Polemik Tunggal Putri Indonesia Jelang Olimpiade 2016

polemik tunggal putri indonesia

Polemik tunggal putri Indonesia masih belum terpecahkan. Belum ada tunggal putri yang mampu berbicara banyak di kancah dunia setelah Mia Audina dan Susi Susanti.

Sektor tunggal putri memberikan sedikit drama jelang pemilihan sepuluh pemain yang bakal berangkat Olimpiade Rio de Janiero 2016.

Dua pemain tunggal putri senior Lindaweni Fanetri dan Maria Febe harus bersaing memperebutkan satu tempat untuk gelaran multievent tersebut.

Namun, warganet menilai Linda maupun Febe bakal sulit berkontribusi besar di Olimpiade.

Meskipun begitu, beberapa pihak menilai hal itu bisa menurunkan semangat dan motivasi sektor tunggal putri di Olimpiade nanti.

Di sisi lain, saya melihat kinerja dua pemain tunggal putri itu memang masih sulit bersaing dengan pemain papan atas seperti, Carolina Marin, Ratchanok Intanon, sampai Saina Nehwal.

Jika dilihat dari sisi karakternya, Febe bisa dibilang memiliki gaya main yang lebih efektif ketimbang linda. Begitu juga, dari segi kelincahan dan kekuatan pukulan, Febe masih lebih unggul ketimbang Linda.

BACA JUGA : Jalan Panjang Liliyana, Legenda Butet dari Manado

Linda kerap bermain alot sehingga menguras tenaganya sendiri. Meskipun begitu, Linda memiliki determinasi yang lebih unggul ketimbang Febe.

Febe kerap bermain bak ‘anget-anget tai ayam’ yakni, bermain cepat di awal, tetapi tidak konsisten dan kerap loyo jelang akhir set pertama maupun set kedua dan set ketiga.

Daya determinasi yang tinggi itu membuat Linda bisa dibilang lebih berprestasi ketimbang Febe. Linda mencatatkan diri sebagai semifinalis kejuaraan dunia 2015 yang digelar di Jakarta.

Kala itu, prestasi Linda seolah pelipur lara bagi sektor tunggal putri. Pasalnya, sektor tunggal putri sudah cukup lama tidak naik podium setelah Maria Kristin pensiun.

Polemik Tunggal Putri, Kelemahan Linda dan Febe

Sayangnya, kedua pemain tunggal putri itu memiliki kelemahan yang sama, yaitu masalah stamina dan kelenturan tubuh.

Dengan gaya bermain yang alot, Linda sangat membutuhkan daya tahan stamina yang kuat. Hal itu demi bisa membuat lawannya bertekuk lutut kehabisan nafas terlebih dulu.

Lalu, Febe kurang bisa mengendalikan penggunaan staminanya. Dia kerap menghabiskan energi pada set pertama, tetapi tenaganya sudah habis pada jelang akhir set pertama dan set selanjutnya.

Selain stamina, masalah kelenturan tubuh juga jadi polemik utama. Kelenturan tubuh sangat berguna untuk menghindari cedera parah maupun membuat pukulan atau gerakan tidak terduga.

Nah, polemik tunggal putri Indonesia kerap mendapatkan cedera. Bahkan, beberapa tunggal putri harus menutup karirnya karena cedera seperti, Maria Kristin dan Ardiyanti Firdasari.

Bellaetrix Manuputty juga menjadi salah satu tunggal putri andalan yang harus mengalami cedera parah pada 2015.

Di sisi lain, kelenturan tubuh Linda dan Febe juga tidak terlalu baik. Hal itu bisa dilihat dari pergerakannya ketika pertandingan, serta mudah mengalami cedera.

Pada kejuaraan dunia 2015, Linda harus berhadapan dengan Saina di babak semifinal. Pertandingan cukup alot, bahkan Linda sudah terpincang-pincang.

Akhirnya, Linda kalah 17-21, 17-21 dari Saina. Jika Linda memenangkan pertandingan pun, rasanya bakal sulit bermain optimal di babak final.

Dari berbagai polemik tunggal putri itu, Linda yang dipilih PBSI untuk mewakili Indonesia di Olimpiade Rio.

Semoga saja Linda bisa meraih hasil yang terbaik di Brasil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.