Bahasa Indonesia Identitas Nusantara

Saya masih memandang pemerintah harus ‘memberantas’ sekolah yang mengaku kelas internasional, tetapi hanya mengandalkan program bahasa inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Seolah, hanya dengan pengantar Bahasa Inggris, tetapi memiliki kurikulum yang tidak jauh berbeda dengan sekolah biasa, berarti sama saja bohong.

Bahasa asing sebagai pengantar hanya dijadikan promo yang menarik perhatian orang tua karena dinilai memiliki kasta yang lebih tinggi.

Polemik pandangan pendidikan bahasa asing punya kasta lebih tinggi ketimbang bahasa lokal sudah terjadi sejak dulu kala.

Hal itu terjadi sejak masa penjajahan Belanda, sekolah yang dianggap berkualitas tinggi itu menawarkan bahasa pengantar Belanda.

Semua itu berlaku baik untuk sekolah kalangan masyarakat Eropa, kaum priyayi, sampai orang pribumi.

Di luar pandangan kasta bahasa asing lebih tinggi, status bahasa itu punya peran kuat untuk doktrin budaya maupun identitas.

 

BACA JUGA : Bahasa Indonesia Bukan Sekedar Diakui

 

Dalam buku berjudul Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekarno karya Asvi Warman Adam, Bonnie Triyana, Hendri F. Isnaeni, dan M.F Mukhti menuliskan terkait Belanda yang melihat peluang proses ‘pem-Belanda-an’ atau Dutchification lewat keberadaan sekolah berbahasa pengantar Bahasa Belanda.

Pemerintah Belanda lewat Hindia-Belanda saat itu berusaha memperluas akses kaum priyayi dan orang kaya pribumi terhadap sistem sekolah Eropa  yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pengajaran.

Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan atau tidak ada pengajar orang pribumi, tetapi usaha itu dilakukan untuk menjalankan kebijakan asosiasi yang ingin meningkatkan penetrasi dari Dutchification.

Apalagi, priyayi dan orang kaya pribumi  kala  itu memandang penguasaan Bahasa Belanda sebagai cara untuk mempertahankan atau meningkatkan status sosialnya.

Hal serupa terjadi  pada saat ini, hanya saja berbeda bahasa, kalau saat ini semua berbondong-bondong  berlagak  berbahasa sehari-hari dengan Bahasa  Inggris.

Seperti, pada  beberapa  pusat perbelanjaan saja, saya melihat banyak sekali anak  kecil  yang berasal dari golongan menengah ke  atas tampak berkomunikasi dengan Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia.

Belum lagi di ranah pendidikan tinggi, saya pernah mendatangi sebuah seminar internasional.

Dalam seminar itu, narasumber semua dari Indonesia, peserta juga orang Indonesia, hanya satu orang asing yakni, sang moderator, tetapi bahasa yang digunakan dalam acara itu adalah bahasa Inggris.

Saya pun menilai keberadaan moderator dari pihak asing rasa-rasanya kurang tepat dan bisa menghambat komunikasi.

Namun, apa daya, demi syarat seminar internasional harus ada orang asing dan menggunakan bahasa asing.

Mungkin peduli setan dengan efektivitas komunikasi dan pesan yang tersampaikan pada seminar tersebut.

Lalu, di lain waktu, saya pun menghadiri seminar internasional salah satu perguruan tinggi di jakarta.

Saya sudah menebak, peserta pasti dari Indonesia, pembicara mayoritas dari Indonesia, ada satu pembicara dari asing yakni seorang profesor asal Malaysia yang bia berbahasa melayu.

“Kemudian, saya pun bertaruh, bahasa yang digunakan pasti bahasa Inggris,” ujar dalam hati.

Memang benar pula akhirnya, mereka semua menggunakan bahasa inggri terbata-bata dan campur aduk dengan dengan bahasa Indonesia.

Menariknya, satu-satunya narasumber asing di sana yakni sang profesor asal Malaysia justru menggunakan bahasa Melayu.

Setelah sang narasumber asing menggunakan bahasa Melayu, akhirnya seminar internasional itu pun sepenuhnya menggunakan Bahasa Indonesia.

Doktrinasi dan Identitas serta Bahasa Indonesia

Peran doktrinasi dan identitas bahasa itu pun juga digunakan Jepang ketika masuk ke Indonesia menggantikan Belanda.

Negeri Samurai itu langsung memberantas sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda dan Inggris, pilihan bahasa untuk pelajar pribumi adalah Bahasa Indonesia atau Bahasa Jepang.

Aksi itu dilakukan Jepang untuk menghapuskan pengaruh barat di Indonesia.

Bahkan orang Belanda pun dilarang menggunakan Bahasa Belanda, bila berkukuh menggunakannya akan dianggap musuh.

Sayangnya, saat ini bahasa Inggris dan asing lainnya justru menjadi tuan rumah di Indonesia.

Seperti, dalam melamar pekerjaan, yang diminta itu adalah Toefl, indikator kemampuan bahasa Inggris.

Malah, sangat jarang dan hampir tidak ada perusahaan yang meminta syarat skor kemampuan berbahasa Indonesia.

Bahkan, adapula perusahaan yang tidak mempunyai  hubungan dengan pihak asing dan fokus  pada penggunaan bahasa Indonesia lebih mensyaratkan skor  Toefl  ketimbang kemampuan berbahasa Indonesia.

Hal ini sudah menyiratkan dan kampanye  asing untuk membuat status  Bahasa Indonesia lebih rendah ketimbang Bahasa Inggris.

Apakah perlu  ada sebuah kebijakan dari pemerintah yang sifatnya memaksa bahasa asing hilang dari peredaran di Indonesia?

Mungkin agak sulit membayangkan keberanian pemerintah Indonesia melakukan hal tersebut.

Pasalnya, selain ancaman protes dari masyarakat yang ‘sok’ kebarat-baratan terkait pengekangan berkreasi, apakah pemerintah berani membuat para ekspatriat atau pekerja asing di Indonesia menjadi tidak nyaman?

Namun, lambat laun harus  ada kebijakan ke arah itu, minimal ke media  dari online, cetak, radio, dan televisi yang mewajibkan menggunakan Bahasa Indonesia.

Bukan apa-apa, dari bahasa, pihak asing bisa menguasai setiap detail  yang ada di  negara ini.

Peran media  sebagai komunikator dalam komunikasi massa sangat besar,.

Semakin gencar media massa mencampurkan bahasa Indonesia dengan Inggris, berarti semakin porak-poranda pula struktur Bahasa Indonesia.

Jangan sampai  50 tahun lagi Bahasa Indonesia menjadi kenangan, padahal Bahasa Indonesia adalah fenomena dunia ketika masa perang dunia dulu.

Pasalnya, Bahasa Indonesia itu lahir dan mempersatukan berbagai macam suku dan budaya dari sabang sampai merauke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.