Ajak Si Kecil Menabung Sejak Dini

Menabung itu adalah kebutuhan karena banyak barang-barang yang diperlukan, tetapi harganya lebih tinggi dari pendapatan sebulan.

Untuk menabung, harus pula menahan hawa nafsu konsumsi untuk barang yang tidak diperlukan.

Menabung memang bisa dibilang ‘sulit-sulit mudah’ jika tidak dibiasakan sejak dini.

Dengan sudah terbiasa sejak kecil, menabung di kala sudah dewasa pun bisa menjadi lebih mudah.

Anto, pegawai swasta di Jakarta, mengaku sejak kecil sudah terbiasa menabung.

Sejak sekolah dasar (SD), orang tuanya mengajarkan menabung dengan menitipakn uang untuk ditabung di koperasi sekolah.

“Setiap hari, saya diberikan uang Rp1.000 sampai Rp5.000 khusus untuk ditabung oleh ibu,” ujarnya kepada Bisnis pada Minggu (29/1).

Kala itu, Anto menceritakan aktivitasnya masa kecil itu pun  memicu persaingan dengan teman sekelasnya.

“Kalau nabung Rp5.000 dianggap orang kaya, yang jarang menabung disebut enggak punya uang. Dari situ, bersama teman-teman, kami bersemangat menabung walaupun masih dari uang orang tua,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Mulai sejak kelas 5 SD, Anto secara mandiri mulai menyisihkan uang dari sisa uang sakunya sendiri, bukan titipan dari orang tuanya.

Tujuannya, untuk membeli mainan yang diinginkannya.

Aktivitas itu berlanjut sampai dia kuliah, ketika pertama kalinya berkenalan dengan bank.

Dengan uang saku bulanan senilai Rp2 juta, Anto mengelola uangnya agar pengeluaran benar-benar untuk kebutuhannya seperti, makan, buku, tugas praktek, dan jatah hiburan.

Dengan terbiasa menabung, ketika sudah berkerja Anto tertarik menyimpan uangnya di beberapa produk bank seperti, deposito dan tabungan berjangka.

Dia menjelaskan deposito digunakan untuk menyimpan dana yang belum akan terpakai dalam jangka panjang, sedangkan tabungan berjangka digunakan agar bisa menyisihkan pendapatan bulanan secara otomatis ke rekening khusus produk bank tersebut.

“Kalau sudah kerja kan godaan konsumsinya semakin tinggi, jadi harus lebih ketat lagi pengelolaannya,” jelasnya.

Dia melanjutkan, dirinya juga tidak memikirkan tingkat bunga deposito dan tabungan berjangka karena tujuannya mengelola keuangan bukan investasi.

Bukan hanya Anto, Ririn, pegawai swasta, bercerita budaya menyimpan uangnya di mulai sejak dirinya dibelikan celengan berbentuk bebek oleh orang tuanya saat masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

 

BACA JUGA : Berburu Debitur Kredit Tanpa Agunan

 

Tabungan itu digunakan untuk membeli sesuatu yang sangat diinginkannya.

“Ketika kelas tiga SD, saya sudah tidak menabung lewat celengan lagi, mungkin merasa sudah dewasa.,” ujarnya.

Ririn mengaku sejak kelas tiga SD dia menyimpan tabungan di tempat khusus yang enggak perlu dipecahin kayak celengan kalau mau digunakan.

Lalu, dia  mulai berkenalan dengan bank pada kuliah, sedangkan saat ini ketika bekerja dalam mengelola keuangannya dengan mengandalkan produk deposito dan tabungan reguler.

“Alasannya, pilih deposito lebih karena aman untuk menabung, terus dapat imbal hasil juga,” ujarnya.

Menabung Lewat Simpel

Bila itu kisah pengelolaan keuangan pada masa anak-anak generasi 1990-an, berbeda dengan saat ini di mana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai produk simpanan pelajar (Simpel).

Produk khusus pelajar ini pun mempunyai karakter berbeda dengan tabungan biasanya, yakni setoran awal Rp5.000 dan setoran selanjutnya minimal Rp1.000 serta tidak ada biaya administrasi.

Adapun, OJK menyebutkan sampai Desember 2016, jumlah rekening Simpel sekitar 3 juta rekening dengan nominal Rp842,77 miliar.

Lalu, sampai September 2016, jumlah bank konvensional dan syariah yang menyediakan produk simpel ada sebanyak 51 bank, sedangkan untuk jumlah bank perkreditan rakyat (BPR) ada sekitar 150 BPR.

Vice President Consumer Deposit PT Bank Mandiri Tbk. (Persero) Setiyo Wibowo mengatakan mayoritas nasabah tabungan Simpel digunakan untuk menabung.

Jadi cukup jarang ada tarikan tunai. Sampai akhir tahun lalu, nasabah Simpel di bank dengan kode emiten BMRI itu sekitar 200.000 rekening.

“Lebih banyak setoran masuk, tetapi nominalnya kecil atau receh,” ujarnya.

Nah, jika orang tua zaman dulu mengajarkan anaknya menabung dengan memberikan celengan maupun ikut menabung di koperasi sekolah.

Untuk saat ini, para orang tua bisa mendekatkan anaknya dengan bank lebih dini lewat produk Simpel tersebut.

Jadi, biar masa depannya tidak seperti pribahasa, “Lebih Besar Pasak daripada Tiang,” untuk itu yuk ajak anak atau keponakan mulai mengelola keuangan sejak dini “Biar sedikit lama-lama menjadi bukit.”

 

*pernah diterbitkan di Harian Bisnis Indonesia

 

Sumber foto :

Apa Kata Mata Hati

1 thought on “Ajak Si Kecil Menabung Sejak Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.