Ganda Campuran : Mencari Suksesor Sang Legenda

Ganda campuran menjadi salah satu sektor yang selalu diandalkan untuk memperoleh gelar dalam turnamen-turnamen level tinggi.

Lilyana Natsir, mungkin salah satu pemain ganda campuran paling senior saat ini dan masih terus memberikan kontribusi gelar.

Sampai-sampai pembicaraan forum pecinta bulutangkis China yang dilansir oleh akun instagram Badmintalk_com menyebutkan kalau Lilyana adalah ratunya di ganda campuran.

Hal itu bisa jadi tidak salah, apalagi Lilyana sudah memperoleh gelar di sektor ganda campuran, terutama Indonesia Open sejak 2005.

Kala itu dia yang masih belia sekitar 19 tahun berpasangan dengan seniornya Nova Widianto.

 

Setelah menjuarai Indonesia open 2017, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir kembali masuk ke peringkat lima besar dunia, yakni peringkat ke-3.
Infografik penampilan Tontowi Ahmad / Lilyana Natsir pada periode 2015-Juni 2017

Lilyana pun terus berkembang dan meraih gelar pasca berganti pasangan dari Nova ke juniornya, Tontowi Ahmad.

Sampai kemarin pada gelaran Indonesia Open 2017, Lilyana bersama Tontowi masih mampu meraih gelar setelah mengandaskan pasangan China Zheng Siwei/Cheng Qingchen.

Kalau dilihat secara statistik, penampilan Owi/Butet, sapaan akrab Tontowi/Lilyana sepanjang dua setengah tahun kebelakang, dari total 28 turnamen besar dari Grand Prix Gold, Superseries, sampai Olimpiade, mereka berhasil mengonversi 6 diantaranya menjadi gelar.

Dari 28 turnamen yang diikuti, hanya 6 kali pasangan andalan Indonesia sampai saat ini itu gagal dari babak 32 besar.

Dalam 2,5 tahun kebelakang, pasangan ini kerap tertahan pada semifinal dengan total 8 turnamen dari total 28 turnamen yang diikuti.

Kini umur Lilyana sudah menyentuh 31 tahun, sedangkan Owi sudah 29 tahun.

Lilyana pun disebut kemungkinan besar pensiun setelah Asian Games 2018.

Walaupun Susi Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), sempat mengatakan memberikan kesempatan bila pasangan Owi/Butet masih mau merasakan Olimpiade Tokyo 2020.

Namun, bila itu terjadi, Indonesia pun sesungguhnya harus sudah menyiapkan suksesor dari pasangan yang mungkin sudah bisa disebut legenda tersebut.

 

BACA JUGA : Mendorong Gairah Bermain Ganda Putri

 

Setidaknya, mencari junior yang bisa dipasangkan dengan Owi.

Sayangnya, uji coba pasangan Tontowi dengan Gloria Emanuelle Widjaja, 23 tahun bisa disebut gagal total.

Karakter permainan pasangan itu tampak berbeda sehingga sulit dikombinasikan,

Mungkin Owi bisa dicarikan pasangan dari junior yang lebih muda lagi seperti, ketika Nova dipasangkan dengan Lilyana.

Praveen Jordan / Debby Susanto masih kerap terhadang sampai perempat final pada turnamen periode 2015 - Juni 2017. Dari total 41 turnamen yang diikuti dalam dua setengah tahun terakhir, keduanya hanya mampu mengonversi menjadi gelar sebanyak dua turnamen
Infografik penampilan Praveen Jordan / Debby Susanto pada periode 2015 -2017

Di sisi lain, Indonesia sebenarnya masih punya pasangan ganda campuran yang bisa dijadikan andalan lainnya, yakni Praveen Jordan/Debby Susanto.

Sayangnya, Debby Susanto sudah santer disebutkan akan pensiun setelah Asian Games 2018 nanti.

Jadi, mau tidak mau PBSI juga harus mencarikan pasangan pengganti untuk Praveen.

Kalau dari sisi perkembangan penampilan Praveen/Debby dalam dua setengah tahun terakhir, dari total 41 turnamen yang diikuti, mereka berhasil melaju ke final sebanyak 9 kali dengan hasil 2 kali menjadi juara sisanya hanya menjadi runner up.

Pasangan yang belum lagi meraih gelar pasca menjadi kampiun di All England 2016 itu lebih banyak tersendat pada babak perempat final.

Tercatat dari 41 turnamen, 11 diantaranya keburu kalah di perempat final.

Sisanya, mereka kalah di semifinal sebanyak 6 kali, pada babak 16 besar 8 kali, dan pada babak 32 besar sebanyak 7 kali.

Hafiz Faizal / Shela Devi saat ini berada pada peringkat 25 dunia, mereka sempat berada pada peringkat 19 dunia pada 22 Desember 2016 sampai 19 Januari 2017
Shela Devi / Hafiz Faizal menjadi pasangan ganda campuran yang memiliki peringkat BWF tertinggi ketiga di bawah Tontowi Ahmad / Lilyana Natsir dan Praveen Jordan / Debby Susanto

Siapa Suksesor Ganda Campuran?

Lalu, kalau melihat deretan peringkat BWF, selain Owi/Butet dan Praveen/Debby sebagai wakil Indonesia yang memiliki peringkat tertinggi di BWF.

Ada Hafiz Faizal/Shela Devi yang menjadi wakil Indonesia yang memiliki peringkat tertinggi BWF ketiga.

Saat ini pasangan itu berada pada peringkat 25 dunia.

Nama ini mengalahkan nama-nama yang biasanya bercokol di 20 besar seperti Edi Subaktiar / Gloria yang peringkatnya menurun hingga ke 69.

Soalnya Gloria sempat di uji coba dengan Owi.

Padahal, Edi/Gloria sempat berada pada peringkat 12 dunia pada akhir tahun lalu.

Lalu, ada pula nama Ronald / Melati Oktavianti juga tengah merosot peringkatnya ke 27 dunia setelah sebelumnya sempat merasakan peringkat 14 dunia.

Selain itu, ada nama Riky Widianto/Richi Puspita Dili yang sempat berada pada peringkat 9 dunia.

Namun,  peringkatnya terus melorot pada tahun ini seiring dengan dicoretnya pasangan itu dari pelatnas Cipayung [Markas PBSI].

Intinya, sektor ganda campuran membutuhkan sosok regenerasi atau suksesor pengganti Owi/Butet dalam waktu dekat.

Dengan begitu proses regenerasi bisa halus seperti ketika Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dibubarkan.

Saat itu langsung ada penggantinya yakni, Marcus Gideon/Kevin Sanjaya.

Meskipun, regenerasi tanpa persiapan yang matang memang akan cukup sulit.

Semoga ganda campuran Indonesia tetap bisa menjadi andalan ke depannya.

 

 

sumber foto : PBSI

infografik : pribadi

sumber infografik : BWF, PBSI

4 thoughts on “Ganda Campuran : Mencari Suksesor Sang Legenda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.