Mendorong Gairah Bermain Ganda Putri

Pasca Nitya K. Maheswari menjalani proses pemulihan cedera sejak akhir tahun lalu, penampilan ganda putri seperti tak mengigit.

Bahkan, dalam beberapa gelaran turnamen awal tahun ini, sempat mendapatkan kritikan tajam dari tim pelatih.

Sampai data 22 Juni 2017, tiga ganda putri Indonesia dengan peringkat tertinggi BWF yakni, Della Destiara/Rosyita Eka peringkat 15.

Lainnya, Anggia Shitta/Ni Ketut peringkat 16, dan Tiara Rosalia/Rizki Amelia peringkat 23.

Dari rata-rata lima sampai enam turnamen yang diikuti ketiga pasangan itu sepanjang enam bulan pertam tahun ini, tercatat hanya Anggia Shitta/Ni Ketut yang mampu mencapai semifinal, sisanya keburu kandas di babak 32 besar, 16 besar, maupun perempatfinal.

Data tiga ganda putri Indonesia yang memiliki peringkat BWF tertinggi
Infografik kinerja ganda putri Indonesia periode semester I/2017

Anggia Shitta/Ni Ketut pun mencapai semifinal pada gelaran Indonesia Open 2017 kemarin dengan cukup dramatis.

Bermain pada jam tengah malam, melawan wakil Thailand Putita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai.

pasangan Indonesia kalah di set pertama dengan skor 13-21.

Tertinggal cukup jauh pada awal-awal pertandingan 2-7, membuat pasangan Indonesia tak berdaya hingga set pertama berakhir.

Drama dimulai pada set kedua, pasangan Indonesia ini kembali tertinggal 8-11 pada saat interval dan terus berlanjut hingga 8-12.

Tren ketertinggal poin terus berlanjut hingga 17-19.

Namun,  semangat pasangan Indonesia tersengat hingga mampu membalikkan keadaan menjadi 21-19.

Pertandingan pun lanjut ke set ketiga atau rubber set.

Pada set ketiga, pasangan Thailand seolah sudah kehabisan energi, tanpa perlawanan yang berarti pasangan Indonesia menang 21-13.

Kalau ditilik perkembangan peringkat, ketiga pasangan dengan peringkat tertinggi itu sempat kompak mengalami penurunan peringkat pada Mei 2017.

Kurang mengigitnya penampilan mereka menjadi salah satu faktor.

Selain juga mungkin pembatasan ikut turnamen oleh Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) karena penampilan yang di bawah ekspektasi.

Ganda Putri Bermain Lambat

Gaya permainan yang masih enggan menyerang lebih dulu, seperti yang diterapkan Della/Rosyita mungkin bisa menjadi salah satu faktor sulitnya pasangan ganda putri melaju lebih jauh dalam turnamen.

Dengan gaya permainan itu, membuat tenaga mereka terkuras walaupun di sisi lain lawan juga terkuras.

Pada perempatfinal Indonesia Open 2017, ketika Della/Rosyita berhadapan dengan pasangan China Luo Ying/Luo Yu.

pasangan Indonesia bermain terlalu berhati-hati dengan enggan memberikan tekanan ke lawan.

Beberapa penonton pun sontak meneriakkan, “Woy Sahur-sahur, bangun!!”

di sisi lain ada yang bilang “Ngantuk banget nih mainnya Della/Rosyita.”

 

BACA JUGA : Ganda Campuran, Mencari Suksesor Sang Legenda

 

Dalam hati penulis, dengan jarak antara penonton dan pemain di plenary hall JCC, Jakarta yang dekat pastinya mereka mendengar.

“Kasian juga kalau denger, sudah main perlahan biar menang malah disorakkin bikin ngantukm” dalam hati saja berujar.

Dengan gaya bermain pelan-pelan tidak terburu-buru menyerang memang bisa membuat lawan menjadi tidak sabar dan dari situ membuat kemenangan bisa diraih.

Namun, bisa jadi cukup menguras tenaga dan mental bila serangan lawan terlalu kuat sehingga jadi bumerang.

‘Kudu’ Berani Adu Serang

Di sisi lain, gaya permainan yang terkesan bertempo lambat itu pun dilakukan karena kalau melakukan adu serangan akan sangat sulit untuk menang.

Dulu, pernah ada tunggal putri yang memiliki gaya permainan bertempo lambat itu bisa melaju hingga semifinal kejuaraan dunia yakni, Lindaweni Fanetri.

Sayangnya, dia kandas di semifinal karena mengalami cedera.

Hal itu bisa jadi imbas karena staminanya terkuras dari gaya permainan bertempo lambat tersebut.

Anggia/Ketut memiliki gaya permainan lebih menyerang dibandingkan dengan dua pasangan ganda putri lainnya.

gebukan‘ Anggia maupun Ketut pun cukup tajam.

Walaupun pada semifinal Indonesia Open kemarin belum mampu menaklukan pasangan China Chen Qingchen/Jia Yifan.

Di luar itu, ada pasangan ganda putri lainnya yang tengah dalam sorotan terkait permainan yang menyerang dan penampilan yang terus berkembang, yakni pasangan senior-junior Greysia Polli/Apriani.

Semoga saja, ganda putri Indonesia bisa menyesuaikan gaya bermain dengan kondisi stamina sehingga bisa optimal sampai meraih gelar.

 

sumber foto : PBSI

Infografik : Pribadi

Sumber infografik : BWF, PBSI

1 thought on “Mendorong Gairah Bermain Ganda Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.