Lima Fakta Derby Della Mole, Si Zebra vs Banteng

Derby Della Mole pertemuan antara Juventus vs Torino

Memulai awal 2018, derby panas langsung menyambut dalam gelaran perempat final Piala Italia. Juventus akan berhadapan dengan klub sekotanya, Torino, pertemuan kedua tim asal Turin ini kerap disebut Derby Della Mole.

Kedua tim sekota itu bertemu dalam gelaran Coppa Italia, Juventus pun akhirnya memenangkan pertandingan 2-0.

Douglas Costa dan Mario Mandzukic menjadi pencetak gol bagi si Nyonya Tua.

 Walaupun, mendengar Derby antara Juventus vs Torino ini seperti berat sebelah, tidak seperti Derby duo Milan, AC Milan vs Inter Milan maupun derby Ibukota antara AS Roma vs Lazio. Namun, bila melihat perjalanan sejarah, pertarungan kedua klub turin ini sebenarnya panas dan seimbang.

Secara head to head antara La Vecchia Signora, julukan Juventus masih unggul dengan 83 kali kemenangan dari total 194 pertemuan.

Il Granata, julukan Torino, hanya mencatatkan kemenangan 56 kali sejak 1907, sedangkan 55 pertemuan sisanya berakhir imbang.

Di luar head to head itu, masih ada beberapa fakta menarik tentang derby dua klub asal Turin tersebut. Apa saja lima fakta paling menariknya?

Torino Lebih Berkuasa Pada Satu Dekade Awal Derby Della Mole

Torino tercatat lebih sering mengalahkan Juventus pada satu dekade awal
Torino tercatat lebih tangguh pada periode 1900-an dibandingkan dengan Juventus. Pada pertemuan pertama dalam Derby Della Mole, Torino mengalahkan Si Nyonya Tua 2-1 (sumber : La Stampa)

Kalau melihat head to head saat ini, memang tampak kalau Juventus lebih superior dibandingkan Torino.

Namun, kalau melihat fakta kala pertemuan keduanya dimulai, Torino justru lebih superior.

Pertemuan pertama keduanya pada gelaran Prima Categoria pada musim 1907, dari dua pertemuan, Torino berhasil mengandaskan Juventus.

Pertama, di kandang sendiri, Torino kandaskan Juventus 2-1. Lalu, melawat ke kandang Juventus, Torino melumat si Nyonya Tua 4-1.

Berlanjut ke musim 1909 di Prima Categoria, Torino melanjutkan digdayanya atas Juventus dengan mengalahkannya lewat skor 1-0.

 

BACA JUGA : Bitcoin Menggeliat, Regulator Menghadang

 

Sayangnya, ketika Il Granata melawat ke La Vecchia Signora pada  musim 1909, mereka harus menyerahkan tahta kota Turin setelah kalah 3-1.

Namun, di tahun yang sama, Torino kembali mengalahkan Juventus dengan skor 1-0 dalam tajuk play off  Prima Categoria.

Dalam satu dekade awal pertemuan kedua tim itu, Torino menguasai Turin dengan berhasil memenangkan 11 pertandingan, sedangkan Juventus hanya mampu menang 4 kali dari total 17 pertandingan. Sisanya, dua kali kedua tim itu imbang.

Tragedi Bukit Superga 1949

Pesawat yang membawa Torino mengalami kecelakaan di bukit Superga
Torino kehilangan skuad unggulannya setelah pesawat yang membawa mereka pulang dari pertandingan persahabatan di Portugal mengalami kecelakaan parah (sumber : FTB90)

Selepas merayakan Scudetto Torino yang kelima beruntun pada 1949, Torino menerima undangan pertandingan persahabatan dari Benfica, klub asal Portugal. Dalam euforia setelah meraih Juara, tim inti dan staf pun berangkat ke Portugal.

Pertandingan persahabatan antara klub asal Italia dan Portugal itu pun sukses besar menyedot animo penonton. Pertandingan pun berjalan sengit, Benfica, si tuan rumah, berhasil menang 4-3 atas Torino.

Namun, keseruan pertandingan itu ternyata berujung duka. Di tengah perjalanan pulang, pesawat Avio Linee Italiane dengan jalur Barcelona – Turin yang transit dulu di Lisbon mengalami kecelakaan di bukit Superga.

Cuaca yang amat buruk disebut menjadi penyebab petaka tersebut.

Seluruh penumpang, termasuk pemain dan staff Torino dinyatakan tewas.

Hal itu pun menjadi pukulan telak dan duka mendalam bagi kota Turin maupun Italia.

