Cinta Rupiah, Transaksikan dan Jangan Dilecek!

Terkadang ada saja orang yang kegirangan ketika rupiah melemah atau tengah menguat, soalnya bisa ambil untung dari sana. Namun apakah itu yang disebut cinta rupiah atau cuma sekedar seperti friend with benefit?

Masih teringat di benak saya, pada periode Agustus 2015, nilai tukar rupiah sempat menguat sedikit di tengah mata uang negara emerging market lainnya bergejolak.

Saat itu, di money changer kawasan Cikini dipadati hampir ribuan orang.

Hal itu dapat terlihat dari nomor antrian untuk transaksi jual dolar AS di bawah US$1.000 sudah mencapai nomor urut 853.

Lalu, untuk transaksi jual dolar AS di atas US$1.000 sudah mencapai nomor urut 100.

Padahal itu baru pukul 10:00 WIB pagi, atau baru satu setengah jam money changer itu dibuka.

Ramainya tempat penukaran valuta asing (valas) ke mata uang lokal dan sebaliknya itu dipicu oleh penguatan rupiah sepekan terakhir kala itu.

Beberapa panik takut nilai tukar rupiah menguat terus sehingga banyak aksi jual dolar AS.

Di sisi lain, beberapa mengambil kesempatan membeli dolar AS untuk kebutuhan bisnis ataupun simpan saja karena memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah.

Apalagi, kala itu tekanan eksternal masih begitu kuat setelah pemerintah China melakukan devaluasi yuan, dan Federal Reserve (the Fed), bank sentral Amerika Serikat (AS) masih sibuk merencanakan pengetatan moneter.

Walaupun, dari data bloomberg menunjukkan kala itu nilai tukar rupiah terus terjerembab hingga ke Rp14.693 per dolar AS pada akhir September 2015.

Nilai tukar rupiah pun kembali stabil memasukki pertengahan Oktober 2015, nilai tukar rupiah pun berangsur menguat ke kisaran Rp13.412 per dolar AS.

Kondisi itu pun berlanjut stabil hingga saat ini di mana nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp13.400 sampai Rp13.500.

Dampak Nilai Tukar Rupiah

ketika nilai tukar rupiah melemah, pasti kalimat yang muncul dari pihak pemerintah adalah melihat dampak positifnya.

Kalau rupiah melemah berarti pendapatan dari para eksportir akan naik. Soalnya, eksportir produksi dengan rupiah, pendapatan dengan dolar AS.

Jadi, dengan begitu, pelemahan rupiah membuat momentum bagus untuk menaikkan ekspor.

Namun, pelemahan rupiah berarti mendorong kenaikan juga pada harga bahan pokok yang diimpor.

Hal itu menjadi beban masyarakat yang mungkin salah satunya eksportir sehingga walaupun pendapatan naik, pengeluaran juga naik.

 

BACA JUGA : Berburu Debitur Kredit Tanpa Agunan

 

Walaupun, tampak seperti momentum untuk ekspor, tetapi dampak negatif bagi masyarakat keseluruhan.

Apalagi, perusahaan yang memiliki utang dolar AS yang besar atau pengusaha travel yang harus menaikkan tarif, pasti makin tertekan dengan pelemahan rupiah.

Sebaliknya, ketika rupiah menguat, para eksportir justru mencatatkan penurunan pendapatan bila dikonversi menjadi rupiah.

Meskipun, harga bahan pokok di dalam negeri pastinya akan mengalami penurunan juga.

Momentum penguatan rupiah juga bisa dijadikan waktu pelunasan utang bagi perusahaan yang punya eksposur utang valas cukup besar.

Selain itu, bagi perusahaan travel juga berkah karena tarif akan lebih murah dan pengaturan tingkat margin keuntungan bisa lebih menarik.

Di sisi lain, naik turunnya nilai tukar rupiah juga dijadikan ajang spekulasi bagi beberapa pihak seperti, trader mata uang.

Dengan naik turun rupiah, mereka akan melihat kemungkinan naik atau turun ke depannya sehingga bisa mengambil untung dari situ.

Rupiah Harus Stabil

Dengan potensi kenaikan pendapatan, apakah para pengusaha yang mengekspor barangnya menginginkan rupiah terus melemah?

Lalu, apakah perusahaan yang mempunyai eksposur utang dolar AS menginginkan nilai tukar rupiah naik turun seperti para pendaki gunung?

