Tunggal Putra Indonesia Makin Tertinggal?

Srikatnh Kidambi, tunggal putra asal India itu menunjukkan taringnya pada tahun ini.

Melaju di tiga final super series, dia berhasil menggondol dua gelar diantaranya.

Seolah, sektor tunggal putra India ingin mengejar digdaya tunggal putrinya di kancah dunia.

Kidambi berhasil melaju ke final pada gelaran tiga super series tahun ini, yakni Singapura Open, Indonesia Open, dan Australia Open.

Dari tiga gelaran itu, hanya di Singapura Open Kidambi gagal mendapatkan gelar setelah dikandaskan rekan senegaranya, Sai Praneeth.

Dia kalah dalam tiga set oleh rekan senegaranya tersebut 21-17, 17-21,12-21.

Sisanya, dia berhasil konversikan menjadi gelar juara, di Indonesia Open.

Kala itu, Kidambi mengandaskan wakil Jepang Kazumasa Sakai dua set langsung 21-11, 21-19,

Lalu, di Australia Open dia menundukkan tunggal unggulan asal China, Chen Long dua set langsung 22-20, 21-16.

Kalau dilihat rekam jejak Kidambi empat tahun terakhir.

Selain dua gelar super series tahun ini, dia juga pernah meraih dua gelar super series lainnya, pada periode 2014 dan 2015.

Pada 2014, Kidambi berhasil melaju ke final China Open.

Dia berhasil menundukkan wakil tuan rumah Lin Dan dua set langsung 21-19, 21-17.

Kemudian, pada 2015 dia berhasil menang di kandang sendiri, yakni India Open.

Dia berhasil mengalahkan wakil Denmark Viktor Axelsen dalam rubber set 18-21, 21-13,21-12.

Gelar lainnya pada periode 2014 – 2017 diperoleh pada turnamen tingkat grand prix gold (GPG).

Kidambi mencatatkan lima gelar GPG dalam periode empat tahun terakhir tersebut.

Berbicara hasil tunggal putra, kondisi Indonesia tampaknya kebalikan dari India.

Indonesia masih belum mampu bangkit dari puasa gelar tunggal putra.

Trio tunggal putra muda Indonesia Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana pun sejauh ini belum terlalu bertaji jika menghadapi pemain kelas 20 besar dunia.

Dari segi hasil turnamen dalam kurun waktu 2014 – 2017, tercatat hanya Ihsan dan Jonatan yang mampu melaju ke final pada level GPG, walalupun belum mampu merengkuh gelar.

Lalu, Ginting masih belum mampu menembus final.

Untuk Ihsan, pencapaian hingga final itu pun terjadi pada 2015 di turnamen Thailand Open GPG.

Di final, dia dikalahkan tungga Korea Selatan Lee Hyun Il dalam rubber set 17-21, 24-22, 8-2.

Menariknya pada Thailand Open GPG, Ihsan berhasil menundukkan wakil Korea Selatan lainnya, yakni Son Wan Ho dalam dua set langsung 21-12, 21-12.

Namun, kini tunggal putra Korea Selatan itu sudah menduduki peringkat pertama dunia.

Lalu, Ihsan masih bertengger pada peringkat 46 dunia.

Sampai saat ini, head to head antara Ihsan dengan Son Wan Ho masih dimenangkan Ihsan dengan skor 2 – 0.

Dua kemenangan Ihsan itu diraih pada 2015 di Thailand Open GPG.

Selain itu, Ihsan mengalahkan Son di Macau Open dalam dua set langsung 21-15, 26-24.

 

BACA JUGA : Pelatih Perantau, Antara Tidak Nasionalis atau Tidak Dibutuhkan

 

Di sisi lain, Jonatan pun baru meraih final pertamanya pada gelaran Thailand Open GPG tahun ini.

Di final, dia dikalahkan wakil India Sai Praneeth dalam rubber set 21-17, 18-21, 19-21.

Sisanya, pada periode 2014-2017 belum pernah sekalipun menyentuh final di gelaran turnamen BWF baik GPG maupun Super series.

Saat ini, Jonatan memiliki peringkat tertinggi ketimbang dua rekan sejawat lainnya [Ihsan dan Ginting], yakni berada pada peringkat 24 dunia.

Lalu, untuk Ginting, sampai saat ini belum pernah menyentuh final GPG maupun Super series sekali pun.

Ginting pun saat ini sudah berada pada peringkat 26 dunia.

Permainan yang tidak konsisten, semangat bertarung yang kurang bergairah, gaya ‘anget-anget’ tai ayam, yakni permainan panas di awal, tetapi melempem di akhir, menjadi penghambat ketiga pemain itu untuk berkembang lebih cepat, setidaknya itu pantauan dari penulis selama ini.

Menariknya, ketika bermain grup, permainan ketiga pemain ini justru malah cemerlang dan bisa dijadikan andalan.

Tampak dalam beberapa turnamen beregu seperti Thomas Cup maupun Sudirman Cip, ketiganya bisa menghadapi pemain peringkat lebih tinggi.

Kritik Sang Legenda Tunggal Putra

Terkait polemik tunggal putra Indonesia, beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dari goal, Taufik Hidayat, legenda bulutangkis Indonesia, berkomentar setelah Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir merengkuh gelar Indonesia Open 2017.

“Meskipun sudah banyak gelar, semangat Butet [sapaan akrab Lilyana] untuk terus mendapatkan gelar juara begitu semangat sekali, semangat itu harus ditiru oleh pemain muda Indonesia,” ujarnya.

Taufik pun mempertanyakan perkembangan kiprah tunggal putra Indonesia.

Sektor itu disebut belum menunjukkan sinyal kebangkitan dan malah justru tertinggal dari negara lain seperti, China, Denmark, dan India.

“Terus kapan tunggal putra juara lagi?” tanyanya.

Lalu, dari instagram Taufik, dia juga menampilkan kutipan terkait bila seorang pemain ingin menjadi juara, maka dia harus punya karakter.

“Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky itu salah satu atlet bulutangkis yang punya karakter, saya juga punya karakter yang berbeda dari senior saya tersebut. Saya bukannya berontak, tetapi saya ngomong dari fakta apakah atlet itu berani jujur atau tidak. Mungkin kalau saya enggak begini, saya enggak akan jadi juara,” ujar sang legenda.

Selain itu, Taufik juga sedikit mengkritisi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang terlalu memanjakan tunggal putra untuk bermain di super series.

Padahal, untuk pembangunan mental, lebih baik tunggal putra Indonesia, terutama tiga pemain yang berada pada umur 19 – 21 tahun itu dimainkan pada turnamen lebih rendah dari super series, yakni GPG.

Mungkin, ditunggu ke depannya perkembangan dari tiga pemain tunggal putra Ihsan, Jonatan, dan Ginting.

Apakah bisa melaju ke final baik turnamen GPG maupun superseries ke depannya?

Ini bukan tuntutan dari supporter bulutangkis Indonesia yang haus akan gelar, tetapi dukungan agar mereka bisa lebih berprestasi.

“Toh, kalau berprestasi kan buat mereka juga,” ujar penulis hehe

“Satu hal lagi, umur boleh masih kisaran 19-21 tahun, tetapi jangan jadi alasan buat kalah dari pemain lebih senior. Kalau begitu akan tampak tidak kompetitifnya pemain Indonesia,” lanjut penulis hehe

 

sumber foto : http://badmintonindonesia.org/app/funstuff/photoDetail.aspx?/27026

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.