Apalagi, banyak pemain Torino yang merupakan punggawa timnas Italia sehingga dampaknya terasa menyeluruh seseantero Negeri Pizza tersebut.

Pasca kecelakaan itu sampai saat ini, Torino pun sulit bangkit kembali untuk menjadi raja di Italia, termasuk menjadi penguasa Turin dalam pertandingan Derby dengan Juventus.

Hubungan Tifosi Juventus dan Torino Bak Minyak Panas

Hubungan tifosi Juventus dan Torino tidak akur
Respons Juventini yang menyambut duka Torino menjadi sebuah berkah membuat hubungan tifosi kedua tim memanas sampai saat ini (sumber : Corriere)

Tragedi Bukit Superga memang menjadi duka yang mendalam bagi Torino, Italia, bahkan Eropa.

Namun, duka itu malah menjadi suka bagi para Juventini kala itu.

Pasca kejadian itu, dominasi Torino pun berakhir sehingga menjadi peluang Juventus yang merajai Turin bahkan Italia.

Kegembiraan Juventini atas tragedi itu tampak dalam nyanyian pendukung Si Nyonya Tua kala itu yang berjudul Solo Superga Vi Ha Fatto Storia atau Hanya Tragedi Superga yang Menjadi Sejarah Kalian [Torino].

Dalam gemuruh stadion pada Derby Della Mole pasca kejadian itu, pendukung Juventus menyanyikan lagu dengan menirukan bunyi pesawat sambil bergoyang kompak. Sampai klimaks lagunya adalah sama-sama berteriak Boom, Superga.

Hal ini yang kerap memicu kerusuhan antar pendukung ketika Derby berlangsung.

Apalagi, Juventini garis keras di Italia menyebut tifosi Torino Il Toro atau inferior, lemah, minor.

Pada 1960-an, panasnya atmosfer pendukung Juventus dengan Torino setelah para Juventini kembali bahagia di tengah duka Torino, yakni ketika pemain Il Granata, Gigi Meroni meninggal dunia secara mendadak Oktober 1967.

Namun, suka Juventini atas meninggalnya pemain Torino itu sirna setelah Juventus dibantai 0-4 dalam Derby Della Mole.

Alberto Carelli, salah satu pencetak gol dari Torino, mengenakan jersey dengan nomor punggung 7 milik Meroni.

Tidak terima kekalahan, Juventini, tifosi Juventus, itu merusak makam Meroni pasca pertandingan selesai.

Lalu, 18 tahun kemudian, Juventini seperti mendapatkan balasan dari aksi merusak makam Meroni. Pasalnya, 39 Juventini tewas dalam tragedi Heysel di final Liga Champion melawan Liverpool.

Membalas perlakuan Juventini, para pendukung Torino pun tidak pernah berduka dengan kejadian itu. Bahkan, ketika kedua tim bertemu [Juventus vs Torino], tifosi Torino bersorak Terima Kasih Liverpool, Berikan Kami Heysel yang Lain, 39 Sudah Di Bawah Tanah, Hidup Inggris.

Kaum Borjuis vs Buruh

Walaupun, berbeda kasta antara tim borjuis dan buruh, tetapi laga Juventus vs Torino tetap panas dan menarik
Juventus disebut tim borjuis karena dimiliki oleh keluarga Agnelli, pemilik Fiat, sedangkan Torino cenderung disebut tim buruh. Apalagi, tifosi Torino memiliki hak untuk menentukan kebijakan. (sumber : Fantagazzeta)

Persaingan antara Juventus dengan Torino juga kerap disebut pertempuran antara si Borjuis dengan Buruh.

Juventus disebut Borjuis karena dimiliki oleh keluarga Agnelli yang juga pendiri FIAT. Di luar itu, Juventini pun tampak lebih elegan dengan pendukung ada di seantero Italia bahkan sekarang sudah di seluruh dunia.

Di sisi lain, pendukung Torino disebut sangat keras kepada pengurus klub. Mereka kerap memberikan ancaman bila ada suatu kebijakan yang tidak sesuai.

Walaupun didukung oleh masyarakat kelas buruh bukan berarti tifosi Torino akan sepi ketika timnya bermain tandang. Para pendukung dari kelas buruh itu berani merogoh kocek lebih dalam demi menyaksian tim kesayangannya secara langsung loh baik di kandang maupun tandang yang jaraknya sangat jauh dari Turin.

1 thought on “Lima Fakta Derby Della Mole, Si Zebra vs Banteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.