BADMINTON ASIA CHAMPIONSHIP 2017: Ketika Indonesia Tanpa Gelar

Tanpa Marcus Gideon/Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, Indonesia gagal meraih gelar pada Badminton Asia Championship 2017.

Terakhir, satu-satunya andalan Indonesia pada turnamen itu, Praveen Jordan/Debby Susanto harus mengakui keunggulan pasangan China, Wang Yilyu/Huang Dongping, dua set langsung 22-24, 19-21.

Dengan 15 wakil Indonesia yang mengikuti Badminton Asia Championship, tetapi sama sekali tidak ada yang mampu lolos hingga ke babak semifinal. Apakah dunia bulutangkis Indonesia benar-benar sedang terpuruk hingga sulit bersaing dengan pemain papan atas dari negara lain?

Kalau diringkas, pada babak pertama Badminton Asia Championship, dari 15 wakil Indonesia itu, hanya enam wakil yang berhasil lolos ke babak kedua. Beberapa pemain yang lolos antara lain, Praveen/Debby, Ihsan Maulana, Fajar Alfian/Muhammad Rian, Della Destiara/Rosyita Eka, dan Ricky Karanda/Angga Pratama.

Wakil lainnya yang diprediksi harusnya bisa lolos ke babak kedua Badminton Asia Championship malah kandas lebih awal. Beberapa pemain itu salah satunya,tunggal putri Indonesia Fitriani yang dikalahkan tunggal Vietnam Thi Trang Vu dua set langsung 13-21,8-21 dalam 32 menit.

Tommy Sugiarto, tunggal putra yang paling senior Indonesia setelah Sony Dwi Kuncoro, juga harus kandas oleh tunggal Jepang, Kenta Nishimoto. Tommy kalah dua set langsung 14-21, 9-21 dalam 34 menit pada babak pertama Badminton Asia Championship.

Dua tunggal putri Indonesia lainnya, Hanna Ramadhini dan Dinar Dyah pun dikalahkan tunggal putri Korea Selatan dan India.

Hanna Ramadhini dikalahkan oleh Sung Ji Hyun, tunggal Korea Selatan, dua set langsung 5-21,9-21 dalam 25 menit, sedangkan Dinar Dyah dikandaskan Pusarla V. Sindhu dalam dua set langsung 8-21,18-21 dalam 31 menit.

Anthony Ginting, tunggal putra Indonesia, juga harus mengakui keunggulan tunggal Jepang Takuma Ueda dalam tiga set 13-21, 21-10,17-21 dalam 58 menit.

Tiara Rosyita/Rizki Amelia, ganda putri Indonesia juga harus mengakui keunggulan ganda Korea Selatan Hye Rin Kim/Yoo Hae Won dua set langsung 17-21,17-21 dalam 46 menit.

Wakil Indonesia Dibabat Habis

Lebih miris, penampilan lima dari enam wakil Indonesia di babak kedua Badminton Asia Championship 2017 yang kalah dari lawan-lawannya. Praktis, hanya menyisakan Praveen/Debby di babak perempat final yang ternyata juga gagal melangkah ke babak selanjutnya.

Pada tahun lalu, Indonesia hanya mendapatkan gelar perak dari Tontowi/Lilyana dan perunggu dari Greysia/Nitya.

Pada 2015, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Indonesia berhasil memperoleh emas. Wakil Indonesia yang memperoleh dari Tontowi/Lilyana setelah terakhir pada 2009 diperoleh Markis Kido/Hendra Setiawan.

Di luar itu, penampilan wakil Indonesia dalam turnamen kelas atas memang kerap terhenti di babak kedua maupun perempat final.

Hanya andalan yang sudah terbiasa bersaing dengan pemain papan atas negara lain yang bisa menembus semifinal maupun final, seperti Tontowi/Lilyana maupun Marcus/Kevin.

Sayangnya, Lilyana yang masih dibekap cedera lutut sejak akhir tahun lalu juga belum bisa memberikan peforma maksimal.

Selain itu, ganda putri andalan Indonesia, Greysia Polli/Nitya Maheswari juga belum bisa tampil sepanjang tahun berjalan ini. Nitya masih dalam proses pemulihan cedera lututnya.

Namun, apakah absennya andalan-andalan Indonesia itu bisa dijadikan alasan melempemnya prestasi bulutangkis Indonesia?

Butuh Perkembangan Konsisten dan Cepat

Berbicara prestasi, mungkin masih terasa hingar bingar Marcus/Kevin yang berhasil memenangkan All England dan tiga gelar super series berturut-turut.

Namun, hal itu juga menjadi miris karena semua gelar super series yang diraih Indonesia didapatkan dari kerja keras pasangan ganda putra yang tengah naik daun tersebut.

