperti berupa kerupuk udang yang diremas tidak sampai halus, tetapi dari segi kuah sudah cukup enak.

Menjelajah Demi Soto Ayam

Selain itu, ada juga soto surabaya yang dijual di Blok M Plaza lantai basement, walaupun dari segi isi mayoritas kebanyakan bihun, tetapi sudah cukup enak dan mengenyangkan.

Sayangnya, saya lupa nama soto di kawasan Blok M tersebut.

Di luar soto berkuah kaldu, saya sempat merasakan soto kuah santen yang cukup enak di kawasan Cempaka Putih.

Kala itu, sedang diajak mengobrol santai dengan salah satu narasumber saat hari libur.

Pembicaraan tidak jauh dari perkembangan ekonomi dan industri perbankan, mungkin seperti kuliah informal.

Setelah beberapa jam ngobrol di Kopi Oey Cempaka Putih, kami geser ke tukang soto Cempaka Putih yang disebut sang narasumber sebagai andalannya.

Saya memesan soto dengan isi paru, selain menu itu, ada beberapa lainnya dan juga ada yang isinya dicampur.

Ternyata kuah soto yang tampak santan itu ada kandungan susu sehingga menciptakan rasa yang khas.

Meskipun, isinya cenderung sepi, seperti saya yang memesan soto paru hanya diberikan beberapa potongan yang besaran jumlahnya ‘sedang-sedang saja.’

Secara keseluruhan, soto susu itu cukup layak untuk dicoba, sayangnya saya juga lupa nama tempat makannya.

Sampai saat ini, saya pun masih mencoba mencari tukang soto yang enak lainnya.

Di luar yang disebutkan di atas, saya juga sudah mengunjungi dan menyicipi berbagai jenis soto, tetapi menurut lidah saya kurang pas untuk direkomendasikan.

Dari menu makanan soto itu saya sempat terinspirasi membuat tempat makan all you can eat dengan menu utama soto, jadi macam shabu-shabu yang kuahnya soto. #HidupMakananKhasIndonesia

2 thoughts on “Berpetualang di Ibukota Mencari Soto Terenak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.