Kemudian, apakah tukang tahu tempe juga senang kalau rupiah kerjaannya naik turun tidak pasti?

Semuanya pasti berkata tidak, para pelaku usaha menginginkan pergerakan nilai tukar rupiah lebih stabil.

Pasalnya, dengan nilai tukar rupiah lebih stabil berarti bisa merencanakan ekspansi bisnis dengan mematok target pendapatan.

Bagi pedagang, mereka bisa menjaga harga jual tetap stabil tidak terganggu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kalau harga jual bahan pokok stabil, masyarakat pun akan senang karena bisa merencanakan keuangan pribadi untuk ditabung dan dianggarkan buat belanja.

Lalu, bagaimana membuat biar rupiah tetap stabil?

Pertama cinta rupiah dulu, lalu selaku masyarakat Indonesia ada satu hal yang bisa membuat rupiah stabil yakni, dengan bertransaksi di dalam negeri dengan menggunakan rupiah, jangan yang lain.

Dengan selalu bertransaksi menggunakan rupiah di dalam negeri, berarti kalian juga menunjukkan cinta kepada rupiah.

Bank Indonesia, selaku regulator sistem pembayaran, pun menegaskan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) no.17/3/PBI/2015 terkait transaksi dengan rupiah.

Bank sentral mengatur pada prinsipnya semua pihak yang bertransaksi di kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menggunakan rupiah.

Transaksi dalam rupiah itu berlaku baik dengan tunai maupun nontunai.

Tidak terkecuali juga untuk bertransaksi dengan pihak asing, tetapi masih di kawasan NKRI.

Walaupun, dalam PBI itu masih memperbolehkan melakukan transaksi dengan valuta asing untuk beberapa situasi.

Seperti, transaksi untuk anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), penerimaan atau pemberian hibah dari atau ke luar negeri, transaksi perdagangan internasional, simpanan valas di bank, dan transaksi pembiayaan internasional.

 

Uang Rupiah Jangan Dilecek atau Diremas

Sementara itu, bentuk cinta rupiah bukan saja dengan terus betransaksi menggunakan mata uang Indonesia itu di dalam negeri.

Namun, sebagai masyarakat juga harus menjaga bentuk uang rupiah, terutama yang kertas agar tidak lecek.

Soalnya, bila uang kertas itu lecek, kalian bisa mengalami kesulitan dalam mengecek keaslian rupiah tersebut.

Kan, kalau kampanye mengecek uang asli atau palsu itu dengan 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang.

Nah, kalau uang itu lecek, dalam proses dilihat, diraba, dan diterawang bisa jadi sulit untuk dilakukan.

Apalagi, BI juga menetapkan standar kelayakan uang rupiah.

Misalnya, untuk uang kertas, BI menetapkan uang layak edar yakni, uang rupiah asli, emisi uang rupiah masih berlaku, dan uang itu tidak mengalami kerusakan seperti, berlubang, sobek, diselotip, terbakar, atau hilang sebagian.

Uang rupiah pun tidak boleh ada noda coretan, lusuh, disambung, sampai unsur pengaman hilang.

Lalu, untuk uang logam layak edar, BI menetapkan uang logam tidak boleh berubah warna, hilang sebagian, terpotong, dan bengkok.

Adapun, untuk kalian yang tidak sengaja mendapatkan uang rupiah yang lusuh, cacat, sobek, dan sebagainya tetap tenang saja, karena kalian bisa menukarkannya kepada BI.

Kalian bisa menukarkan uang rupiah rusak ke kantor BI setempat atau ketika kas keliling bank sentral tersebut.

Nah, kalau rupiah terjaga dengan baik, kalian juga bisa mendeteksi itu rupiah ori apa kw.

Kalau dari data BI sampai Oktober 2017, tingkat keberadaan uang palsu menurun cukup drastis sebesar 31,56% menjadi 126.838 lembar dibandingkan dengan Oktober 2016.

Wah, penurunan itu berarti bisa saja menunjukkan kalau diantara kalian sudah mulai banyak yang cinta rupiah.

Jadi, rupiahnya dijaga dengan baik, jangan dolar AS saja dijaga baik-baik biar bisa tetap dituker di money changer ya.

Intinya, cinta rupiah dengan selalu bertransaksi menggunakan mata uang garuda itu di dalam negeri dan juga jangan buat dia lecek.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.