Pasang Surut Sepakbola Kampus

“Garuda Di Dadaku, Garuda Kebanggaanku, Kuyakin Hari Ini Pasti Menang,” sebuah nyanyian khas para suporter tim nasional (timnas) Indonesia tersebut selalu menggema ketika timnas Indonesia bertanding di Glora Bung Karno (GBK).

Walaupun lembaga tertinggi sepak bola Indonesia yaitu Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) saat ini sedang dilanda polemik berkepanjangan. Dukungan untuk timnas seolah tak pernah padam.

Memang banyak celoteh pesimis terhadap timnas Indonesia saat ini, tetapi di tengah pesimistis itu masyarakat tetap menaruh harap prestasi dari tim garuda tersebut.

Dukungan yang tidak pernah pudar dan harapan prestasi di tengah kepesimisan seolah menggambarkan sepakbola kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Sayangnya, minat terhadap perkembangan sepakbola nasional tidak terbawa ke dunia sepakbola siswa dan mahasiswa. Malah, sepakbola sekolah dan kampus tampaknya kian meredup seiring lahan bermain yang sudah sangat sedikit.

Hal itu terlihat pada Liga Mahasiswa Jawa Barat (Lismajab) 2013, pada pertandingan tim Universitas Padjadjaran (Unpad) melawan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan di stadion Jati, Unpad Jatinangor 5 Maret kemarin. Stadion hening, masyarakat kampus seolah tidak tertarik dengan pertandingan yang melibatkan kampusnya tersebut.

“Animo masyarakat kampus kalau ada pertandingan Liga Sepakbola Jawa Barat yang rutin diadakan biasanya memang sepi, akhirnya yang mendukung tim kami biasanya dari teman-teman USBU (Unit Sepakbola Unpad) sendiri dan beberapa karyawan kampus yang sedang di stadion,” ujar Dandhy Suryansyah, 20, ketua USBU Unpad sekarang (pada 2013).

Dandhy pun berdalih, bahwa sepinya stadion saat tim kampus bermain diakibatkan jadwal pertandingan yang tidak sesuai dengan jadwal mahasiswa. Ia memberi contoh, beberapa turnamen sepakbola yang diadakan waktunya berbenturan dengan libur kuliah atau Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dia melanjutkan, berbeda dengan akhir tahun 1990-an sampai 2000-an, turnamen sepakbola diadakan di waktu yang tepat sehingga mahasiswa ramai datang ke stadion untuk mendukung.

Namun, Dandhy pun mengamini bahwa turnamen yang diadakan untuk cabang sepakbola semakin sedikit. Bahkan, sekarang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang diketuai olehnya lebih fokus ke cabang futsal.

“Bahkan kegiatan sepakbola kami sempat terhenti sama sekali ketika stadion jati, Unpad sedang direnovasi pada 2009 sehingga kami lebih fokus ke futsal,” ungkap mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad ini.

Hal serupa pun terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, menurut Jaka Muhammad, 20, menuturkan untuk pertandingan sekelas Lismajab minat mahasiswa kampus untuk menyaksikan sangat sedikit.

“Atmosfer pertandingan lebih membahana ketika pertandingan sepakbola antar jurusan. Penonton pun ramai dan mendukung jurusannya masing-masing, kami yang bermain pun terasa lebih bersemangat,” tutur Pemain Belakang dari jurusan Jurnalistik Fakultas Komunikasi dan Dakwah UIN tersebut.

Sementara itu, perkembangan sepakbola kampus disebut disesuaikan dengan kebijakan rektor suatu kampus.

Mohammad Achwani, Staff Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum Persib memberi contoh Unpad. Terutama saat rektor Unpad dijabat oleh Himendra Wargahadibrata periode 1998-2007.

“Kebijakan Himendra, yang juga mantan pemain Persib dan timnas era 1960-an itu begitu fokus ke bidang olahraga terutama sepakbola,” ujarnya.

Tercatat pada saat Himendra memegang jabatan rektor Unpad, USBU meraih juara dua dalam Piala Padjadjaran setelah dikalahkan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di final. Kemudian dua tahun berselang USBU kembali menorehkan prestasinya menjadi semifinalis Lismajab 2002.

