Lebih Baik Tidak Menanam Padi

Petani padi Thailand mungkin rindu melihat jutaan tanaman itu merunduk dan dapat dijual dengan harga yang layak. Kekeringan yang melanda sejak akhir 2014 serta anjloknya harga beras di pasar Negeri Gajah Putih membuat para petani itu dihimbau untuk tidak menanam padi lagi.

Prapatpong Rungsatien, 48, petani beras asal Thailand itu tengah duduk di kuris plastik dalam ruangan yang bisa disebut sebuah kelas. Sudah hampir sebulan terakhir, dia bersama 49 tetangganya mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah tersebut.

Pelatihan yang diadakan untuk para petani itu bertujuan untuk mengajarkan para petani untuk tidak terlalu bergantung terhadap air dan padi. Selain itu, para petani juga diajarkan untuk bisa meningkatkan produksi tanaman lain, pengelolaan keuangan, dan peternakan ayam.

Prapatpong, yang terhitung petani Thailand di generasi keempat itu sebelumnya mampu memanen padi dalam jumlah yang besar selama 15 tahun terakhir. Namun, semua itu berubah sejak akhir 2014 atau awal dari El Nino melanda hingga saat ini.

Terakhir, panennya pun seadanya saja dan banyak dari padinya digerogoti hama seperti tikus.

Dia mengatakan sempat tertarik untuk beralih menanam kacang hijau, tetapi tidak memliki cukup air untuk menanam tersebut. “Lahan saya tanahnya kering dan pecah-pecah. Bagaimana saya bisa menanam tanaman jenis apapun di sana?” ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Jumat (11/3).

Kisah Prapatpong itu salah satu curahan petani Thailand yang saat ini tertekan oleh kekeringan. Belum ada solusi yang mampu menyelesaikan masalah para petani di Negeri Gajah Putih tersebut.

Bahkan, pemerintah Thailand yang telah menyetujui dana senilai US$11,2 miliar baht dan merealisasikan anggaran senilai US$10,1 miliar sejak awal tahun masa tanam pada Mei 2015 belum memberikan hasil signifikan.

Dana itu digunakan pemerintah Thailand untuk membantu para petani dari segi menstabilkan harga jual beras di pasar, mendorong para petani untuk menanam tanaman yang membutuhkan sedikit air, membantu pembayaran utang-utang para petani, dan mendidik para petani termasuk petani padi wangi melati Thailand yang terkenal tersebut.

Permasalahan petani Thailand saat ini adalah kekeringan yang melanda sejak akhir 2014. Hal itu membuat bendungan Bhumibol dan Sirikit mengalami penurunan debit air paling besar sejak 1994. Dua bendungan itu adalah sumber air utama untuk dataran tengah Thailand.

Di sisi lain, padi bahan baku beras yang menjadi salah satu komoditas pangan andalan Thailand ini membutuhkan banyak air. Kadang-kadang para petani padi di Thailand membutuhkan dua setengah kali jumlah air yang digunakan untuk menanam jagung maupun gandum.

unduhan
Bhumibol Dam, Thailand

Sementara itu, pemerintah Thailand juga tengah terbebani oleh kebijakan masa lampau saat masih dipimpin perdana menteri Thaksin Shinawatra dan Adiknya Yingluck.

Saat rezim Thaksin, terhitung hampir satu dekade petani di Thailand disokong subsidi pemerintah untuk meningkat produktivitasnya. Hal itu disebut dilakukan Thaksin untuk memperoleh suara dari masyarakat pedesaan dan para petani.

Hasil dari kebijakan itu, produksi beras Thailand pun terus tumbuh drastis hingga rekor tertinggi mencatatkan pertumbuhan 20%. Hal itu membuat saat ini pasokan beras mencatatkan rekor sebesar 17,8 juta ton dan pemerintah Thailand berjuang keras untuk bisa menurunkan jumlah itu agar harga beras kembali stabil.

Salah satu strategi pengurangan pasokan beras dari pemerintah Thailand adalah berusaha untuk mengurangi produksi. Pada tahun ini, Thailand menargetkan produksi beras berada di level 27 ton atau dikurangi sekitar 25% dari rata-rata produksi dalam lima tahun terakhir.

Menteri Keuangan Thailand Apisak Tantivorawong mengatakan masalah kekeringan ini telah membuat banyak orang menderita. Kami telah berusaha membantu dengan menyuntikkan sejumlah dana ke sektor ini.

“Kami juga mencoba untuk memperkerjakan mereka, mengajar mereka untuk bisa bertahan di masa-masa sulit ini,” ujarnya.

El Nino yang dialami Thailand itu diprediksi menguras perekonomian Negeri Gajah Putih senilai US$2,4 miliar baht dan melemahkan permintaan barang tahan lama seperti kendaraan, peralatan listrik, dan mesin pertanian.

Santitarn Sathirathai, ekonom Credit Suisse Group AG Singapura, mengatakan situasi kekeringan dan harga jual beras yang rendah telah membuat produksi pertanian terkontraksi sekitar 7% sampai 8% dalam dua tahun terakhir. Rasio utang petani dibandingkan dengan pendapatan sudah melonjak hingga 100%.

Strategi pemerintah Thailand yang meluncurkan program pelatihan kepada para petani itu tujuannya adalah untuk membangun ide-ide dan strategi baru untuk para petani bisa bertahan hidup. Sayangnya, strategi itu masih belum terlalu efektif sampai saat ini.

Pemerintah Thailand pun sudah seperti siaga 1 menghadapi situasi saat ini. Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-Ocha terus mendesak para petani untuk mengurangi penanaman padi dan berharap mulai ada perubahan dari program pelatihan petani yang sudah diselanggarakan. Apalagi, suhu pada April nanti akan memuncak dan musim hujan belum juga terjadi selama berbbulan-bulan.

Sayangnya, efektivitas dari pelatihan itu bisa jadi sangat sedikit karena pemerintah hanya mengalokasikan dana untuk 250 petani dalam program pelatihan tersebut. Antusias para petani pun sangat besar hingga jumlah yang hadir 4 kali lipat dari kuota yang ditetapkan. Akhirnya, situasi itu membuat beberapa peserta yang secara acak diundi harus membayar 200 baht per hari untuk bisa mengikuti pelatihan tersebut.

Apisak mengakui anggaran dana memang terbatas sehingga para petani juga harus mengeluarkan dana dari kantongnya sendiri untuk bisa bertahan hidup.

Namun, pengakuan Apisak itu ditanggapi lain. David Streckfuss, akademisi dan penulis buku tentang hukum dan politik Thailand, mengatakan sebenarnya buruh dan petani skala kecil bukan menjadi prioritas pemerintah Thailand. Gejolak ekonomi di kalangan kecil itu dinilai tidak terlalu signifikan mempengaruhi perekonomian negara.

“Beberapa petani saat ini sudah frustasi dengan kondisi ekonominya. TIdak banyak yang bisa mereka lakukan di bawah kekuasaan militer saat ini,” ujarnya.

Chaiyapoj Phak-on, salah seorang petani yang juga mengikuti program pelatihan itu, mengatakan dalam dua tahun terakhir kehidupannya memang menjadi agak sulit dibandingkan dengan sebelumnya. Dulu, menanam padi dengan tambahan subsidi pemerintah bisa menopang hidupnya. “Itu bisa disebut periode terbaik dalam hidup saya,” ujarnya.

Meskipun begitu, Phak-on mengaku melihat program pemerintah telah memberikannya dorongan. “Sampai saat ini saya masih menanam padi, tetapi saya pikir selalu ada cara lain untuk bertahan hidup, harapan itu ada,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.