Pelajaran untuk Ihsan dari Lee Chong Wei

pelajaran untuk Ihsan

Pelajaran untuk Ihsan dari Lee Chong Wei pada semifinal Indonesia Open 2016 adalah bagaimana cara menjadi pemain kelas dunia. Apakah dia akan mampu menjadi pemain sekelas veterang asal Malaysia tersebut?

Pertandingan semifinal terakhir Indonesia Open 2016 bak acara puncak hari itu. Lampu sorot muncul menunjuk Ihsan Maulana, satu-satunya wakil Indonesia pada turnamen tersebut.

Padahal, beberapa pertandingan semifinal lainnya tidak ada presentasi yang spesial seperti itu. Para pendukung tuan rumah pun bersorak menyambut masuknya Ihsan ke lapangan.

Bahkan, panitia menampilkan tulisan “Ayo Indonesia Pasti Bisa” pada layar di Istora Gelora Bung Karno. Pundak pemain mudah itu mendapatkan beban yang berat, dia tamat berarti Indonesia tanpa wakil di final.

Sialnya, Ihsan harus bertemu Datuk Lee Chong Wei, pemain papan atas dunia seangkatan legenda Indonesia Taufik Hidayat. Pertandingan ini bak paman harus bertarung melawan keponakannya.

Peluang Ihsan bisa menang pada pertandingan kali ini sangat kecil baik di atas kertas maupun pengalaman. Namun, pendukung tuan rumah berharap ada keajaiban seperti, di kisah anime bertema olahraga.

Set pertama dimulai, Ihsan bermain cepat dan menghujam Lee Chong Wei dengan smash kencang. Sayangnya, sang veteran Negeri Jiran itu bisa mengembalikan bola pukulan sang rising star Indonesia.

Sampai interval set pertama, Lee Chong Wei mampu unggul dengan mudah. Ihsan bermain terlalu buru-buru dan sempat grogi ketika melakukan service.

BACA JUGA : Kinerja Tunggal Putra Indonesia pada Semester I/2017

Pukulan smash dari Chong Wei pun banyak yang tidak bisa dikembalikan oleh Ihsan.

Pasca interval, Ihsan belum mengubah gaya permainan dan bermain dengan pola monoton. Alur permainan Ihsan adalah mengangkat bola dengan pukulan lob, kemudian melakukan pukulan pendek dekat net.

Setelah itu, Ihsan akan menyerang lawannya dengan smash. Taktik itu justru sangat mudah diantisipasi salah satu veteran terbaik dunia Bulu tangkis tersebut.

Harapan Set Kedua

Ihsan kalah 9-21 pada set pertama. Namun, hikmah kekalahan pada set pertama itu adalah Ihsan mulai bisa mengembalikan smash Chong Wei.

Harapan penonton berlanjut ke set kedua, sorak-sorak Indonesia masih menggema.

Pada set kedua, Ihsan bermain lebih trengginas dan memaksa Chong Wei bergerak ke sana-ke mari. Namun, Ihsan belum memecahkan kebuntuan dari permainan monotonnya tersebut.

Namun, ada satu momen permainan variasi serangan cantik Ihsan ketika dia mampu menangkis smash tajam Chong Wei. Pemain Malaysia itu kembali mengangkat bola, dan Ihsan membalasnya dengan pukulan dropshot.

Pukulan itu pun tidak lantas mematikan langkah Chon Wei, tetapi pengembalian bola dari pemain veteran itu tanggung. Ihsan melakukan smash tanpa ampun ke bidang Chong Wei.

Sayangnya, variasi permainan seperti itu jarang dilakukan Ihsan. Pada set kedua, pemain Indonesia itu mampu menekan Chong Wei dan kalah dengan skor 18-21.

Evaluasi Tunggal Putra Muda Indonesia

Kisah pemuda asal Tasikmalaya itu berakhir, sang raja sehari di Istora harus kandas oleh Datuk asal Malaysia tersebut. Meskipun begitu, para penonton tetap mengapresiasi perjuangan Ihsan.

Kekalahan itu seolah memberikan pelajaran untuk Ihsan kalau persaingan menjadi pemain kelas dunia sangat berat.

Permainan yang ditampilkan Ihsan pada semifinal Indonesia Open 2016 mengingatkan gaya main Jonathan Christie pada Piala Thomas 2016.

Kala itu, Jojo, sapaan akrab Jonathan, harus berhadapan dengan tunggal veteran Hong Kong Hu Yun.

Jojo sempat kesulitan menghadapi tunggal senior itu pada set pertama. Pasalnya, pemain muda Indonesia itu bermain dengan alur monoton.

Bahkan, Hu Yun bisa mengembalikan bola dari Jojo tanpa melangkah sedikit pun.

Namun, Jojo mengubah gaya permainan dengan lebih variatif dan membuat Hu Yun lebih banyak bergerak. Alhasil, Jojo bisa menutup pertandingan dengan kemenangan untuk Indonesia.

Nah, melihat gaya main Jojo dan Ihsan, tampaknya kedua tunggal putra Indonesia ini perlu menambah variasi serangan. Lalu, mereka harus membuat lawan bergerak hingga posisinya menjadi tidak bagus.

Pergerakan para tunggal putra Indonesia pun harus lebih efektif. Jangan sampai mengandalkan pukulan smash yang tidak akan mematikan lawan, tapi malah menghabiskan stamina sendiri.

Beberapa poin itu mungkin bisa mengangkat prestasi tunggal putra muda Indonesia ini bertengger di lima besar dunia.

Hal itu harus dijadikan pelajaran untuk Ihsan dan Jojo agar bisa berkembang lagi ke depannya.

Pelajaran untuk Ihsan

Di sisi lain, Indonesia gagal total di Indonesia Open 2016, tetapi yang paling menyakitkan adalah komentar dari Tontowi Ahmad, pemain ganda campuran bersama Liliyana Natsir.

Owi, sapaan Tontowi, mengatakan, kekalahannya itu disebabkan beban target juara yang terlalu besar dari PBSI.

Ketua Bidang Prestasi dan Pengembangan PBSI kala itu Rexy Mainaky pun kecewa dengan komentar Owi tersebut.

“PBSI tidak memberikan kewajiban harus juara, tetapi memang dia [Owi] sudah menjadi pemain kelas dunia yang harus juara di turnamen seri tertinggi yakni, super series premier,” ujarnya.

Rexy mengatakan, Owi pernah menjadi juara All England, tetapi pernyataannya itu membuat dia tampak tidak profesional.

“Kalau di sini saja sudah tertekan, apalagi nanti ketika Olimpiade Brasil?” tegas Rexy.

Meskipun begitu, pernyataan Owi mungkin punya maksud lain seperti, dukungan penonton di Istora justru menjadi tambah beban untuknya. Hal itu membuat dia bermain tidak nyaman.

Di sisi lain Chong Wei memberikan pelajaran untuk Ihsan, untuk menjadi pemain kelas dunia bukan sekedar membutuhkan pengalaman bermain, tetapi juga semangat bertarung yang kuat untuk menang.

Mungkin, kalimat itu juga harus dipahami Owi kalau sebagai pemain kelas dunia harus selalu punya semangat bertarung untuk menang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.