Dandhy pun melanjutkan bahwa rektor yang kini menjabat memang lebih fokus ke akademis sehingga membuat perkembangan prestasi USBU agak tersendat. Walaupun begitu, menurut mahasiswa Unpad angkatan 2010 ini, USBU kini tengah berusaha bangkit lagi, buktinya mereka berhasil menjadi semifinalis di Lismajab tahun ini.

Momen Emas
Secara umum, sepakbola kampus pernah mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat Indonesia. Achwani bercerita, masa keemasan sepakbola kampus mencapai puncaknya ketika para pemain nasional memperkuat tim kampus pada 1970-an.

“Saat itu eranya Sutjipto Suntoro, kapten timnas era 1970-an suasana pertandingan sepakbola mahasiswa seperti suasana pertandingan Persija lawan PSMS karena pemain yang bermain kebanyakan pemain nasional,” ujar Achwani di kantor PSSI.

Walaupun hal itu terkesan malah membuat bukan pemain nasional sulit bersaing dengan pemain nasional. Tapi, kehadiran pemain nasional di tim kampus itu membuat hadirnya pemandu bakat yang membuat para pemain medioker tersebut dilirik oleh pemandu bakat tersebut.

Sayangnya Achwani tidak menyebutkan pemain medioker yang sempat bermain bersama Sutjipto yang dilirik karena bakatnya.

Masa sepakbola kampus semakin indah ketika PSSI dipimpin oleh Kardono periode 1983-1991. Saat itu melalui Pola Pembinaan Sepakbola Nasional (PPSN) lahirlah Gala Siswa (Gabungan Liga Siswa dan Mahasiswa).

“Dari sini, terjadi fenomena pemain muda yang sudah jadi semakin berkembang karena bermain dengan yang seumuran dan pemain yang sedang tumbuh semakin matang,” ungkap Achwani yang juga pernah menjabat sebagai sekretari eksekutif PSSI.

Para pemain terbaik Gala Siswa dari kalangan Mahasiswa ini nantinya dijadikan satu tim dan dikirim ke Universiade Games, sebuah hajatan tahunan olahraga pelajar dunia. Achwani pun menuturkan sekarang sudah tidak tahu lagi kabar partisipasi sepakbola Indonesia di Universiade games sekarang.

Kemudian, banyak kampus yang memberikan beasiswa kepada pemain nasional dan pemain tersebut membalasnya dengan bermain untuk tim kampusnya. Sehingga pada tahun 1980-an, Sepakbola Perbanas banyak diisi oleh pemain Persija, Sedangkan, IAIN, sekarang UIN banyak diisi oleh pemain Persib.

“Faktor lain yang membuat sepakbola kampus populer saat itu karena pasca Malari kampus diduduki militer, mahasiswa dilarang berpolitik dan demo sehingga lebih fokus ke olahraga dan banyak sekali UKM sepakbola kampus serta turnamen sepakbola antar kampus saat itu,” kenang Achwani.

Kemudian, ketika 1991 Azwar Anas memimpin PSSI, fokus dia lebih ke menyatukan Gabungan Liga Utama (Galatama) dengan Perserikatan agar membentuk liga yang profesional. Dampaknya adalah, pemain nasional tidak bisa membela kampus karena aturan pemain profesional tidak boleh membela tim amatir.

Mulai saat itu, pamor sepakbola mahasiswa mulai redup. Walaupun beberapa pihak mencoba membangkitkan lagi lewat Asosiasi Mahasiswa Jakarta (Asmaja) di awal tahun 2000-an dan Lismajab. Namun, menurut Achwani kendala membangkitkan lagi gairah sepakbola mahasiswa karena antar daerah berjalan sendiri-sendiri tidak terintegrasi menjadi satu.

“Mungkin bila mengikuti metode Jepang dalam pembinaan pemain muda dari tingkat siswa sampai mahasiswa dengan mendatangkan pelatih profesional bersertifikasi ke sekolah dan kampus bisa membuat pemain dari kalangan mahasiswa lebih berkembang,” solusi Achwani.

pernah dimuat di rubrik Move Media Indonesia Pada 2013

3 thoughts on “Pasang Surut Sepakbola Kampus

    1. sebenarnya sepak bola kampus ada, tapi hingar bingarnya lesu, prestisnya enggak ada. Butuh branding saja, sama keseriusan pihak kampus dalam memfasilitas kegiatan di luar akademik itu. Soalnya, banyak pula bakat di sepak bola kampus loh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.