Indonesia Lepas Dahaga, China Belum ‘Nemu’ Untung

Adu drive maupun smash dalam pertarungan antara Kevin Sanjaya/Marcus Gideon dengan Zhang Nan/Liu Cheng amat sengit. Permainan yang ketat itu pun berakhir dengan kemenangan pasangan Indonesia dua set langsung 21-16, 21-15 pada gelaran World Super series Final.

Kemenangan Kevin/Gideon berarti telah memecahkan telor Indonesia untuk kembali juara pada gelaran World Super series Final. Terakhir Indonesia meraih gelar pada turnamen ini pada 2015 silam.

Datang ke Dubai dengan tiga wakil yakni, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Praveen Jordan/Debby Susanto, dan Kevin/Gideon. Indonesia berhasil meloloskan dua wakilnya ke semifinal yakni, Tontowi/Liliyana dan Kevin/Gideon.

Sayangnya, hanya satu wakil yang berhasil melaju ke final, sedangkan Owi/Butet, sapaan Tontowi/Liliyana harus terhenti di semifinal.

Melaju ke final pun bukan hal mudah bagi Kevin/Gideon.

Berstatus sebagai Runner Up  dari Grup A, pasangan Indonesia itu kembali bertemu pasangan Jepang Takesih Kamura/Keigo Sonoda yang mengalahkan mereka pada babak penyisihan grup.

Bila dilihat dari segi waktu permainan, bisa jadi laga semifinal lebih berat ketimbang final yang bisa diselesaikan dalam 39 menit.

Adapun, waktu pertandingan sengit ganda putra antara Indonesia dan Jepang di semifinal menghabiskan waktu 1 jam 3 menit.

Sedikit kilas balik pertandingan semifinal, Kevin/Gideon mengambil set pertama dengan cepat setelah menang 21-10.

Namun, set kedua pertandingan lebih sengit lagi, dari pertarungan cepat hingga melambat.

BACA JUGA : Peluit Panjang untuk Praveen/Debby

 

Saat tertinggal 10-16, Kevin/Gideon bermain melambat, mereka memberikan ruang pemain Jepang untuk melakukan smash dengan memberikan bola lob.

Dengan strategi itu, pasangan Indonesia hampir mengejar poin Jepang sampai ada satu servis Kevin yang dianggap fault.

Hal itu telah mengubah alur permainan, Kevin/Gideon harus kalah 18-21 dan melanjutkan permainan ke set ketiga.

Pada set ketiga, ketika Kevin/Gideon tertinggal 3-4 dari Kamura/Sonoda tercipta sejarah baru.

Dalam satu rally pada sektor ganda putra tercipta 107 pukulan.

Banyaknya pukulan itu pun seiring dengan permainan lob yang sempat terjadi pada akhir set kedua dan berlanjut ke set ketiga.

Bedanya, pada akhir set kedua, Sonoda, salah satu ganda Jepang, masih meladeni lob dari pasangan Indonesia dengan smash.

Pada set ketiga, mereka yang mungkin sudah gempor ngesmash akhirnya membalas lob itu dengan lob lagi.

Usut punya usut, wasit pertandingan sempat menegur Aryono Miranat, asisten pelatih ganda putra karena permainan lob tersebut.

Namun, Aryono menjelaskan kepada wasit kalau itu bagian dari strategi, dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

Hasilnya memang akhirnya Kevin/Gideon berhasil menembus final untuk bertemu dengan Zhang/Liu dan meraih gelar juara.

Indonesia Sulit Menang Di World Super series Final

Keberhasilan Kevin/Gideon meraih gelar World Super series Final juga menjadi pelepas dahaga setelah Indonesia jarang sekali meraih gelar di turnamen super series penghujung tahun tersebut.

Terakhir, Indonesia meraih gelar juga di sektor ganda putra yang diberikan oleh Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan pada 2015.

Semua gelar juara Indonesia pada turnamen itu diraih oleh sektor ganda putra.

Gelar pertama Indonesia pada turnamen superseries final terjadi pada 2013 yang juga diraih oleh Hendra/Ahsan.

Sejak turnamen ini digelar pada 2008, entah mengapa Indonesia sangat sulit meraih gelar.

Pada 2008, Indonesia menempatkan 7,5 wakil pada turnamen itu dengan komposisi dua tunggal putra, dua ganda campuran, dua ganda putri, dan satu setengah ganda putra [Tony Gunawan sudah menjadi warga negara Amerika Serikat ketika berpasangan dengan Candra Wijaya].

Sayangnya, hasil pada gelaran perdana World Super series Final, Indonesia pulang dengan tangan hampa.

Dari 8 wakil, hanya dua wakil yang mampu ke final dan itu pun kandas yakni, Nova Widianto/Liliyana dan Vita Marisa/Liliyana.

4 wakil harus kandas di semifinal yakni, Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido/Hendra, dan Greysia Polli/Jo Novita.

Pada periode 2009 – 2012, Indonesia malah tidak menempatkan satu wakil pun di semifinal.

Baru pada 2013, dengan enam wakil di turnamen itu, Indonesia berhasil mendapatkan satu gelar juara dan satu runner up.

Hendra/Ahsan yang memecah telor dengan memberikan gelar, sedangkan Tommy Sughiarto kala itu harus kala di final.

