Aku, Sepakbola, dan Indonesia (1) : Kenangan Piala Asia 2007

Sorak sorai  segelintir penonton beruntung yang sudah bisa duduk ditribun stadion. Kibar-kibar bendera merah putih, salah satu pendukung timnas Indonesia dengan girangnya. Budi Soedarsono mengejutkan para pemain dan pelatih Bahrain saat itu dengan berhasil menceploskan gol cantik hasil kreasi satu dua sentuhan timnas Indonesia. Layar papan skor stadion utama Glora Bung Karno pun tertuliskan GOALLLL yang sangat besar.

Yo Ayo, Ayo Indonesia Kuyakin Hari Ini Pasti Menang,” sepenggal lirik yang terus diteriakkan para penonton di stadion saat itu.

Sekitar Juni 2007, saya berjuang mendapatkan tiket di tribun yang tidak terlalu murahan, tetapi juga tidak terlalu mahalan. Jujur saja, berjuang membeli tiket itu luar biasa sampai kartu perpustakaan sekolah (waktu itu Sekolah Menengah Atas) hilang saat menukar tiket.

Bahagia sekali rasanya memegang tiket, meskipun awalnya berencana menyaksikan dengan beberapa teman lama, tetapi akhirnya harus menonton sendirian. Namun, tetap ada rasa senang bisa menyaksikan timnas Indonesia bertanding secara langsung di stadion. Suasana atmosfer di tribun penonton bisa membuat seolah sebagai pendukung punya andil besar mendukung tim yang didukungnya bertanding.

Sayangnya, saat itu saya telat ke stadion dan harus mengantri pula untuk masuknya. Tepat di depan loket masuk bersorak sorai dengan lantang Goal. Dalam hati, jelas ini Indonesia yang membuat gol, kalau tim lawan yang membuat  gol, maka tidak akan ada sorak sorai gembira.

Saya pun bergegas masuk ke stadion dan mencari posisi enak  untuk menyaksikan sebelas pemain timnas Indonesia bertanding di lapangan.

“Sudah unggul kita mas?” tanya saya kepada salah seorang laki-laki umur produktif di sebelah saya.

“Iya mas, 1-0 Budi yang bikin gol. KIta bisa menang kalau begini,” ujarnya.

Sayangnya, tak lama dia berucap begitu, Jandri Pitoy, kiper timnas Indonesia saat itu harus memungut bola dari jala gawangnya. Pemain Bahrain berhasil membalas ketertinggalan gol. Skor  pun satu sama. Pendukung yang memadati hampir seluruhh stadion dengan atribut merah putih tak menyerah. “Hari Ini Pasti Menang” terus berkumandang.

Seruan Indonesia!! pun tak luput menggelora hingga 45 menit babak pertama usai. Saya masih ingat berakhirnya babak pertama saat itu bertepatan dengan adzan Maghrib. Pasca sang korps baju hitam membunyikan peluit, para penonton yang muslim pun memburu musholah. Sangking ramainya, kami sampai sholat dipelataran stadion dengan alas koran dan beberapa ada yang membawa shajadah serta saling berbagi.

Menariknya, setelah sholat maghrib selesai, semuanya kompak memanjatkan doa agar timnas diberikan kesempatan kemenangan (sang imam sholat mengarahkan doa bersama). Suasana haru kompak padahal tidak saling kenal. Jadi, saya mengimajinasikan bahwa mungkin jaman penjajahan dulu pun seperti ini. Rakyat Indonesia yang tidak saling kenal salling bahu membahu untuk bisa membuat sang penjajah lenyap  dari daerahnya.

Peluit babak  kedua bermain, senyum sumringah para pendukung timnas Indonesia di sebelah saya seolah optimis sang garuda bisa meraup tiga angka kali ini. Jujur saja, jantung pun berdetak lebih kencang seolah tubuh ini berasa bermain di sana.

Seruan Indonesia!! dan Hari Ini Pasti Menang serta Garuda di Dadaku terus berkumandang. Pertandingan pun belum menunjukkan adanya pertambahan jumlah gol. Sampai secara mengejutkan Firman Utina saat itu melepaskan tendangan jarak jauh. Kiper Bahrain kalau tidak salah tidak dapat menjangkaunya atau sudah mati langkah. Sayangnya, masih membentur mistar gawang.

Kami sederetan tribun pun langsung tepok jidat. Tapi, dari tribun seberang sorak-sorai gol. Ternyata, Bambang Pamungkas menyambar  bola rebound dari tendangan jarak jauh Firman tadi. Indonesia pun unggul, walaupun euforia dan sorak sorai terlambat. Entah, ada yang curi-curi kesempatan pula memeluk mba-mba yang duduk disebelahnya. Tapi, ini benar-benar euforia.

Pertandingan selesai dengan kemenangan Indonesia 2-1 atas Bahrain di pertandingan pertama fase grup Piala Asia 2007 kala  itu. Semua bubar dari stadion dengan senyum sumringah tanpa beban. Bahagia, euforia, menang di kandang sendiri dan di  laga yang bergengsi pula.

Sayangnya, pada dua pertandingan sisanya, Indoensia harus kandas setelah kalah tipis atas Arab Saudi dan Korea Selatan. Guyon masyarakat sih kekalahan timnas Indonesia di dua pertandingan itu karena ada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyaksikan bersama sang istri Ani Yudhoyono.Alasannya, pada saat pertandingan lawan Bahrain, SBY yang saat itu menjabat sebagai presiden tidak tampak kehadirannya di stadion.

Setidaknya itulah kenangan pertama kali saya menyaksikan timnas Indonesia  langsung di stadion. Setelahnya, enggan datang langsung karena aura atau daya pikat timnas sudah sedikit berkurang. Terutama pasca konflik politik Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang masih berlanjut hingga kini.

Akhirnya, condong lebih nyaman menyaksikan di televisi daripada harus emosi jantungan di stadion. Takutnya kalau saya memaksakan diri ke stadion bisa seperti seorang penonton yang masuk ke lapangan untuk berusaha mencetak gol ke gawang Kuwait atau UEA  pada kisaran 2011 atau periode saat itulah. Si penonton ini merasa  kecewa dengan PSSI yang terus riweuh dengan konflik internal, sedangkan regenerasi pemain tak dihiraukan.

Semoga saja daya pikat  timnas  Indonesia kembali ke era keemasannya pada 1980-an sampai 2000-an awal.

2 thoughts on “Aku, Sepakbola, dan Indonesia (1) : Kenangan Piala Asia 2007

    1. faktor politik di tubuh PSSI membuat program regenerasi tidak jelas. Walaupun, dulu program primavera dan barreti dicibir karena hasil binaan di luar negeri itu jatuh ke salah satu klub milik taipan besar yang menguasai PSSI. Namun, Indonesia membutuhkan program regenerasi yang rapi, fasilitas latihan yang mumpuni, dan menggiatkan liga siswa dan mahasiswa untuk mencari bakat di luar akademi SSB. Kalau timnas saat ini saya lihat tidak menyatu, mengambil istilah anime Hakyuu, timnas Indonesia saat ini bak roda gigi yang bergerak, tetapi tidak menyatu. hehe #itu opini saya sih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.