DIGITAL NOMAD, Memburu Cuan Tanpa Kantor

Digital Nomad, awalnya saya kira istilah Nomad di situ seperti plesetan tren nonton bioskop zaman dulu, yakni Nomat alias nonton hemat.

Namun, ketika hadir pada acara bincang-bincang bertajuk how to earn money online as Digital Nomad yang diselanggarakan di Kolla, Sabang, Jakarta Pusat, baru mengerti artinya dari Digital Nomad tersebut.

Nomad yang dimaksud itu ternyata berarti nomaden alias tidak punya tempat tinggal tetap atau berpindah-pindah tempat.

Jadi, Digital Nomad dalam hal profesi bisa diartikan sebagai pekerjaan yang tidak memiliki kantor tetap seperti konvensional.

Dalam berkomunikasi dengan atasan, rekan tim atau sebagainya, para Digital Nomad akan memanfaatkan teknologi yang ada.

Pada bincang-bincang di Kolla itu, ketiga pembicara memaparkan kisah yang berbeda-beda tentang pengertian terkait Digital Nomad.

Rizki Suluh Adi yang disebut seorang startup builder, eks Lazada, Erajaya, Happyfresh, dan eBay mengaku, dirinya berpindah-pindah tempat kerja karena ingin mencari tantangan. Dia berpetualang dari bidang e-commerce sampai perusahaan ponsel karena ingin menjawab tantangan tersebut.

Sekarang, Rizki mengaku sebagai seorang konsultan media. Lalu apa yang diartikan Digital Nomad olehnya?

Dia tidak mendefinisikan secara khusus, pria yang pernah bekerja di Lazada itu hanya bercerita pengalamannya bekerja di e-commerce.

Rizki pun juga menjelaskan tentang petualangannya ke beberapa negara untuk mencari produk yang paling unik di sana.

 

BACA JUGA : Gara-gara Surat, Klub Liga 1 Mau Mogok

 

Setelah menemukan produk unik itu, Rizki akan mencari seseorang yang bisa membuat produk serupa, tetapi dengan sentuhan khas Indonesia.

Dia mencari para pengrajin atau seniman yang bisa membuat produk itu di wilayah Indonesia. Nantinya, produk itu akan di jual lewat media online dengan mengambil margin yag cukup tinggi.

“Dengan produk yang unik, kalau mencari konsumen di luar negeri bisa terjual dengan nilai tinggi,” ujarnya.

Dari pengalaman Rizki, bisa digambarkan Digital Nomad yang menghasilkan uang baginya adalah dengan mencari produk paling unik di setiap negara yang dikunjungi. Lalu, membuat produk serupa dan menjualnya lagi lewat situs e-commerce internasional.

Jauh berbeda dengan Rizki, pembicara kedua yakni, Mymi Larasati, seorang Digital Nomad dan TEDx Speaker, bercerita tentang pengalamannya sebagai pekerja lepas atau freelancer.

Sebagai pekerja lepas, Mymi mengaku bisa bebas memilih tempat kerja yang paling enak. Bisa di kafe sampai hotel di negara lain sekalipun.

Namun, dia menceritakan yang paling penting sebagai pekerja lepas sekaligus Digital Nomad adalah komunikasi harus lancar.

“Jadi, dengan pekerjaan yang mengandalkan teknologi digital. Komunikasi harus lancar agar klien puas,” ujarnya.

Agar komunikasi lancar, Mymi pun mengaku memiliki beberapa provider penyedia layanan wi-fi sekaligus.

“Memang jadinya ada biayanya, tetapi itu seperti menjadi konsekuensi karena memilih gaya Digital Nomad,” ujarnya,

Sebagai pekerja lepas dan seorang Digital Nomad, dia mengaku sudah keliling ke berbagai negara untuk mengerjakan berbagai proyek dari kliennya.

Mymi pun menceritakan, walaupun dengan status pekerja lepas, tetap harus memiliki visi atau tujuan ke depan.

Misanya, kalau pernah mengerjakan proyek klien sebagai bagian dari anggota tim selama beberapa kali, mungkin setelahnya harus memiliki tujuan agar bisa menjadi head of projectnya.

“Kalau awal kan biasanya kumpulkan portofolio dulu, kalau sudah bisa kejar proyek dengan posisi lebih tinggi. Jadi, punya jenjang karirnya,” ujarnya.

Berbeda dari dua pembicara sebelumnya, Aruga Prabawa, Presiden dari komunitas Komikinajah mengaku tidak seperti Rizki dan Mimy yang menjadi Digital Nomad dengan berpetualang ke berbagai belahan negeri orang.

“Kalau saya mah paling jauh juga ke Tangerang, itu pun sudah ngeluh jauh banget sama capek naik transportasi umumnya,” ujarnya sambil bercanda.

Bagi Aruga, Digital Nomad bukan berarti harus mengerjakan pekerjaan di luar seperti, kafe, dan sebagainya. Baginya, mengerjakan pekerjaan di rumah pun sudah termasuk istilah yang menjadi topik bincang-bincang kali ini.

“Ya, kalau gue kan kerjanya paling di rumah, kadang-kadang di rumah temen, terus di studio komik,” ujarnya.

Jadi Mau Bekerja Dengan Sistem Digital Nomad?

Kalau saya sendiri merasakan pekerjaan saat ini sudah seperti Digital Nomad.

Soalnya, setiap hari, posisi tempat mengerjakan tugas bisa berbeda-beda, dari kantor orang, kafe, rumah, dan kantor sendiri.

Namun, memang dalam kerjaan saat ini saya masih harus bekerja di kantor untuk absen jari minimal delapan kali sebulan.

Kalau kurang dari delapan, bisa kena potong gaji satu kali absen bisa kena rentang sekitar Rp150.000 sampai Rp200.000.

Adapun, dari acara di Kolla itu ada satu hal yang menarik, yakni terkait jenjang karir sebagai pekerja lepas.

Dengan ucapan Mimy terkait jenjang karir pekerja lepas seolah menjadi tren saat ini. Strateginya dengan mengumpulkan portofolio.

Lewat skema itu, seseorang bisa naik pangkat dengan cepat tanpa perlu berlelah-lelah kerja kantoran yang belum tentu naik pangkat dan gaji.

Dengan menjadi pekerja lepas pun bisa mengambil proyekan lain sehingga pendapatan lebih membumbung.

Kalau pun tidak suka dengan salah satu klien, bisa dilepas dan mencari klien lainnya.

Walaupun, saya sendiri masih kurang sreg dengan menjadi pekerja lepas seperti itu, pasalnya jaringan belum banyak juga sihhehe.

Namun, dari segi kepastian pendapatan menjadi salah satu kelemahan pekerja lepas ini.

Suatu saat, bisa saja mendapatkan pendapatan yang sangat banyak, tetapi ada pula waktu ketika kantong kering sekali.

Jadi, kalau kamu tertarik menjadi Digital Nomad sebagai pedagang, pekerja lepas, atau lainnya?

 

 

2 thoughts on “DIGITAL NOMAD, Memburu Cuan Tanpa Kantor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.