Nge-Blog Lebih Mantap Bersama DomaiNesia

Menulis sudah menjadi hobi saya sejak kecil, hobi itu kian membara ketika banyak penulis buku lahir karena memiliki blog.

Sejak masih berseragam putih biru itu pula saya mulai nge-blog. Bahasannya? tentang negara, pemerintah, dan nasionalisme.

Jadi, saat itu saya tidak mengikuti tren yang mengisi blog dengan curahan hati atau cerita kehidupan pribadi.

Kayaknya sih, saya masih ketularan semangat reformasi pada 1998 sehingga gatal ingin beropini. Dari mengkritisi pemerintah, sistem asosiasi olahraga, sampai keberadaan pihak asing di negeri tercinta ini.

Saya masih merasakan bercuap-cuap di media sosial dari menggunakan Friendster, Multiply [yang ternyata buat dagang online], Liveconnector, dan beberapa platform blog gratisan lainnya seperti Blogspot.

Cerita menarik, dulu saya enggan menggunakan WordPress, alasannya kelihatannya sangat sulit untuk mengelola web berbasis WordPress bagi amatir seperti saya.

Lambat laun, akhirnya saya memutuskan hijrah dari Blogspot ke Wordpress setelah lulus kuliah.

Alasannya, tampilan WordPress tampak lebih menarik ketimbang Blogspot yang monoton.

Dari perjalanan panjang saya nge-blog, ada satu yang paling disesali.

Hal itu adalah menghapus postingan blog ketika masih SMP dan SMA. Saya melakukannya ketika menjadi mahasiswa.

Waktu itu, saya menghapus postingan tulisan waktu bocah karena ingin membuat pencitraan dengan konten blog baru.

Soalnya, saya melihat kok konten masa SMP dan SMA itu seperti alay [Anak Lebay].

Namun, apapun tulisan yang pernah dibuat itu sesungguhnya memberikan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

“Jangan pernah hapus tulisan apapun yang pernah dibuat, karena setiap tulisan punya cerita dan kenangan tersendiri. Tulisan apapun itu tidak lekang oleh waktu, bisa membuat menangis, tertawa geli sendiri jika membacanya di masa depan,” SURYA

Saya pun saat ini bekerja di sebuah surat kabar yang fokus memberitakan bidang ekonomi.

Dengan pendapatan dari pekerjaan saya itu, saya tertarik untuk membuat blog pribadi menjadi lebih serius.

Hal itu didukung oleh iklan di media sosial yang membuat saya semakin tergoda untuk mempunyai domain sendiri.

Namun, polemiknya adalah saya ini amatir dalam bidang perwebsite-an.

Jadi, kalau beli sendiri nanti bingung pula bagaimana menggunakannya.

Pertemuan dengan DomaiNesia

Sebelum bertemu dengan DomaiNesia, saya juga melihat iklan penyedia jasa domain dan hosting lainnya.

Kala itu, memang sedang banyak promo dari berbagai penyedia jasa dengan penawaran yang berbeda-beda.

Bahkan, beberapa diantaranya juga menawarkan jualbeli hosting yang langsung dibantu hubungkan kepada CMS blog seperti, WordPress.

Lalu, kenapa memilih DomaiNesia?

Ketika itu, saya lebih memilih DomaiNesia karena bahasa penjelasan yang diberikan dalam penawaran lebih mudah dimengerti.

 

BACA JUGA : Digital Nomad, Memburu Cuan Tanpa Kantor

 

Soalnya, kalau dari segi penawaran harga semuanya beda-beda tipis atau kompetitif sekali.

Selain itu, opsi penawaran produk dari ukuran hosting yang dibutuhkan juga mudah dipahami.

Jadi, bisa dibilang DomaiNesia ini benar-benar menyediakan hosting untuk pemula.

Bahkan, Domainesia juga mengedukasi kalau ternyata web apps untuk ngeblog tidak hanya WordPress.

Ada beberapa web apps yang dijelaskan di situs DomaiNesia seperti, Joomla, Drupal, dan Ghost.

Awalnya, saya tertarik menggunakan web apps Ghost, tetapi sayang setelah mencoba, saya tidak mengerti menggunakannya. Akhirnya kembali beralih ke wordpress.

Lalu, apa yang saya lihat ketika memilih hosting untuk blog pribadi saya?

Jujur saja, saya hanya melihat kapasitas bandwith yang diberikan dan ukuran memori.

Di DomaiNesia, saya menggunakan paket Super yang menawarkan memori 2 GB dan semua paket memiliki bandwith unlimited.

Kenapa saya fokus kepada bandwith? soalnya dulu pernah punya web dengan hosting berbayar, tetapi spesifikasi bandwithnya dibatasi.

Ternyata, ketika traffic yang di web saya meningkat drastis, tiba-tiba situs enggak bisa terbuka lagi. Saya sih berasumsi kalau itu disebabkan oleh bandwith yang terbatas.

