Piala Sudirman 2017 : Indonesia Harus Berbenah

Berkali-kali Anthony Ginting tertinggal dalam perolehan skor dalam laga melawan Viktor Axelsen di Piala Sudirman 2017.

Namun, Anthony tidak menyerah begitu saja, dia terus agresif mencari celah dari tunggal putra asal Denmark tersebut.

Kalah 13-21 pada set pertama tidak membuat Anthony menyerah, dia malah lebih agresif.

Axelsen yang jangkung pun dibuat kocar-kacir untuk merespons serangannya.

Alhasil, Anthony berhasil mengalahkan Axelsen lewat rubber set 13-21, 21-17, 21-14.

Dengan begitu skor untuk Indonesia bertambah menjadi 2-0.

Sebelumnya, ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto juga menyumbang skor setelah menang dua set langsung dari ganda campuran Denmark, Joachim Nielsen/ Christina Pedersen, 21-12, 21-13.

Sayangnya, sektor ganda putra Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon menelan kekalahan dari pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Morgensen dalam rubber set 21-16, 22-24, 21-23.

Secercah asa lolos ke babak selanjutnya kembali terbuka setelah Fitriani, tunggal putri Indonesia, berhasil menang atas tunggal Denmark, Mia Blichfeldt, dalam rubber set 22-24, 21-15,21-14.

Pertandingan antar tunggal muda kedua negara itu sempat cukup sengit, Fitriani yang kerap tertinggal terus mengejar tunggal peringkat 45 dunia itu hingga bisa memenangkan pertandingan.

Terakhir, pada sektor ganda putri, Indonesia gagal menambah skor setelah pasangan Greysia Polli/Apriani Rahayu kalah rubber set dengan Kamila Juhl/Christina Pedersen 18-21, 21-13, 13-21.

Indonesia berhasil menang 3-2 melawan Denmark dalam pertandingan terakhir GRUP 1D Piala Sudirman 2017.

Namun, kemenangan itu belum cukup untuk membawa Negeri Zamrud Khatulistiwa itu ke babak selanjutnya.

Indonesia pun menorehkan rekor terburuk sepanjang masa di Piala Sudirman kali ini dengan tidak lolos babak penyisihan grup.

Sepanjang gelaran Piala Sudirman sejak 1989, Indonesia selalu lolos penyisihan grup.

Sebelum ini, torehan terburuk Indonesia terjadi pada 2013 setelah gagal melaju ke semifinal.

Kala itu, Indonesia gagal ke ke semifinal setelah dikalahkan China  3-2.

Dengan begitu, bisa dibilang ini melengkapi prestasi kelam bulutangkis Indonesia sepanjang semester I/2017.

Namun, dengan membawa tim yang diisi pemain muda dan dalam masa-masa keemasan, kegagalan pada Piala Sudirman tahun ini bisa dijadikan pengalaman untuk mereka.

Setidaknya, pada dua tahun ke depan ketika Piala Sudirman 2019, mereka sudah lebih matang dan berpengalaman.

Dalam pertandingan melawan Denmark kemarin, Anthony Ginting bisa dibilang yang cukup menonjol setelah mampu menundukkan Axelsen dalam rubber set.

 

BACA JUGA : Menakar Peluang Indonesia Di Grup I Piala Sudirman 2017

 

Permainan agresif dan ulet itu kerap memaksa tunggal Denmark itu melakukan kesalahan atau membuka celahnya sendiri.

Gaya permainan Anthony yang agresif dan ulet itu tampaknya harus dibuat menjadi lebih konsisten.

Pasalnya, dalam gelaran super series pada paruh pertama tahun ini, penampilan Anthony kerap tidak konsisten dan anget-anget tai ayam.

Seperti, ketika melawan Srikanth Kidambi, tunggal putra India di Singapura Super Series, Anthony bermain seperti, anget-anget tai ayam.

Panas di awal, unggul cukup jauh, tetapi lengah sedikit hingga lawan mengejar dan mebalikkan keadaan.

Selain itu, dalam permain grup, sepertinya Anthony punya semangat lebih besar.

Hal itu juga tampak pada gelaran Piala Thomas tahun lalu.

Beberapa catatan sotoy dari awam untuk Anthony antara lain, dalam pengembalian kok ke lawan kerap sekedar mengembalikan dengan posisi yang sudah ditunggu sehingga kerap banyak poin didapatkan lawan dari kebiasaan tersebut.

Walaupun, dalam pertandingan melawan Axelsen, Anthony cukup memiliki serangan variatif yang membuat Axelsen harus bergerak lebih banyak dan membuat banyak celah untuk diserang.

Lalu, untuk tunggal putri, Fitriani, tampaknya harus meningkatkan teknik dalam netting maupun placing kok biar lebih sempurna.

Karakter permainan Fitriani kerap menekan pemain lawan ke belakang lapangan, kemudian dia melakukan drop shot atau smash  di lapangan depan.

Selain itu, Fitriani pun berkali-kali melakukan placing kok ke tepi garis sisi samping belakang lapangan lawan. Namun, sayang placing kerap gagal sehingga dinyatakan keluar.

Lalu, tunggal putri berumur 18 tahun itu juga kerap enggan bermain netting berlama-lama.

Mungkin sedikit variasi permainan netting yang lebih tipis ke bibir net bisa menjadi variasi serangan.

Dengan gaya permainan menekan lawan ke belakang sebenarnya bisa menjadi pisau bermata dua untuk Fitriani.

Apalagi bila menghadapi pemain jangkung seperti, P.V Sindhu sehingga dengan variasi netting yang lebih sering bisa sedikit membuka celah lawan.

Regenerasi Ganda Di Piala Sudirman

Untuk ganda campuran dan putri tampaknya Indonesia butuh kombinasi lain yang lebih mengigit untuk regenerasi Greysia Polli/Nitya Maheswari.

Seperti dengan kondisi Nitya yang dalam proses penyembuhan cedera, sektor ganda putri Indonesia seakan tidak mengigit sekali sepanjang tahun berjalan ini.

Begitu juga Ganda Campuran harus mencari kombinasi pemain muda baru untuk dijadikan andalan ke depannya.

Setidaknya, mencari sosok perempuan yang bisa dikombinasikan dengan Tontowi Ahmad maupun Praveen Jordan karena tidak bisa selamanya mengandalkan Debby Susanto maupun Lilyana Natsir.

Gloria Emanuele Widjaja yang beberapa kali dipasangkan dengan Tontowi pun tampaknya belum memberikan hasil yang maksimal.

Semoga, bulutangkis Indonesia ke depannya bisa berkembang lebih baik lagi dengan pemain-pemain lebih muda.

Untuk tahun ini, masih ada gelaran Sea Games 2017, selain itu berbagai turnamen super series dan gold grand prix, terutama yang terpenting pada pertengahan Juni 2017 ada Indonesia Open Super Series.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.