Media Online, Kecepatan yang Utama, Akurasi Kedua

Perkembangan media online yang memburu kecepatan mungkin bisa diibaratkan para pengendara Moto GP yang memburu garis finish.

Seperti, Valentino Rossi, Dani Pedrosa, Marc Marquez, Lorenzo, dan pengendara Moto GP lainnya harus cepat untuk bisa menjadi juara.

Lalu, apakah para ‘kuli tinta’ juga harus memburu kecepatan biar bisa menang meraih pembaca?

Dengan bahasan ini, saya bisa saja disebut salah satu yang akan sulit bersaing di tengah perkembangan teknologi.

Namun, kembali lagi, apakah media online paling cepat memberikan informasi yang menjadi pemenangnya?

Saya pun terbesit menulis pendapat dan opini ini seiring dengan muncul postingan di sebuah grup media sosial yang menyebut jurnalisme online adalah jurnalisme proses.

Opini yang diposting media online itu mengartikan jurnalisme proses berarti mengutamakan kecepatan.

Lalu, setelahnya baru ada akurasi yang mumpuni dengan melakukan update terkini dalam proses mendapatkan data selanjutnya.

Dalam opini itu, mereka memberikan contoh salah satu pemberitaan tercepat mengenai kasus bom kampung melayu.

Semua itu dimulai oleh satu berita pendek tentang fakta itu dan terus dikejar perkembangan selanjutnya.

Mereka pun mengaku berkomitmen menyajikan berita secara cepat, tanpa mengabaikan akurasi.

Berita yang dibutuhkan pembaca adalah yang akurat dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Bisa jadi mereka tidak salah, semakin cepat berita dikirimkan secara bertubi-tubi dengan terus update, pembaca akan langsung fokus memantau sebuah media online yang dipercayai kecepatannya.

Namun, menurut saya dengan fokus pada kecepatan tinggi dalam berita online berarti berpotensi mengurangi akurasi.

Walaupun, dari struktur ada instrumen yang mengatur agar akurasi tetap terjaga yakni, editor, tetapi persepsi cepat oleh pewarta di lapangan jadi penentu penting tingkat akurasi sebuah berita yang dibuat dengan kecepatan tinggi.

Selain itu, dengan karakter jurnalisme proses, pemberitaan yang terus dilakukan sedikit demi sedikit mengikuti perkembangan membuat lahirnya pembaca yang hanya membaca setengah-setengah.

Alhasil, kehadiran pembaca yang hanya membaca setengah-setengah itu bisa memicu masalah baru.

 

BACA JUGA : Mencari Laptop Mumpuni Untuk Jurnalis

 

Beragam persepsi bisa jadi lahir karena dampak dari membaca berita hanya setengah-setengah.

Padahal media, seperti media online adalah sumber informasi dan pengetahuan kreditbel karena dikerjakan oleh profesional.

Dengan cakupannya yang menjangkau ke seluruh wilayah, pemberitaan pada media online bisa membentuk sosial kultural di sebuah daerah.

Selaras dengan pendapat saya, pada pertengahan 2016, salah satu asosiasi jurnalis juga mengkritik gaya pemberitaan mayoritas media online di Idnonesia.

Pasalnya, media online itu tampak seperti, tidak menampilkan berita.

Alasannya, berita cuma terdiri dari lima sampai enam paragraf pendek sehingga tidak mencakup cover both side.

Belum lagi judul yang kerap berbeda dengan isi berita.

Karakter berita pendek dan ‘sembarangan’ itu muncul mulai medio pasca reformasi saat perkembangan media online mulai berjalan.

Dalih, karakter pembaca berita di Indonesia yang tidak suka membaca berita panjang-panjang sehingga berita disajikan pendek.

Dengan berita pendek pun bisa mengakomodir kecepatan menulis sehingga cita-cita jurnalisme proses yang cepat dan diakui akurasi tercapai.

Namun, dari pandangan saya justru hal itu membuat khalayak yakni, masyarakat semakin malas untuk membaca secara lengkap sebuah tulisan panjang karena terbiasa membaca tulisan pendek.

Dari segi wartawannya bisa berdampak negati.

