Strategi Menahan Nafsu Para Pembakar Hutan

Kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan di Sumatra dan Kalimantan mulai meluas ke kawasan timur Indonesia. Situasi kabut asap pun kian buruk karena beberapa kawasan di Pulau Borneo kabut asap sudah berwarna kuning yang menandakan racun semakin pekat. Mimpi buruk El Nino terparah kedua setelah 1998 pun mendekati kenyataan.

Seperti dilansir CNN Indonesia pada Rabu (21/10), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah titik api kebakaran lahan dan hutan di Indonesia saat itu meningkat menjadi 3.226 titik api. Jumlah titik api terbanyak masih berada di kawasan Kalimantan Tengah sebesar 910 titik api.

Dalam berita itu juga disebutkan titik api sudah mulai merembet ke kawasan timur Indonesia. Berdasarkan data satelit, jumlah titik api di kawasan timur Indonesia sebanyak 819 titik api. Kawasan Papua yang memiliki jumlah titik api terbanyak.

Menariknya, dari sekitar 3.000 titik api yang berada di kawasan hutan dan lahan perkebunan sawit di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah perkebunan atau lahan milik perusahaan dengan modal asing.

Sampai Rabu (21/10) kemarin, Anang Iskandar, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jendral, mengungkapkan telah menetapkan tujuh perusahaan dengan modal asing sebagai tersangka dugaan pembakaran hutan secara sengaja di sejumlah wilayah di Indonesia.

Tujuh perusahaan yang disebut lewat inisial antara lain, PT ASP (China) yang diduga membakar hutan di Kalimantan Tengah. PT KAL (Australia) diduga membakar lahan di Kalimantan Barat. Kemudian, PT IA ,PT H, PT MBI, PT PAH, dan PT AP (Malaysia) membakar sejumlah lahan di Sumatra.

Bahkan, dua warga negara Negeri Jiran yang menjabat komisaris di PT PAH yang berinisial KBH dan PT AP berinisial KKH sudah ditetapkan resmi sebagai tersangka. Kemudian, tiga orang perwakilan dari perusahaan dengan modal asing lainnya disebut sudah ditahan oleh pihak kepolisian.

Penangkapan tujuh perusahaan itu sebagai tersangka pembakaran hutan sebenarnya menunjukkan bahwa pihak asing juga terlibat dalam pembakaran hutan di Indonesia.

sumber : Antaranews.com
sumber : Antaranews.com

Di luar keberadaan pihak asing dalam tragedi kebakaran hutan di hampir diseluruh wilayah Indonesia. Perkembangan situasi dari akhir tahun lalu sampai saat ini memang tidak kunjung membaik.

Bagi masyarakat biasa, mungkin sempat tersirat di pikirannya bahwa memprotes situasi kabut asap di sejumlah kawasan Indonesia lewat media sosial bagai menggarami air laut. Memaki-maki kelambanan pemerintah tidak lantas membuat ‘mereka’ langsung gerak cepat dan memang wilayah yang terbakar cukup luas.

Bila, ada pikiran nekat untuk memadamkan api sendiri, itu pun mustahil bila melihat jumlah titik api 3.226 buah, sedangkan menunggu hasil kerja pemerintah dalam menanggulangi titik api itu bagai menunggu godot.

Untuk mengatasi kondisi saat ini, sebagai masyarakat tampaknya hanya bisa membantu lewat doa dan sumbangan yang sudah banyak dibuat untuk para korban kabut asap. Tetapi, sebenarnya sebagai masyarakat biasa juga bisa melakukan pencegahan kebakaran asap untuk ke depannya dengan melakukan aksi #beliyangbaik.

Maksudnya, sebagai masyarakat biasa yang kerap mengonsumsi produk berbahan baku minyak sawit. Kita mempunyai kekuatan untuk mengubah perilaku dari para produsen terutama untuk produsen crude palm oil (CPO) atau minyak sawit. Pasalnya, produk berbahan baku sawit mencakup kebutuhan pokok untuk kehidupan kita.