Tidak perlu muluk-muluk berbicara kebangkitan tunggal putri seiring dengan Susi Susanti, bekas tunggal putri andalan Indonesia, menjadi bagian manajemen PBSI.

Pada lini andalan seperti, ganda campuran, ganda putri, dan ganda putra, Indonesia tidak memiliki pelapis yang mumpuni untuk bermain dengan pemain papan atas.

Ganda putri yang menjadi benar-benar tidak memiliki pelapis Greysia/Nitya yang cukup sepadan, sepanjang awal tahun ini, peforma ganda putri bisa disebut menjadi sorotan. Tiara/Rizki maupun Della/Rosyita belum mampu berbicara banyak di pentas papan atas seperti, super series.

Begitu juga ganda campuran, Praveen/Debby yang tahun lalu diharapkan bisa menjadi salah satu andalan di ganda campuran, tetapi justru prestasinya malah terus menurun.

Bila menilik setiap pertandingan Praveen/Debby, sebenarnya bukan kualitas permainan mereka yang menurun, tetapi perkembangan permainan lawan yang tampaknya tumbuh lebih cepat, sedangkan permainan ganda campuran Indonesia itu cenderung stagnan.

Ronald/Melati yang sebenarnya juga mulai berkembang pada tahun lalu, tampaknya kurang mampu bersaing pada beberapa pertandingan awal tahun ini, sedangkan Gloria Widjaja/Edi Subaktiar pun tampak kurang padu. Setelah, pasangan itu sempat dipisah beberapa waktu karena Gloria dipasangkan dengan Tontowi.

Begitu juga ganda putra, setelah Hendra Setiawan keluar dari pelatnas, praktis hanya Marcus/Kevin yang permainannya konsisten dan terus berkembang, sedangkan Ahsan/Rian Agung tampaknya masih membutuhkan waktu untuk penyesuaian.

Ricky/Angga yang kerap menciptakan All Indonesian Final dengan Marcus/Kevin pun permainannya masih kurang konsisten, begitu juga dengan Fajar Alfian/Rian yang kerap mengejutkan, tetapi juga bisa kandas dengan mudah.

Di sisi lain, tunggal putra Indonesia pun tampaknya masih cukup sulit bersaing dengan pemain papan atas dunia.

F3, julukan tiga tunggal putra muda Indonesia yakni, Jonathan Christie, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana masih sulit bersaing dengan pemain papan atas.

Perkembangan ketiganya bisa disebut stagnan dan lambat. Pasalnya, ketiganya masih sulit menang melawan pemain papan atas.

Melihat kondisi bulutangkis Indonesia itu, saya jadi teringat terkait gembar-gembor pemerintah yang mendorong pelaku usaha untuk mengekspor bahan setengah jadi, ketimbang bahan mentah.

Dorongan pemerintah itu bisa disebut terlambat karena negara lain malah sudah mengekspor barang jadi, dengan begitu negeri ini berpotensi akan selalu kalah bersaing.

Begitu juga dengan pemain bulutangkis Indonesia, penurunan prestasi itu bukan disebabkan oleh kemampuan para atlet Indonesia itu yang menurun, tetapi perkembangan lawan yang konsisten dan cepat.

Jadi, ketika pemain Indonesia melawan dengan kemampuan yang perkembangannya lambat akan sulit berkompetisi dengan pemain dari negara lain yang perkembangannya begitu konsisten dan cepat.

Seperti, China, ketika Ma Jin, Yu Yang, Zhang Yunlei, dan Xu Chen keluar dari tim nasional China, Negeri Tirai Bambu itu tetap mempunyai pengganti yang sepandan dan langsung melesat ke papan atas.

Begitu juga Korea Selatan yang ditinggal Lee Yong Dae pun langsung menemukan pengganti dan tetap menjaga persaingan di papan atas.

Beberapa negara lain, seperti, Thailand, China Taipei, India, dan Jepang pun tampaknya juga berkembang begitu cepat dan konsisten sehingga seperti perlahan mulai melangkahi Indonesia dalam jagat bulutangkis dunia.

Begitu juga Denmark, sektor tunggal dan ganda putranya sudah disiapkan pelapis yang siap bersaing dengan pemain papan atas.

Untuk itu, bila Indonesia masih ingin berjaya pada bidang olahraga bulutangkis, tampaknya butuh ramuan khusus agar dari segi kemampuan, stamina, dan mental pemain bisa bersaing dengan pemain papan atas dunia.

Jangan sampai sepanjang tahun ini di setiap turnamen, Indonesia hanya mengandalkan Marcus/Kevin untuk bisa meraih gelar.

1 thought on “BADMINTON ASIA CHAMPIONSHIP 2017: Ketika Indonesia Tanpa Gelar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.