Menanti Kebangkitan Tunggal Putri

Pusarla V. Sindhu, tunggal putri India, dan Sung Ji Hyun, tunggal putri Korea Selatna, bak momok yang kerap menghadang jalan Fitriani, 18 tahun, tunggal putri Indonesia dalam turnamen sepanjang semester I/2017.

Dalam turnamen Syed Modi International Badminton Championship Grand Prix Gold 2017.

Langkah Fitriani terhenti di semi final setelah Pusarla V. Sindhu mengalahkannya dua set langsung 11-21, 19-21.

Tak berhenti di situ, Fitriani kembali bertemu Sindhu pada gelaran Singapura Open Super Series 2017 di babak 16 besar.

Kini Sindhu harus sedikit ekstra keras untuk mengalahkan Fitriani lewat rubber set 21-19, 17-21, 8-21.

Pertemuan antara Fitriani dengan Sindhu kembali dilanjutkan pada gelaran Sudirman Cup 2017 pada babak penyisihan.

Kali ini, Fitriani masih belum bisa menembus digdaya Sindhu dan kalah dua set langsung 8-21,19-21.

Selain Sindhu, pada paruh pertama tahun ini, Fitriani juga belum mampu menembus untuk bisa menaklukan Sung Ji Hyun.

Keduanya telah bertemu dua kali sepanjang semester I/2017.

Pertama di babak 32 besar All England di mana Fitriani harus kandas dua set langsung 18-21, 12-21.

Lalu, pertemuan kedua terjadi di Indonesia Open Superseries Premier 2017 pada babak 16 besar.

 

BACA JUGA : Kinerja Tunggal Putra Indonesia Paruh Pertama 2017

 

Kala itu, Fitriani kembali kalah dua set langsung 10-21, 10-21.

Meskipun masih sulit untuk menaklukan tunggal putri papan atas.

Namun, penampilan Fitriani memang paling mencolok diantara tiga tunggal putri Indonesia dengan peringkat BWF tertinggi.

Jika dibandingkan dengan penampilan di turnamen level GPG dan Superseries Premier pada dua tahun belakang.

Penampilan Fitriani pada tahun ini lebih menjanjikan.

Bayangkan saja, pada 2016, Fitriani hanya mengikuti tiga turnamen GPG dan Superseries Premier yang hasil terbaiknya bisa menembus babak 16 besar di Indonesia Open 2016.

Pada 2015, Fitriani hanya mengikuti Indonesia Open 2015 dan itu pun dia tidak lolos babak kualifikasi.

Tunggal Putri Senior Tak Mencolok

Melihat penampilan Fitriani. seolah berbanding terbalik dengan dua seniornya Hanna Ramadhini, 22 tahun, dan Dinar Dyah Ayustine, 22 tahun.

Tidak ada yang  mencolok  pada penampilan kedua tunggal putri penghuni peringkat 34 dan 41 dunia tersebut.

Untuk turnamen sekelas GPG, superseries, dan superseries premier.

Prestasi tertinggi Hanna hanya menyentuh semifinal Syed Modi International GPG 2017.

Sisanya, Hanna hanya menembus babak 16 besar Malaysia Master GPG dan babak 32 besar di Singapura Open serta Indonesia Open.

Hal yang sama juga terjadi pada Dinar Dyah Ayustine, prestasi terbaiknya pada awal 2017 adalah menyentuh Quarterfinal Malaysia Master GPG 2017.

Lima turnamen yang diikuti lainnya seperti, Syed Modi GPG, All England, Swiss Open GPG, Singapura SS, dan Indonesia SSP hanya mampu dilalui hingga babak 32 besar sampai 16 besar.

Semoga saja, peforma Fitriani bisa terus menanjak. Lalu, dua senior, yakni Hanna dan Dinar  juga bisa bangkit dari keterpurukan.

 

Sumber foto : PBSI, BWF

Sumber Infografis : BWF

Infografis : pribadi

3 thoughts on “Menanti Kebangkitan Tunggal Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.