Waktunya Bank Berburu Fintech

Perbankan sudah mulai meraba-raba untuk mendekati teknologi finansial atau financial technology yang kerap disebut fintech.

Harapannya, potensi persaingan antar bank dengan fintech bisa diubah menjadi kolaborasi untuk mengembangkan bisnis menjadi lebih besar.

Dari data fintech Indonesia 2016, disebutkan secara mayoritas atau sebesar 43% pemain fintech masih bergerak di bidang sistem pembayaran.

Sisanya, 17% untuk pembiayaan, 13% sebagai agregator, 8% crowdfunding, 8% perencanaan keuangan, dan 11% lainnya.

Adapun, segmen pasar yang disasar oleh fintech sebanyak 50% masyarakat yang menggunakan fasilitas remitansi melalui bank, 44% masyarakat yang biasa meminjam uang dari kerabat dan keluarga, 27% masyarakat yang menabung di bank, 9% masyarakat yang menggunakan kartu kredit untuk pembayaran.

Selaras dengan data itu, Direktur Internasional & Treasury PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Panji Irawan mengakui, saat ini memang eranya fintech.

Untuk itu bagi bank pun sudah saatnya untuk memutuskan membentuk sendiri, akuisisi, atau kerja sama dengan fintech yang sudah ada.

“Sejauh ini, bisnis fintech yang bisa dikolaborasikan dengan bank yakni, untuk remitansi,” ujarnya pekan lalu.

Dia menyebutkan, fintech dapat membantu tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sulit untuk keluar rumah setiap saat.

“Jadi, nanti bisa melakukan transaksi remitansi atau setor gaji langsung dengan fintech itu lewat ponsel pintar,” ujarnya.

Panji mengatakan, untuk berkolaborasi dari sisi remitansi, bank pun harus mendekati fintech dari setiap negara juga.

Pasalnya, karakter fintech setiap negara itu berbeda-beda.

Adapun, kolaborasi antara perusahaan taksi konvensional seperti, Blue Bird dan Express, dengan jasa transportasi dalam jaringan (daring) seperti, Gojek dan Uber, menunjukkan untuk bisa tetap kompetitif menghadapi perkembangan zaman harus ada kerja sama.

Panji menyebutkan, di tengah booming fintech seperti saat ini, perusahaan-perusahaan rintisan itu pun akan meminta bagian bagi hasil yang kompetitif juga bila ingin mengajak bekerja sama.

“Selain keberadaan fintech, perusahaan telekomunikasi juga sudah mulai masuk tanah bisnis perbankan. Untuk itu, perusahaan sektor itu pun harus didekati juga oleh bank untuk berkolaborasi,” sebutnya.

Di sisi lain, Group Head Investor Relation PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Muhammad Asadi Budiman mengatakan, tantangan dalam mendekati fintech untuk bekerja sama dengan bank memang harus bernegosiasi terkait bagi hasil keuntungan untuk bank dan perusahaan teknologi finansial tersebut

“Tidak bisa dipungkiri lagi, fintech itu sangat potensial sekali dan sesuai dengan karakter masyarakat pada saat ini dan ke depannya,” ujarnya.

Budiman pun menuturkan, untuk kondisi saat ini perbankan memang masih cukup sulit untuk memiliki langsung anak usaha fintech.

Pasalnya, ada regulasi yang mengatur tentang kepemilikan anak usaha untuk bank yang harus terkait dengan lembaga jasa keuangan.

“Memang, untuk itu mungkin bisa tetap dilakukan dengan menjadikan sebagai cucu usaha lewat anak usaha yang sudah dimiliki bank.

Namun, untuk itu harus dikaji dulu seberapa kuat persaingan untuk menentukan harus akuisisi atau sekedar kerja sama.

Intinya fintech dengan bank sangat dekat dan arahnya wealth digitalize,” tuturnya.

Kesempatan Perbankan

Sementara itu, peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bank harus lebih awal untuk berkolaborasi dengan fintech.

Pasalnya, perusahaan teknologi finansial itu mulai merambah lebih dalam ke bisnis perbankan seperti pembiayaan dengan skema peer to peer lending.

“Fintech yang bisnisnya peer to peer lending ini yang berpotensi menyedot likuiditas perbankan,” ujarnya.

Dia pun menyebutkan, untuk saat ini memang fintech dalam peer to peer lending hanya sebanyak 18% dari total seluruh fintech, tetapi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pada 2020 fintech dengan skema bisnis itu akan meningkat menjadi 25% dari total keseluruhan.

Bhima pun menuturkan, dengan peraturan OJK nomor 77 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi yang salah satunya syarat permodalan yang minimal sekitar Rp2 miliar.

Menurutnya, peraturan itu condong melindungi perbankan dan menjadi kesempatan bank untuk memiliki dalam bidang fintech dengan skema akuisisi.

“Saya pikir ini kesempatan untuk perbankan, banyak perusahaan rintisan di sektor itu tinggal diinkubasi selama beberapa waktu. Nantinya, setelah besar tinggal suntik modal,” ujarnya.

diterbitkan pada harian Bisnis Indonesia

1 thought on “Waktunya Bank Berburu Fintech

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.