Menjaga Lahan Gambut Indonesia Agar Tetap Lestari

Saya tidak terlalu peduli dengan Lahan gambut, itu disebabkan karena ketidakpahaman saya terkait fungsi dan peran lahan itu.

Saya hanya menganggap lahan  itu kerap terbakar karena aksi alih fungsi lahan dan pembalakkan liar.

Di luar itu, saya hanya berempati dan kesal dengan aksi orang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan gambut.

Pasalnya, asap dari kebakaran lahan itu telah menyusahkan penduduk sekitar dari segi kesehatan sampai kehidupan sosial.

Ternyata, lahan gambut memiliki banyak manfaat lebih dari itu.

Bahkan, manfaat lahan itu punya peran sangat penting bagi ekosistem dan iklim di Indonesia maupun dunia.

Setelah menilik ke situs Pantaugambut.id, saya baru menyadari pentingnya keberadaan lahan itu bagi Indonesia dan dunia.

Dari Pantaugambut.id, pengertian gambut itu berarti lahan yang terbentuk dari sisa pohon, rumput, lumut, dan jasad hewat yang membusuk.

Semua timbunan itu telah menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan tebal.

Gambut pun biasanya berada pada area genangan air seperti, rawa, cekungan sungai, sampai daerah pesisir.

Cakupan wilayahnya pun cukup besar melingkupi dataran rendah sampai dataran tinggi.

Walaupun hanya terdiri dari tumpukkan bekas sisa pohon, rumput, dan jasad hewat. Ternyata lahan itu punya peran penting bagi masyarakat Indonesia.

Dilansir dari Pantaugambut.id disebutkan ada beberapa manfaat lahan gambut, terutama bagi wilayah disekitarnya seperti, Indonesia.

Beberapa manfaat itu antara lain,

Pertama, untuk menjaga kestabilan iklim dunia. Pasalnya, di sana berisi cadangan karbon.

Kedua bermanfaat untuk mengurangi dampak bencana. Alasannya, ternyata lahan gambut ini punya kemampuan untuk menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya.

Jadi, lahan itu berperan penting dalam mengendalikan banjir di kala musim hujan, serta mengeluarkan air kala musim kemarau panjang.

Ketiga, lahan itu adalah penunjang perekonomian masyarakat sekitarnya.

Soalnya, pada lahan itu terdapat banyak habitat hewan seperti, kepiting, ikan, dan udang yang bisa menjadi penunjang kehidupan jutaan penduduk sekitarnya.

Bahkan, mengutip National Geographic, lahan gambut tropis alami itu biasanya terletak di dataran rendah.

Mayoritas banyak pohon sehingga bisa disebut hutan rawa gambut, hal itu pun merupakan reservoir bagi berbagai aneka ragam hayati, karbon, dan air.

Hutan rawa gambut itu menyediakan habitat vital bagi beragam spesies langka seperti burung, ikan, mamalia, dan reptil.

Dengan ketiga manfaat itu, Indonesia yang disebut termasuk lima besar yang memiliki lahan gambut terbesar di dunia menjaga kelestarian lahan gambut.

 

BACA JUGA : Strategi Menahan Nafsu Para Pembakar Hutan

 

Pantau gambut agar tidak dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Aksi pantau gambut atau menjaga kelestarian gambut berarti juga menjaga Indonesia dari berbagai ancaman bencana akibat perubahan iklim karena hilangnya fungsi lahan gambut.

Bahkan, juga menjaga perekonomian masyarakat Indonesia di sekitar lahan gambut tetap terjaga.

Dengan begitu, menjaga lahan gambut, berarti juga menjaga Indonesia secara keseluruhan.

Sayangnya, lahan gambut malah lebih sering dialihkan fungsinya menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

Hal ini masih harus dipantau juga bersama oleh pihak terkait demi menjaga negeri ini tetap aman, tentram, dan sejahtera.

Nah, parahnya, dalam proses pengalihan lahan dari gambut ke perkebunan dan pertanian itu kerap dengan cara pengeringan lahan.

Dengan cara itu bisa membuat lahan itu menjadi rentan terbakar.

Penyebabnya, pembusukkan bahan organik di lahan gambut menjadi lebih cepat.

Dengan begitu, dalam proses pembusukkan bahan organik itu pun akan melepaskan karbondioksida (Co2) lebih cepat juga.

Dengan bahan organik yang membusuk, lahan itu pun perlahan menyusut juga.

Setelah menyusut, biasanya lahan itu langsung dikeringkan lagi agar mencegah air kembali mengairi lahan gambut tersebut.

Alhasil, proses pengeringan itu membuat CO2 dilepaskan secara terus menerus sehingga membuat lahan itu mudah terbakar.

Luasnya Lahan Gambut Indonesia

Lalu, lahan gambut Indonesia yang luasnya sekitar 14,9 juta hektar atau sedikit lebih luas dari pulau Jawa ini menyimpan sepertiga dari cadangan karbon dunia.

Tingkat karbon yang tersimpan di lahan itu yang berada di Indonesia pun cukup tinggi mencapai 22,5 gigaton sampai 43,5 gigaton karbon, itu setara 17 miliar sampai 13 miliar emisi karbon yang dilepaskan mobil pribadi dalam satu tahun.

Mengutip dari situs lingkungan Mongabay.co.id, Erik Olbrei, peneliti  Australian National University, menyebutkan, lahan gambut Indonesia memiliki nilai penting bagi dunia karena menyimpan sekitar 57 miliar sampai 60 miliar metrik ton karbon.

Jumlah karbon itu menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah Amazon yang menyimpan sekitar 86 miliar metrik ton karbon di dalam tanahnya.

Kalau setengah lahan itu di Indonesia hilang, berarti 100 gigaton karbondioksida ke udara selama beberapa dekade ke depan.

Kebakaran hutan pada 2015 yang melanda 2 juta hektar hutan dan lahan gambut itu saja sudah menghasilkan pelepasan emisi karbon yang lebih besar dari emisi harian gas rumah kaca Amerika Serikat.

Padahal, Negeri paman Sam itu tercatat sebagai pelepas emisi harian gas rumah kaca terbesar di dunia.

Jadi, kita semua warga Indonesia harus terus menjaga kelestarian lahan gambut karena itu berarti kita juga saling menjaga sesama bangsa Indonesia. #PantauGambut

 

 

 

2 thoughts on “Menjaga Lahan Gambut Indonesia Agar Tetap Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.