Gara-gara Surat, Klub Liga 1 Mau Mogok

Baru setahun sepak bola Indonesia lepas dari pembekuan FIFA, tetapi mulai muncul polemik antara klub liga 1 Gojek Traveloka dengan operator liga.

Sejak pekan lalu, sudah santer kalau 15 klub liga 1 mengancam mogok kepada PT Liga Indonesia Baru.

Apa masalahnya?

Kalau kata lagu Pretty Sister, Lagi-Lagi Uang, itu mungkin bisa digambarkan permasalahan dalam persepakbola Indonesia.

Dilansir dari beberapa media, 15 klub liga 1 disebut membentuk Forum Sepak Bola Profesional Indonesia (FKSPI).

Tujuannya untuk membuat aturan dan prosedur yang sudah ditandatangani sebelumnya bisa dijalankan dengan baik.

Salah satu anggota forum, Direktur Persija Gede Widiade menyebutkan, ingin menagih beberapa komitmen yang sudah dijanjikan oleh penyellenggara liga.

Beberapa komitmen itu seperti, keterbukaan sponsor, pengelolaan keuangan, dan pemberian subsidi untuk setiap klub.

Tuntutan dari 15 klub di Liga 1 itu juga berkaitan dengan tiga aspek, yakni bisnis, teknis, dan legal.

Klub Liga 1 yang protes itu menilai operator liga belum menjalankan ketiga aspek itu sesuai dengan harapan.

Surat Perjanjian Klub Liga 1

Untuk itu, 15 klub Liga 1 itu meminta sebuah surat dari operator liga yakni, Liga Indonesia Baru (LIB).

Dalam surat itu, ada detail penting terkait hak-hak setiap klub sebagai peserta liga tersebut.

Salah satu perwakilan FKSPI lainnya dari Media Officer Persipura Bento Madubun mengatakan, pihaknya hanya meminta sebuah surat yang ditandatangani oleh oleh LIB dan perwakilan klub sebelum kompetisi dimulai.

“Surat itu sangat penting bagi kami [klub Liga 1] karena tertulis hak-hak setiap tim di sana,” ujarnya.

Pada gelaran liga terdahulu, surat itu sudah diberikan oleh operator sebelum kompetisi dimulai.

Lalu, saat ini Liga 1 sudah berada dipenghujung musim, tetapi klub tidak mendapatkan surat yang menjadi daftar haknya.

Bento pun mengatakan, kalau surat itu enggak ada, bagaimana pihaknya bisa protes bila ada hal yang bermasalah.

Di sisi lain, dari pihak operator liga yakni LIB menyebutkan, surat yang diminta oleh para klub itu adalah club participating agreement.

Dalam dokumen itu disebut berisi tentang hak dan kewajiban dari peserta liga maupun operator.

Salah satu kewajiban operator adalah memberikan kontribusi atau dana sponsor liga kepada klub.

Pihak operator mengaku kontribusi dana sponsor sudah diberikan dan tidak pernah telat sejak kompetisi belum berjalan.

 

BACA JUGA : Sang Dokter Sepak Bola Indonesia

 

LIB sebagai operator mengaku memberikan keleluasaan kepada klub perihal penyerahan dokumen perjanjian.

Namun, dari sisi klub justru disebut menyerahkan surat itu ketika kompetisi sudah berjalan.

“Sebenarnya sebelum kompetisi berjalan surat itu sudah harus ada untuk buat pegangan kedua belah pihak,” ujar Direktur Operasional LIB Tigor Shalomboboy.

Lalu, terkait dokumen itu bisa dikembalikan atau tidak, Tigor menilai itu bukan menjadi masalah.

“Paling penting dokumen itu sudah ditanda tangani oleh klub dan operator jadi pihak yang sudah tanda tangan dapat menjalankan kewajiban dan mendapatkan haknya,” ujarnya.

Pertemuan yang Tertunda

FKSPI yang terdiri dari 15 klub itu pun mengaku sudah megajak LIB untuk berdiskusi terkait persoalan ini.

Sayangnya perwakilan LIB tidak bisa datang dengan alasan ada keperluan yang sangat penting.

Padahal, tugas LIB sebagai operator liga itu adalah mengurusi kompetisi dan klub.

Dengan begitu 15 klub Liga 1 ini merasa dianggap oleh sang operator.

Dalam rencana pertemuan itu, 15 klub Liga 1 itu berharap bisa meminta kepastian konkret.

Seperti terkait komitmen apa saja yang sudah dilaksanakan dan belum dilaksanakan.

Klub liga 1 Indonesia itu ingin ada keterbukaan antara peserta liga dan operator.

Di sisi lain, operator, LIB, mengaku sudah pernah berusaha mengumpulkan peserta liga sekaligus untuk beramah tamah.

Namun, dua kali rencana pertemuan itu gagal karena yang datang hanya segelintir peserta saja.

Tigor, pihak dari operator liga mengatakan, sekalinya mau merencanakan pertemuan lagi, malah pihaknya yang diundang dan berujung pada ancaman mogok.

Berbeda, dari pihak peserta liga mengaku saat putaran pertama selesai, LIB memang sempat mengundang untuk evaluasi.

Namun, dari salah satu perwakilan 15 klub yang mengancam mogok itu merasa evaluasi belum sempurna.

Siapa yang Salah?

Kalau menilik dari penuturan pihak operator, tampaknya dari pihak peserta liga juga sempat terlambat dalam menandatangani surat perjanjian keduabelah pihak tersebut.

Menariknya, ketika peserta liga meminta surat perjanjian itu, apakah surat yang ditandatangani cuma satu?

Jadi, peserta liga harus meminta suratnya kembali kepada operator untuk melihat hak dan kewajibannya.

Mungkin juga, peserta klub yang sempat terlambat menandatangani surat itu, membuat operator membutuhkan waktu untuk membubuhkan tanda tangannya juga.

Jadi, surat perjanjian untuk beberapa klub masih tertahan di operator sampai saat ini?

Soalnya, kalau surat perjanjian harus sama-sama dipegang oleh kedua belah pihak.

 

Intinya, mungkin ada uang yang tercecer hingga belum sampai ke tangan klub. Soalnya, kalau begini Lagi-lagi uang.

Sayangnya, komentar ketua PSSI bukannya meredam tensi malah meningkatkan emosi.

Ketua Umum PSSI malah sempat berujar kalau klub mogok dari liga, bubarkan saja Liga 1.

Omongan begini bisa menjadi masalah baru, dan mengancam industri sepak bola Indonesia.

Padahal tim nasional Indonesia baru saja mulai kembali ke kancah internasional.

Semoga persoalan surat ini tidak sampai kembali membuat FIFA membekukan PSSI ya.

 

 

 

 

 

1 thought on “Gara-gara Surat, Klub Liga 1 Mau Mogok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.