Pupuk Tabungan Demi Cicilan KPR Ringan

Suku bunga kredit di Indonesia yang cukup tinggi masih menjadi beban untuk debitur, termasuk segmen konsumsi seperti, KPR.

Walaupun, banyak promo bunga fix  rendah sampai satu digit yang diberikan bank.

Namun, itu masih belum cukup karena pada periode tertentu tingkat bunga akan kembali ke periode floating.

Dengan kembali ke periode floating, tingkat suku bunga pun akan kembali naik.

Apalagi, dengan kondisi ekonomi saat ini yang masih dalam tahap pemulihan.

Hal itu membuat daya beli masyarakat untuk ambil rumah dengan kredit pemilikan rumah menjadi rendah.

Untuk permintaan KPR sepanjang 2016, untuk rumah tapak masih naik  8,37% menjadi Rp353,64 triliun.

Lalu, untuk kredit pemilikan untuk rumah susun mengalami penurunan sebesar 0,72% menjadi Rp12,92 triliun.

Permintaan kredit pemilikan rumah secara total sepanjang tahun lalu memang bisa dibilang tidak terlalu moncer.

Apalagi, bila dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya.

Pada 2014, pertumbuhan kredit pemilikan rumah tapak naik sebesar 12,7%, sedangkan rumah susun juga meningkat sebesar 10,08%.

Sebenarnya, tren penurunan kredit pemilikan rumah mulai tampak pada 2015.

Kala itu pertumbuhan kredit pemilikan rumah tapak melambat setelah cuma tumbuh 7,72%.

Di sisi lain, kredit pemilikan rumah susun malah susut sebesar 1,65%.

 

BACA JUGA : Rumah Murah untuk Tukang Gojek

 

Di tengah kondisi itu, beberapa bank pun memiliki produk hybrid antara kredit pemilikan rumah dengan tabungan.

Dengan produk itu, nasabah bisa mengatur seberapa cepat mereka bisa melunasi cicilannya karena tingkat bunga kreditnya akan bergantung kepada jumlah nominal tabungan dalam rekening produk hybrid tersebut.

PT Bank OCBC NISP Tbk. memiliki produk hybrid itu yang bernama kredit pemilikan rumah Kendali.

Secured Loan Division Head Bank OCBC NISP Veronika Susanti mengatakan, tingkat permintaan nasabah untuk menggunakan produk KPR Kendali sepanjang tahun lalu cukup baik.

Awalnya, ditargetkan permintaan KPR Kendali itu bisa berkontribusi sekitar 20% dari total kredit pemilikan rumah perseroan.

“Realisasinya, KPR Kendali berkontribusi sebanyak 35% dari total KPR. Segmen nasabah yang berminat pun dari golongan menengah ke atas,” ujarnya kepada Bisnis pada Jumat (17/3).

Pada tahun ini, produk KPR Kendali perseroan diharapkan bisa berkontribusi sebesar 50% dari total KPR.

Veronika menjelaskan, nasabah merespons cukup baik terkait keberadaan produk hybrid tersebut.

Pasalnya, nasabah bisa menentukan sendiri tingkat bunga sesuai dengan nominal tabungan yang ditempatkan dalam rekening KPR Kendali tersebut.

Jika, ingin semakin cepat menyelesaikan tabungan tinggal meningkatkan saldo tabungannya.

“Untuk kami, saldo tabungan dalam rekening KPR Kendali pun naik 600% dibandingkan dengan rekening tabungan reguler,” jelasnya.

Bukan hanya bank dengan kode emiten NISP itu saja yang memiliki produk dengan mekanisme tersebut, PT Bank Permata Tbk. pun juga memiliki produk serupa dengan nama PermataKPR Bijak.

Direktur Bank Permata Bianto Surodjo menuturkan, produk PermataKPR Bijak itu dijajakan dalam bentuk konvensional maupun syariah dan menjadi salah satu unggulan perseroan.

Untuk perkembangannya, bank dengan kode emiten BNLI itu mencatatkan kenaikan pada permintaan baru sebesar 60% pada semester II/2016 dibandingkan dengan semester I/2016.

“Nasabah yang menggunakan produk itu mencakup semua segmen, tetapi cenderung kepada mereka [nasabah] yang sudah paham dengan pengelolaan keuangan,” tuturnya.

Selain itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. juga memiliki produk serupa yang bernama KPR Xtra Manfaat.

Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, untuk perkembangan produk perseroan itu sepanjang tahun lalu mencatatkan kenaikan, walaupun bukan merupakan komposisi dari penjualan yang tertinggi.

“Segmen nasabah yang menyicipi produk itu pun rata-rata dari nasabah prima, yaitu segmen preferred customer yang cenderung menengah ke atas,” ujarnya.

Lani menuturkan, produk itu memang cenderung diminati oleh segmen menengah ke atas karena secara rasional lebih memiliki dana simpanan yang relatif tinggi untuk mengurangi bunga KPR.

Porsi Tabungan yang Dihitung Untuk Bunga KPR

Dari produk serupa ketiga bank itu, perbedaannya hanya dari sisi porsi tabungan yang dijadikan perhitungan untuk pengurangan pokok pinjaman dalam perhitungan bunga KPR.

Bank CIMB Niaga dan Bank OCBC NISP sama-sama mematok sebesar 80% dari rekening tabungan yang dijadikan perhitungan pengurangan beban.

Di sisi lain, Bank Permata mematok sebesar 75% dari total tabungan yang diperhitungkan sebagai pengurangan beban.

Adapun, dari penjelasan produk itu dari masing-masing situs ketiga bank itu, tidak menunjukkan perbedaan, seperti dana tabungan fleksible atau tidak dihold.

Nah, jika memiliki arus kas lebih atau simpanan yang mengendap cukup besar, sedangkan ada kebutuhan membeli rumah.

Mungkin, produk hybrid itu bisa membantu untuk mengurangi beban cicilan KPR.

diterbitkan pada harian Bisnis Indonesia

1 thought on “Pupuk Tabungan Demi Cicilan KPR Ringan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.