Kinerja Tunggal Putra Indonesia Paruh Pertama 2017

Jonathan Christie, 19 tahun, sampai akhir Juni 2017 menjadi tunggal putra Indonesia yang memiliki peringkat tertinggi di BWF yakni, pada posisi 24.

Walaupun, dari segi hasil turnamen, raihan tertinggi Jonathan sepanjang tahun berjalan ini adalah Runner Up Thailand Open Grand Prix Gold 2017.

Kala itu, di Final, Jojo, sapaan akrab Jonathan dikalahkan wakil India Sai Praneeth dalam rubber set 21-17, 18-21, 19-21.

Untuk level turnamen Superseries maupun superseries premier, capaian tertingginya di tahun ini pada Quarter final Singapura Open 2017.

Pada babak perempat final turnamen di Singapura itu, dia kalah dari Lee Dong Keun dua set langsung 18-21, 16-21.

Adapun, langkah Jonatan di dua laga superseries premier yang diikutinya kandas pada babak 16 besar.

Dia kalah di tangan duo raksasa China, Chen Long dan Lin Dan.

Nasib yang sama pun dialami tunggal putra muda Indonesia ini pada babak 16 besar Australia Open Superseries 2017.

Dia kembali dikalahkan Lin Dan, wakil dari China tersebut.

Meskipun, belum meraih gelar, tetapi kinerja Jojo sepanjang paruh pertama tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.

Pada sepanjang paruh pertama tahun lalu, prestasi tertinggi Jojo adalah mencapai babak semifinal pada Malaysia Open 2016

Selain itu, dia juga sempat mencapai babak perempat final pada Indonesia Open Superseries Premier 2016.

Pencapaian Jojo di Indonesia Open 2016 sampai perempat final menjadi yang kedua secara berturut-turut sejak 2015.

Sayangnya, pada tahun ini, dia gagal melebihi pencapaiannya pada dua tahun terakhir.

Sisanya, langkah Jojo kerap terhenti di babak 32 besar atau 16 besar.

Semoga saja pada paruh kedua, Jojo mampu memberikan kejutan kepada dunia dan bisa menembus peringkat 15 besar pada akhir tahun ini.

Sementara itu, Anthony Sinisuka Ginting, 21 tahun, menjadi tunggal putra Indonesia dengan peringkat tertinggi kedua di BWF.

Saat ini dia berada pada  peringkat ke-26.

Sepanjang enam bulan terakhir, Anthony berhasil melaju ke babak semifinal pada empat turnamen.

Empat turnamen itu antara lain, Malaysia Master Grand Prix Gold (GPG), Thailand GPG, Swiss Open GPG, dan Singapura Superseries.

Adapun, empat turnamen sisanya yang diikuti Anthony yakni, All England, Malaysia Open Superseries Premier, Indonesia Open Superseries Premier, dan Australia Superseries hasilnya tidak begitu memuaskan.

Di Inggris, Malaysia, dan Indonesia, dia tertahan di babak 32 besar.


BACA JUGA : Bonus Tak Kunjung Turun, Ganda Putra Ini Kasih Kode

 

Lalu di Australia, Anthony hanya mampu tembus hingga babak 16 besar.

Meskipun hanya mampu mencapai semifinal pada turnamen yang mayoritas di level GPG.

Namun, jika dibandingkan dengan pencapaian pada paruh pertama tahun lalu, dia menunjukkan perkembangan.

Pada 2016, pencapaian Anthony sepanjang semester pertama yang paling bagus adalah menembus semifinal Australia Open 2016.

Sisanya, dia tertahan di babak 64 besar smapai 16 besar, bahkan pada gelaran All England dia tidak lolos kualifikasi.

Semoga saja, Anthony terus mempercepat perkembangannya agar bisa bersaing dengan top ten tunggal putra dunia.

Senior Tunggal Putra yang Meredup

Pada awal tahun ini, Tommy Sugiarto, 29 tahun, sempat mengejutkan dengan meraih gelar pada Thailand Master GPG 2017 .

Hal itu didapatkannya setelah mengandaskan wakil tuan rumah dua set langsung 21-17, 21-11.

Sebelumnya, pada gelaran Malaysia Master GPG 2017, dia juga berhasil mencapai semifinal.

Sayangnya, Tommy dikalahkan oleh wakil Korea Selatan Lee Hyun Il dua set langsung 17-21, 16-21.

Namun, setelah hasil awal tahun yang cukup menggembirakan, penampilan Tommy cenderung turun.

Pada All England, dia hanya mampu sampai babak 32 besar.

Lalu, pencapaian pada India Open Superseries lebih baik setelah mampu mencapai perempat final.

Sayangnya, pada Malaysia Open Superseries Premier dia tertahan di babak 16 besar.

Lalu, pada Singapura Open Superseries, Indonesia Open Superseries Premier, dan Australia Superseries Tommy langsung kandas di babak 32 besar.

Dari segi peringkat, Tommy pun mencatatkan penurunan drastis, yakni terlempar dari 20 besar dunia.

Dia menuju ke level terendah sejak 2012 dengan berada pada peringkat 30 pada April silam.

Kini, Tommy bertengger pada posisi 28 dunia.

Meskipun sudah tidak muda lagi, Tommy sebenarnya masih memiliki kemampuan dan pengalaman untuk bisa berbicara lebih di pentas dunia.

Mudah-mudahan saja, nanti Tommy berbalik arah menjadi tua-tua keladi dan mampu merengkuh berbagai gelar.

Secara umum, perkembangan tunggal putra Indonesia cukup lambat bila dibandingkan negara lain.

India, Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang justru mulai memunculkan tunggal putra yang mumpuni.

Memang harus dipikirkan ramuan khusus agar tunggal putra Indonesia ini bisa bersaing dengan pemain papan atas dunia.

Sumber Foto : PBSI, BWF

Infografis : Pribadi,

Sumber Infografis : BWF

 

3 thoughts on “Kinerja Tunggal Putra Indonesia Paruh Pertama 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.