Sebagai contoh, beberapa produk itu diantaranya, makanan ringan, margarin, minyak goreng, sabun, kosmetik, dan berbagai hal di industri farmasi. Bila dilihat semua hal itu selalu bersinggungan dengan kita setiap harinya bukan?

Dengan kata lain, kita adalah pasar terbesar untuk produk berbahan baku CPO tersebut. Dengan status sebagai konsumen, kita bisa mengubah perilaku produsen CPO untuk melakukan proses produksi minyak sawit lewat cara yang baik dengan melakukan aksi beli yang baik. Cara mengubah perilakunya bisa dengan cara memilih produk berbasis CPO yang produksi minyak sawitnya dilakukan lewat cara dan prosedur yang tepat.

Untuk memilih produk berbasis CPO, masyarakat bisa mengidentifikasinya lewat produk yang memiliki label Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Bila produk berbahan baku minyak sawit sudah memiliki label RSPO, maka berarti bahan bakunya sudah diproduksi dengan prosedur yang tepat atau misalnya tidak melalui pembakaran lahan.

Sayangnya, di Indonesia masih minim produk berbasis CPO yang memiliki label RSPO. Untuk yang diperjualbelikan sebenarnya ada, tetapi rata-rata adalah produk impor yang harganya mahal.

Dhiny Nedyasari, Manajer Komunikasi RSPO, mengatakan sebenarnya beberapa produk lokal Indonesia, terutama perusahaan multinasional sudah ada yang mengantongi label RSPO, tetapi label itu hanya dipakai untuk produk yang diekspor ke Eropa dan Amerika.

“Soalnya, di sana kan masyarakatnya lebih tertarik menggunakan produk yang punya label sertifikasinya seperti RSPO. Tetapi, entah kenapa label itu tidak digunakan untuk pasar di Indonesia. Mungkin karena masyarakatnya belum terbiasa memilih produk dengan label seperti itu,” ujarnya dalam talksow #Beliyangbaik & sustainable palm oil pada Sabtu (17/10).

Lalu, apakah dengan kondisi minimnya produk berbahan baku minyak sawit membuat kita tidak bisa melakukan aksi beli yang baik?

Dalam acara bincang-bincang itu, Nugie, penyanyi dan juga duta World Wildlife Fund (WWF), mengutarakan solusinya. Dia memaparkan dengan kondisi tidak bisa memilah-milih produk yang ramah lingkungan atau tidak, maka kita harus lebih hemat dalam penggunaannya. Alasan berhemat adalah untuk menjaga kelestarian alam agar anak cucu kita tetap merasakan suasana yang nyaman.

“Misalnya, kalau menggunakan sabun mandi biasanya satu batang seminggu, mungkin bisa diperpanjang menjadi dua minggu atau sebulan. Jadi, ada dampak ke perusahaan produsen bahwa permintaan mengalami penurunan kan?” ujarnya dalam seminar tersebut.

Dengan penurunan permintaan itu bisa membuat para produsen minyak sawit mengubah perilakunya untuk tidak memburu ekspansi luas lahan produksi sawit. Jadi, kejadian pembakaran hutan untuk mempercepat penanaman sawit bisa diminimalisir.

Apalagi, sejauh ini isu yang beredar bahwa alasan pembakaran hutan untuk membuka lahan dilakukan karena sangat efisiensi dari segi waktu dan biaya.

Ada kalimat yang bisa dijadikan pedoman hidup yaitu tidak ada jawaban bahwa sudah tidak ada pilihan lagi, segala sesuatu pasti ada yang dijadikan pilihan.

Nah, untuk saat ini, pilihan kita sebagai masyarakat biasa adalah mencegah perkembangan titik api untuk membuka lahan sawit dengan membeli yang baik. Selain itu, bisa juga dengan melakukan aksi menghemat pemakaian produk berbasis minyak sawit. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi yang akan memulainya?

3 thoughts on “Strategi Menahan Nafsu Para Pembakar Hutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.