Wirausaha Sosial, Masih Segan Masuk Ke Bank

Menyatukan bisnis dengan aktivitas sosial menjadi wirausaha sosial itu sulit, karena bak air dan minyak yang saling berlawanan.

Namun, bukan berarti hal itu menjadi mustahil. Ada beberapa wirausaha sosial yang mengembangkan usaha dari aktivitas sosial tersebut.

Salah satunya, Greeneration yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan.

M. Bijaksana Junerosano, pengurus salah satu wirausaha sosial itu dengan semangat menceritakan salah satu perjuangannya yang bisa tercapai adalah diet kantong plastik.

“Pengelolaan sampah di Indonesia itu tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Pasalnya, sampah tidak didaur ulang, tetapi hanya ditempatkan di tempat pembuangan akhir (TPA).

Greeneration pun tidak hanya bersuara terkait masalah lingkungan, tetapi juga menjalankan beberapa lini bisnis.

Beberapa bisnisnya antara lain seperti, jasa konsultasi, menjual tas untuk dukung program diet kantong plastik, sampai produk daur ulang.

Sano mengatakan, pihaknya cukup banyak menerima jasa konsultasi dari pemerintah terkait pengelolaan sampah dan lingkungan.

“Soalnya, kami dinilai sering blusukan jadi bisa memberikan masukkan yang sesuai dengan kondisi lapangan,” ujarnya.

 

BACA JUGA : Menyicipi Bunga Deposito BPR

 

Selain Greeneration, ada juga Koperasi Kasih Indonesia (KKI), wirausaha sosial itu memiliki tujuan edukasi terkait keuangan kepada masyarakat.

Chief of Development KKI Sandra Restu Surya mengatakan, saat ini [Januari 2017] pihaknya telah merambah daerah Cilincing, Jakarta Utara.

Daerah itu di pilih karena dinilai tingkat kemiskinan masih tinggi serta masyarakat yang belum menyentuh produk bank atau unbankable masih banyak.

Sandra menuturkan, pihaknya mengedukasi sekitar 7.000 warga Cilincing tersebut.

Dalam mengedukasi mereka pun tidak langsung dengan mudah mengubah dari unbankable menjadi bankable.

“Untuk saat ini, mereka masih menabung pada arisan RT atau RW dan pilihan instrumen non bank lainnya,” tuturnya.

Walaupun masih dalam tahap proses menuju bankable, Sandra mengatakan, setidaknya mereka bisa belajar menabung.

“Jadi bukan sekedar meminjam saja,” ujarnya.

Lalu, pengusaha sosial lainnya datang dari sektor pertanian, yakni Pandawa Putra Indonesia.

Pandawa memiliki usaha menyiapkan perlengkapan produksi pertanian dari pupuk sampai pestisida organik.

Salah satu pengurusnya Nuha Hera Putri mengatakan,untuk omzet sepanjang 2016, pihaknya bisa mendapatkan sampai Rp1 miliar.

“Segmen yang kami incar itu rata-rata perkebunan skala besar. Untuk skala kecil masih belum ada sampai saat ini,” ujarnya.

Wirausaha Sosial Berharap Modal dari Investor

Mayoritas para pengusaha bidang sosial itu masih segan untuk mengajukan pinjaman kepada bank untuk modal usahanya.

Mereka lebih tergoda dengan tawaran investor yang mau masuk untuk mendukung bisnisnya tersebut.

Greeneration misalnya, Sano mengatakan, untuk kebutuhan modal, pihaknya mengandalkan dari hasil penjualan.

Selain itu, Greeneration juga mengandalkan investor yang tertarik menempatkan dananya di sana.

“Untuk cari modal dari bank, kami masih pelajari lebih lanjut terkait peluangnya. Soalnya usaha kami bisa dibilang terhitung masih baru kalau menggunakan akses bank,” ujarnya.

Lalu, untuk KKI justru mencatat pernah mencoba peruntungan dengan mengajukan pinjaman ke bank untuk permodalan.

Cerita Restu, sayangnya, mereka masih terkendala terkait agunan yang harus berupa aset likuid.

“Akhirnya, kami gunakan alternatif lainnya seperti, kalau ada donasi yang masuk langsung diterima saja,” ceritanya.

Dia pun menuturkan, sebenarnya dengan skema usahanya sebagai koperasi, pihaknya memiliki pendanaan dari anggota koeprasi yang ada.

“Namun, dengan cepatnya perputaran uang, kadang ada kebutuhan modal dari pihak lain,” tuturnya.

Begitu pula dengan Pandawa Putra Indonesia, wirausaha sosial itu belum pernah menggunakan akses perbankan sebagai penyokong permodalannya.

Hera menyebutkan, sebenarnya sempat ada rencana menggunakan akses perbankan buat modal, tetapi ada beberapa investor yang mengaku tertarik mendanai usaha ini.

“Jadi, kami pun cenderung pilih investor tersebut,” sebutnya.

Masih Sulit

Dari sisi perbankan pun mengakui masih cukup sulit untuk mendanai perusahaan rintisan atau wirausaha sosial.

Direktur Usaha Kecil Menengah (UKM) PT Bank DBS Indonesia Steffano Ridwan mengatakan, perbankan memang sulit untuk menyalurkan nasabah pada karakter nasabah seperti perusahaan rintisan tersebut.

“Bank itu high regulated, seperti pinjaman baru bisa diberikan bila bisnis debitur sudah berjalan selama beberapa waktu tertentu,” ujarnya.

Ridwan pun menyebutkan, untuk itu langkah dalam membantu pengembangan perusahaan rintisan maupun wirausaha sosial itu lewat program tanggung jawab sosial perseroan.

“Dengan program ini, kami berikan jaringan dan berbagai hal yang bisa membantu bisnis mereka,” sebutnya.

 

*diterbitkan Harian Bisnis Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.