Dana Haji untuk Pembiayaan Infrastruktur?

Banyak organisasi masyarakat yang menolak penggunaan dana haji untuk pembangunan infrastruktur.

Berbagai alasan mengemuka, tetapi apakah memang  penggunaan dana itu untuk keperluan negara sebuah kesalahan besar?

Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN)  menjelaskan secara ringkas kenapa dana haji sangat sesuai untuk pembiayaan proyek infrastruktur.

“Proyek infrastruktur itu membutuhkan pembiayaan jangka panjang, sedangkan kalau menggunakan dana dari tabungan, giro, dan deposito  perbankan tidak cocok karena tenornya jangka pendek dari satu bulan sampai tiga bulan,” ujarnya dalam jumpa pers peresmian komite nasional keuangan syariah (KNKS).

Dia menyebutkan, antara kebutuhan pendanaan infrastruktur dan instrumen penempatan dana haji itu pasangan yang pas.

Pasanya, dana untuk ibadah umat muslim itu membutuhkan penempatan pada instrumen jangka panjang

Dari sisi bankir syariah meluruskan, pengunaan dana itu untuk infrastruktur itu bukan berarti uang masyarakat digunakan langsung untuk membeli perlengkapan pembangunan infrastruktur.

“Dana haji itu akan digunakan lewat pembelian surat berharga syariah, seperti sukuk untuk pembiayaan infrastruktur,” ujarnya.

Dia melanjutkan, risiko yang didapatkan dengan menempatkan dana itu ke sukuk pun relatif kecil, terutama untuk proyek infrastruktur yang dijamin pemerintah.

“Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran dana haji akan hilang begitu saja,” lanjutnya.

 

BACA JUGA : Transfer Neymar, Bukti Kapitalisasi Sepakbola?

 

Penempatan dana haji untuk proyek infrastruktur pun ada beberapa opsi.

Pertama, bisa ditempatkan pada bank syariah, nanti bank syariah yang akan membiayai infrastruktur dengan dana tersebut.

dana itu bisa digunakan bank syariah  langsung untuk pembiayaan kepada debitur pengerjaan proyek atau dengan membeli sukuk proyek infrastruktur.

Adapun, ketika dana haji dibutuhkan untuk digunakan pada waktunya, bank syariah bisa menyiapkan dananya dari likuiditas yang ada atau dengan menjual surat berharga yang telah dibelinya.

Jadi, uangnya bisa langsung dicairkan untuk kebutuhan dana haji, tidak akan terhambat.

Kedua, dana itu juga bisa langsung dibelikan sukuk korporasi pelat merah yang mengerjakan proyek infrastruktur.

Nah, untuk opsi kedua bila dana dibutuhkan, tinggal dijual saja surat berharga sehingga dana pun langsung cair.

Ketiga, dana haji dibelikan sukuk yang diterbitkan perbankan syariah untuk keperluan pembiayaan infrastruktur.

Ketika dana haji dibutuhkan, seperti pada opsi kedua, tinggal jual di pasar sekunder dan dana pun langsung cair lagi.

Semua itu intinya memutarkan dana haji yang tadinya disimpan mengendap pada instrumen deposito bank konvensional untuk hal yang produktif.

Tantangan Mengelola Dana Haji

Sementara itu, perbankan syariah merasa ada tantangan besar ketika mereka ditunjuk sebagai pengelola dana haji untuk pembiayaan infrastruktur nantinya.

Tantangan itu yakni, tingkat imbal hasil yang bisa diberikan untuk penempatan dana itu, apakah bisa setara atau lebih besar dai deposito special rate bank konvensional?

Tingkat imbal hasil dibutuhkan dana haji untuk menekan biaya haji yang berpotensi naik ke depannya.

Selama ini, beberapa instrumen penempatan dana haji berada pada giro dan deposito perbankan konvensional dengan tingkat bunga spesial.

Dengan special rate berarti dana yang disimpan mendapatkan imbal hasil  di atas rata-rata biasanya.

Meskipun ada tantangan imbal hasil, tetapi salah satu bankir optimistis penempatan dana haji yang tadinya di bank konvensional akan mulai dialihkan ke bank syariah.

“Masa dana haji  disimpan di bank konvensional yang mendapatkan riba, nanti enggak sempurna  hajinya,” ujarnya.

Mengapa pemberian imbal hasil untuk dana haji menjadi tantangan bagi perbankan syariah?

Jadi, perhitungan imbal hasil dalam deposito perbankan syariah itu sifatnya floating atau berubah-ubah sesuai dengan kinerja bank syariah.

Hal itu yang membedakan dengan imbal hasil bunga deposito bank konvensaional yang tergantung suku bunga acuan Bank Indonesia dan likuiditas.

Nah, bank syariah harus pintar-pintar nih menyiapkan strategi kalau mau mengelola dana haji yang sedemikian besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.