Sayangnya, pada 2014, Indonesia kembali tanpa gelar maupun wakil di semifinal.

Baru pada 2015, Hendra/Ahsan kembali menyelamatkan muka Indonesia dengan meraih satu-satunya gelar saat itu.

Adapun, saat itu Indonesia meloloskan dua wakil lainnya ke semifinal, tetapi gagal melaju ke final.

Dua wakil itu antara lain Praveen/Debby dan Greysia/Nitya Maheswari.

Namun, pada 2016 kekeringan gelar World Superseries Final yang dialami Indonesia kembali terjadi.

Dengan empat wakil yakni, Owi/Butet, Praveen/Debby, Kevin/Gideon, dan Ricky Karanda/Angga Pratama. Indonesia hanya meloloskan satu wakil ke semifinal yakni, Praveen/Debby yang juga gagal melangkah ke final.

Mencari Keberuntungan Liliyana di World Super series Final

Liliyana menjadi salah satu pemain bulutangkis papan atas yang bermain sejak gelara World Super series Final pertama kali digelar pada 2008.

Namun, apa daya, Liliyana seolah selalu tidak beruntung di turnamen prestisius penghujung tahun tersebut.

Nasibnya seperti sulit juara pada gelaran itu, baik berpasangan dengan Tontowi, Nova, maupun Vita.

Pada 2008, Liliyana bermain rangkap pada ganda putri dan campuran di turnamen tersebut.

Bermain ganda putri bersama Vita dan ganda campuran bersama Nova, Liliyana berhasil mencapai final.

Namun, apa daya, mencapai dua final, tetapi Liliyana pulang dengan tangan hampa.

Bermain dalam  final sektor ganda campuran, Liliyana/Nova dikalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamila R. Juhl dalam pertarungan sengit tiga set 21-19, 18-21, 22-20.

Lalu, pada sektor ganda putri, Liliyana/Vita dikandaskan pasangan Malaysia Eui Hui Chin/Pei Tty Wong dalam 34 menit 15-21, 20-22.

Setelah menjadi Runner Up pada 2008, Liliyana absen mengikuti turnamen itu selama dua tahun.

Pada 2011, Butet, sapaan Liliyana, kembali bermain di turnamen itu dengan pasangan barunya, Tontowi.

Sayangnya, pada tahun itu Liliyana bersama Tontowi gagal total dalam turnamen tersebut.

Sempat menang melawan pasangan Inggris Raya Gabriel Adcock/Robert Blair dengan mudah pada grup A.

Pasangan Indonesia itu harus kandas pada dua pertandingan selanjutnya dari dua  pasangan China yakni, Xu Chen/Ma Jin dan Zhang/Zhao Yun Lei.

Hasil yang ditorehkan Liliyana bersama Tontowi di gelara World Superseries Final pun terus berlanjut sampai gelaran 2016.

Pasangan andalan Indonesia pada nomor ganda campuran itu selalu gagal lolos grup.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Liliyana/Tontowi berhasil lolos grup.

Sayangnya, impian untuk menjadi juara pada turnamen ini harus disimpan lagi. Pasangan Indonesia itu gagal melangkah ke final setelah dikandaskan pasangan China Cheng Qinchen/Zheng Siwei.

Kutukan Ganda Putra China

Berbicara belum menemukan keberuntungan di World Superseries Final bukan saja dialami oleh Liliyana, tetapi juga China.

Jika melihat tabel juara sepanjang gelaran ini diadakan, nama pemain asal China sudah pernah mencecap piala turnamen penghujung tahun tersebut.

Dari sektor tunggal putra, putri, ganda putri, dan ganda campuran, tetapi ada satu sektor yang belum pernah juara, yakni ganda putra.

Bila melihat rekam jejak perjalanan China di World Superseries Final, pada dua  tahun pertama turnamen itu digelar, Negeri Tirai Bambu selalu pulang dengan tangan hampa.

Baru muali sejak 2010, China terus meraih gelar pada semua sektor kecuali, ganda putra.

Dari periode 2010 sampai 2017, China telah meraih 17 gelar World Superseries Final.

Rinciannya, tunggal putra 3 gelar, tunggal putri 4 gelar, ganda putri 5 gelar, dan ganda campuran 5 gelar.

Di sisi lain, ganda putra China bukan tidak berprestasi pada World Superseries Final.

Secara keseluruhan, ganda putra China empat kali masuk final, yakni pada 2011, 2014,2015, dan 2017.

Sayangnya, semua kesempatan di final itu disia-siakan alias kalah dari lawannya.

Termasuk pada final tahun ini, upaya Zhang Nan dan Liu Cheng untuk menjadi ganda putra China pertama yang menjuarai turnamen besar di penghujung tahun itu pun sirna.

Namun, turnamen World Superseries Final yang hanya mempertemukan pemain papan atas dunia ini memang penuh kejutan.

Pemain yang sedang menduduki peringkat tiga besar dunia pun bisa digoyahkan oleh pemain peringkat di bawahnya.

Untuk kali ini, bisa dibilang wajah Indonesia bisa terselamatkan dengan tambahan gelar dari Kevin/Gideon, sedangkan China masih belum memecah kebuntuan pada sektor ganda putranya yang masih mandul gelar di turnamen besar tersebut.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.