Soalnya, akan sulit menulis alur tulisan yang panjang karena terbiasa dengan yang pendek dan cepat tersebut.

Live Feed Media Online bukan Berita

Sementara itu, ada pula produk berita live feed yang berupa kumpulan berita pendek yang berisi peristiwa yang real time berlangsung.

Saya menilai live feed yang membutuhkan kecepatan itu bukan sebagai salah satu jenis berita.

Produk itu bisa dibilang ibarat notulensi sebuah acara yang secara langsung ditulis dan ditampilkan di media.

Pasalnya, sang jurnalis pun tidak akan sempat memilah-milih informasi yang layak ditayangkan atau tidak.

Soalnya, dia berpacu dengan waktu karena tuntutan dari kantor.

Fatalnya, kalau narasumber tiba-tiba salah ngomong dalam acara yang tengah di live feed-kan, berarti beritanya pun bisa salah.

Soalnya, tidak ada waktu untuk konfirmasi pada produk tersebut. Itu pun bisa menjadi informasi menyimpang bagi pembaca.

Walaupun media online bisa merevisi sebuah kesalahan, tetapi tidak akan menghilangkan pembaca yang sudah membaca berita salah tersebut.

Jadi, berita yang salah memang sudah dihapus, tetapi dampaknya pasti akan tetap terasa.

Bila wartawan dituntut menulis live feed di tengah liputan, bisa dipastikan dia tidak akan bisa mengamati secara detail jalannya sebuah acara karena juga harus menjadi notulensi.

Dalam sebuah liputan atau acara, saya selalu memperhatikan dari sisi siapa narasumber, dan tamu yang tersedia di sebuah acara.

Semua narasumber itu punya posisi apa dan mempersiapkan data yang sudah diolah sebelumnya untuk ditanyakan sesuai dengan posisi narasumber, memantau karakter tempat acara seperti, di mana narasumber dan tamu akan berhamburan keluar nantinya bila bukan berupa jumpa pers.

Selain itu, melakukan semua itu juga memantau siapa saja tamu yang keluar masuk dan potensial untuk dikejar.

Lalu, sambil melakukan semua itu juga memantau omongan pembicara sesuai acara yang mungkin sepetik atau dua petik fakta yang bisa menarik untuk minta perjelas nantinya.

Tuhan Media Itu Sekedar Klik?

Adapun, bila media menuntut wartawannya melakukan live feed, maka sang kuli tinta hanya akan mendapatkan satu berita yakni, notulensi omongan narasumber sepanjang acara yang terkadang kerap ngalor ngidul.

Namun, ada pula pihak yang mengatakan dengan live feed, hits atau klik yang didapatkan bisa lebih tinggi karena tingkat kecepatan dan lebih ringkas untuk dibaca.

Bila karakter live feed terus berkembang, berarti media massa semakin membuat khalayaknya malas untuk membaca tulisan panjang untuk mendalami sebuah fakta.

Di sisi lain, ini menjadi masalah klasik media, entah hanya di Indonesia atau diseluruh dunia.

Alih-alih memberikan informasi lengkap dan akurat, kecepatan pemberitaan lebih dijadikan fokus utama karena secara cepat juga bisa mendulang pembaca.

Seperti, media massa televisi yang memiliki tuhan dari rating, mau sebuah program televisi jelek atau bagus kalau rating berkata tinggi, maka akan berjayalah program itu.

Senada dengan itu, media Online pun punya tuhan klik atau hits yang semakin banyak berarti karakter berita seperti itu yang disukai.

Pasalnya, berbicara media massa juga berbicara bisnis, di mana keuntungan adalah segalanya. Kalau tidak untung, ya bangkrut.

Dengan begitu, alasan keuntungan dan mencapai hits paling tinggi dalam media online memang harus dilakukan.

Lewat pemberitaan yang mengutamakan kecepatan, ‘dengan tetap menjaga akurasi’ walau bukan yang utama.

Kalau begitu mungkin ‘kuli tinta’ ini sudah seperti kendaraan motor GP atau jet darat tercepat, mobil F1 yang dijadikan tunggangan pemilik media untuk meraih cuan.

1 thought on “Media Online, Kecepatan yang Utama, Akurasi Kedua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.