Lika-liku Bisnis Calo Tiket Bulutangkis

“Bapaknya mau nonton Slank sampai malam kayaknya, jadi belum keluar-keluar nih,” ujar salah seorang di tengah acara buka bersama himpunan bank negara (Himbara) dua pekan lalu.

Tepat di sebelah acara buka bersama itu, riuh teriakan “Indonesia… Indonesia…”

Teriakan itu berasal dari gelaran Indonesia Open 2017, teriakan yang semakin kencang itu pun perlahan menggoda saya.

Alih-alih menunggu bapak narsum yang lagi ‘enak-enak’ nonton Slank dan saya tidak suka Slank, lebih baik melipir ke sebelah.

“Pak, ini tiket Rp150.000 aja, lebih murah dari di loket. Beli yang punya saya saja pak,” pinta seorang calo tiket.

“Pak, ini Greysia Polli [ganda putri Indonesia] lagi main, saya jual Rp150.000 VIP A asli,” ujar calo tiket lainnya.

Namun, saya tidak tergiur dengan harga tiket murah dari para calo tiket tersebut.

Saya pun memilih langsung  ke loket dan sudah ada petugas yang sudah bersantai-santai di sana.

Berhubung waktu sudah memasuki Isya, loket tiket pun sudah tidak terlalu padat.

“Tinggal yang VIP A nih pak, Rp225.000,” ujar salah satu penjaga loket tiket.

Saya pun langsung embat satu tiket itu dan bergegas masuk.

Sayup-sayup beberapa calo tiket yang menawarkan saya tadi sedikit ngedumel.

“Ah, sayang duit lu Rp75.000 ke buang, mending beli sama gue lebih murah. Susah banget sih ditawarinnya,” ujarnya dengan ketus.

 

BACA JUGA : BADMINTON ASIA CHAMPIONSHIP 2017 : Ketika Indonesia Tanpa Gelar

 

Ada alasan kuat kenapa saya tidak membeli tiket di calo walaupun harga lebih murah.

Saya melihat ada risiko tiket yang dijajakan mereka palsu.

Selain itu, pada loket resmi pun masih menyediakan tiket.

Selesai menonton beberapa pertandingan karena sudah cukup malam, saya pun keluar dari arena.

Bergegas menuju ke rumah, pada jam yang sudah agak larut malam itu ternyata masih banyak calo yang beredar di JCC.

Mereka masih memegang sekitar dua sampai empat tiket yang belum terjual dan terus berusaha menjual tiket tersebut.

Ada pengunjung orang asing yang baru masuk arena pada malm itu pun diburu oleh para calo tersebut.

Saya pun tidak tahu apakah orang asing itu akhirnya membeli tiket kepada mereka atau tidak.

Dua hari berselang, saya kembali menonton turnamen serupa yang sudah mencapai babak semifinal.

Kali ini saya sudah membeli tiket di toko online sehingga hanya tinggal menukarkan tiketnya saja,

Namun, ketika datang, bukan calo yang menjajakan tiket yang menyergap.

Namun, calo itu menanyakan kepada saya apakah punya tiket lebih yang tidak terpakai.

Dia pun berniat membeli tiket itu bila saya memilikinya.

Adapun, yang bertanya bukan hanya satu atau dua orang, tetapi sekitar lima orang.

Di sisi lain, dari loket pun ada suara toa yang cukup kencang berteriak, “Belilah tiket hanya di loket resmi untuk mendapatkan tiket yang asli,”

Awalnya, saya pun tidak paham maksud mereka menanyakan tiket lebih itu apa, tetapi saya bertanya dengan rekan semasa kuliah yang tidak sengaja bertemu.

Dia menjelaskan, maksudnya si calo ingin membeli tiket lebih yang tidak terpakai buat mereka beli dengan harga murah kemudian di jual kembali.

Sampai sore menjelang berbuka puasa, masih banyak pula Calo yang menanyakan terkait lebih tiket tidak terpakai.

Dengan begitu, khusus untuk turnamen bulutangkis itu, para calo mencari tiket lebih dari penonton yang sudah membeli online lebih dari satu tiket, tetapi mendadak ada rekannya yang tidak bisa.

Jadi, fungsi calo menjadi alat refund ilegal kalau ternyata berhalang nonton langsung.

Namun, dari segi nilai refund kepada calo pastinya akan turun drastis karena tujuannya yang penting tiket bisa diuangkan kembali.

Dari kebutuhan itu, calo pun memburu penonton kelebihan tiket tak terpakai untuk diubah menjadi rezeki mereka.

Walaupun begitu, tampaknya tidak semua yang menawarkan tiket dengan skema mengambil lebih dari penonton yang salah satu temannya tidak hadir langsung.

Pasalnya, ada pula calo yang sudah menunggu di pintu masuk Gelora Bung Karno, cukup jauh dari JCC, sudah memegang sekitar enam sampai delapan tiket.

Dia menawarkan tiket-tiket itu kepada pengendara mobil yang akan masuk menonton pertandingan bulutangkis.

Kemungkinan besar harapannya adalah ketika melihat penjual tiket langsung di depan, berarti mereka tidak perlu antri membeli tiket.

Padahal, membeli tiket langsung sekarang juga tidak sepadat beberapa tahun yang lalu.

Calo Tiket Dapat Tiket Dari Mana?

Pertanyaannya, dari mana calo itu bisa mendapatkan tiket hingga lima sampai delapan tiket.

Padahal, kalau memesan lewat toko online saja maksimal empat tiket.

“Mungkinkah ada bandar yang memakai nama beberapa orang untuk membeli tiket, atau mereka mendapatkan jatah dari vendor event organizer?” tanya saya dalam pikiran.

Mencoba mengingat pada turnamen yang sama pada tahun lalu, Hingga semifinal hanya ada satu wakil Indonesia yang akhirnya dikalahkan oleh tunggal asal Malaysia.

Dengan begitu di final sudah tidak ada wakil Indonesia lagi yang melenggang.

“Masih ada yang mau beli tiket hari ini, saya jual VIP Rp100.000, kalau besok ada yang mau tiket murah VIP bisa ke saya Rp200.000 [harga VIP saat itu sekitar Rp500.000 atau Rp750.000],” ujar  calo tersebut.

Dia langsung pangkas harga ketika tahu tidak ada wakil Indonesia yang lolos ke final.

Meskipun sudah beralih dengan sistem pembelian tiket via online, calo tiket tampaknya tidak kehabisan akal mencari potensi bisnis.

Dengan menjadi sistem refund ilegal atau tetap menjadi calo konvensional yang menawarkan dengan kalimat “tiket di loket sudah habis, calo di dalam lebih mahal, di saya malah diskon” masih bisa mendapatkan cuan karena banyak masyarakat yang masih terpedaya.

Itu lika liku dari secuil kisah percaloan dari sudut pandang penulis.

 

Sumber foto : viva.co.id/Anang Fajar Irawan

2 thoughts on “Lika-liku Bisnis Calo Tiket Bulutangkis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.