Lalu, untuk alasan saya memilih ukuran memori 2 GB adalah karena perbedaan harga antara 750 mb dengan yang saya gunakan tidak terlalu jauh.

 

Membuat Website Sendiri

Sementara itu, setelah memilih hosting yang digunakan, pastinya pertanyaan atau tindakan selanjutnya adalah mau membuat website yang seperti apa.

Nah, kelebihan dari DomaiNesia adalah kalian bisa dengan mudah membuat website sendiri.

Kenapa? soalnya di DomaiNesia ini tersedia fitur Instant Deploy.

Fitur itu membantu masyarakat awam seperti saya dalam membuat website sendiri.

Dengan fitur itu, kita tidak usah membuat website dari nol, tetapi cukup memilih kategori yang diinginkan ketika melakukan pembelian hosting dan domain.

Jadi, dengan fitur Instant Deploy itu, kalian bisa memilih kategori website yang mau dibuat.

Beberapa kategori itu seperti, blog, toko online, developer, forum, dan sebagainya. Nantinya, disetiap kategori memiliki aplikasi yang sudah tersedia di DomaiNesia.

Misalnya, untuk kategori blog, kalian bisa pilih menggunakan WordPress, Drupal, Joomla, dan Ghost.

Lalu, untuk toko online kalian bisa pilih menggunakan Prestashop, OpenCart, Magento, maupun Lite Cart.

Kalau kalian pilih kategori developer, kalian bisa menggunakan berbagai framework seperti, Laravel, Codeigniterm Yii, serta Bootstrap.

Untuk ketegori forum ada pilihan aplikasi seperti phpBB, SMF, Vanilla, dan Moodle.

Nah, karena saya punya tujuan nge-blog, jadi saya pun pilih ketegori blog dengan aplikasi WordPress.

Adapun, dalam nge-blog saya cenderung memilih tipe yang menampilkan portofolio tulisan saya dikerjaan.

Selain itu, saya juga memanfaatkan blog sebagai wadah untuk mengekspresikan pikiran dan hobi.

Misalnya, seperti hobi saya menyaksikan bulutangkis, saya akan menulis beberapa pandangan tentang bulutangkis.

Begitu juga tentang sepak bola, film, anime Jepang, maupun pandangan terkait perekonomian dunia maupun dalam negeri.

Jadi, bukan tipe blogger yang fokus pada satu kategori seperti, food blogger atau travel blogger.

 

 

Kisah Bersama DomaiNesia

Setelah resmi menggunakan layanan DomaiNesia, beberapa bulan setelahnya ada yang aneh dengan blog saya.

Jadi, blog saya ini tidak bisa memasukkan media seperti gambar atau video ke dalam postingan.

Lalu, alat analisis traffic yang saya gunakan juga tampak eror. Akhirnya saya berasumsi permasalahan ini disebabkan oleh plugin analisis traffic tersebut.

Pertama, saya pun mencoba membenahi sendiri blog saya, sempat pula saya diamkan sehari karena berharap keajaiban tiba.

Namun, ternyata kondisinya masih eror juga. Saat itu, saya pun kalut dan panik.

Pengen coba layanan konsumen DomaiNesia, tetapi saya berpikir takut diribetin.

Soalnya, hal itu terjadi ketika saya menggunakan layanan konsumen pada jasa hosting website sebelumnya.

Saya sempat emosi dengan tim layanan konsumennya karena tidak layani dengan baik. Bahkan, ketika sudah membayar perpanjangan hosting malah sempat disebut belum bayar dengan ketus karena mereka merasa belum menerima pembayaran saya.

Namun, ternyata respons layanan konsumen DomaiNesia cukup responsif.

Akhirnya, dalam sejam, blog saya kembali normal dan tim supportnya menjelaskan permasalahan layaknya dokter.

Dari kejadian itu, saya benar-benar confidence menjadi salah satu konsumen dari DomaiNesia.

Selaras dengan itu, saya pun juga memindahkan layanan hosting website yang dibuat bersama teman-teman saya ke DomaiNesia.

Alasannya, layanan jasa hosting website saya yang sebelumnya mengalami kebangkrutan karena suatu dan lain hal.

Akhirnya, mereka pun meminta semua pelanggannya untuk segera mencari layanan jasa hosting lain.

Dengan butuh pindah layanan jasa hosting cepat, saya pun langsung memilih menggunakan jasa DomaiNesia.

Proses transfer domain dari layanan hosting lama ke DomaiNesia pun juga lancar. Jadi, Website saya itu bisa terus berjalan sampai sekarang.

Walaupun, perkembangan aktivitasnya agak terhambat karena kesibukan pekerjaan. hehe

Itu seribu satu cerita saya bersama DomaiNesia, kalau kamu?

 

sumber foto : Pexels

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.