PBSI Bongkar Pasang Demi Dua Turnamen Besar

Bongkar pasang maupun degradasi-promosi pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI menjadi topik utama di penghujung tahun ini. Ada yang pergi, berpisah, dan kembali, semua itu dilakukan sambil menatap dua turnamen besar tahun depan yakni, Piala Thomas dan Uber, serta Asian Games 2018 Jakarta – Palembang.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Hendra Setiawan yang kembali turun gunung ke Cipayung pada akhir tahun ini.

Sebelumnya, Hendra memutuskan keluar dari pelatnas untuk kedua kalinya pada akhir tahun lalu.

Dia pun bermain secara profesional dengan berpasangan dengan pemain Malaysia, Tan Boon Heong.

Bersama pemain Malaysia itu selama setahun, Hendra langsung mencatatkan namanya pada peringkat 20 dunia.

Bukan hasil yang terlalu buruk bukan? pertama kali pasangan ini mencatatkan namanya di papan BWF, mereka berada di peringkat 250 dunia loh.

Ngomong-ngomong Hendra, sebenarnya pemain ganda putra yang sempat menjadi andalan itu pernah keluar dari pelatnas pada 2009.

Waktu itu, Hendra keluar dari pelatnas mengikuti jejak Markis Kido, pasangannya pada ganda putra, yang memilih jalur profesional.

Selain tetap bermain bersama Kido, Hendra juga mencoba peruntungan dengan bermain di ganda campuran.

Dia bersama pemain Rusia Anastasia Russkikh pun menjajal turnamen internasional pada periode 2010 – 2011.

Hasilnya, bersama Anastasia , Hendra pernah menyicipi menjadi Runner Up di Indonesia Open 2010 dan semi final All England 2011.

Selama berpasangan dengan pemain Rusia itu, Hendra mencatat peringkat tertinggi di posisi 34 dunia.

Berbicara ganda campuran, dari data BWF, Hendra juga pernah berpasangan dengan Vita Marissa pada Maret 2012 sampai Mei 2013.

Bersama Vita, Hendra mencatat peringkat tertinggi pada posisi 48 dunia.

Kemudian, pada 2012, Hendra pun memutuskan kembali ke pelatnas dan dipasangkan dengan Mohamad Ahsan. Hasilnya, dia kembali menjadi ganda putra ditakuti dunia bersama Ahsan.

 

Adapun, kembalinya Hendra ke pelatnas untuk kedua kalinya ini dengan posisi status magang di PBSI, dia akan dipasangkan kembali dengan Ahsan.

Dalam situs resmi PBSI disebutkan, tujuan diajak kembalinya Hendra ke pelatnas adalah untuk menatap proyek jangka pendek, yakni Piala Thomas 2018.

Pasalnya, dalam turnamen beregu dibutuhkan pemain yang berpengalaman seperti, Hendra.

Di sisi lain, pelapis ganda putra nomor satu Indonesia yakni, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon masih belum ada yang mumpuni.

Baik, Ahsan/Rian Agung Saputro, Angga Pratama/Ricky Karanda, maupun Fajar Alfian/Mohamad Rian masih labil permainannya.

Terutama Angga/Ricky yang dinilai kinerja merosot tajam hingga diputuskan untuk dipisahkan.

Pelatih pun melihat antara Angga dan Ricky sudah tidak ada rasa saling percaya dalam permainan sehingga lebih baik dibongkar.

Akhirnya, dengan Ahsan akan dikembalikan berpasangan dengan Hendra, Angga pun akan dikembalikan juga dengan pasangan sebelumnya, yakni Rian Agung.

Di sisi lain, Ricky Karanda menyebrang sektor lain, yakni Ganda Campuran dan berpasangan dengan Debby Susanto.

Praveen Jordan, pasangan Debby sebelumnya akan berpasangan dengan Melati Daeva.

Pemisahan Praveen/Debby bisa dibilang hampir mirip dengan kasus Rian/Angga.

Permainan Praveen/Debby dinilai stagnan sejak menjadi kampiun All England 2016.

Sempat menjuarai Korea Open pada tahun ini, tetapi hal itu ternyata bukan batu loncatan pelapis Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir tersebut.

Harapannya, pasangan baru pada ganda campuran yang dibentuk itu bisa menjadi pelapis dari Owi/Butet, sapaan Tontowi/Liliyana, pada Asian Games 2018

Jadi, peluang menjaga asa mendapatkan emas di kandang sendiri bisa tetap terjaga.

Tak hanya ganda putra dan campuran yang dibongkar pasang, ganda putri disebut ada rencana bongkar pasang juga.

Eng Hian, pelatih kepala ganda putri menyebutkan, akan bongkar pasang untuk menjadi pelapis dari Greysia Polli/Apriani Rahayu.

Dia mengaku membutuhkan tiga sampai empat pasangan yang akan dilihat siapa yang mampu memperebutkan tiket ke Asian Games 2018.

Dalam penentuannya, Eng Hian masih terus memantau perkembangan pada turnamen internasional di Januari 2018.

Degradasi Pemain Pelatnas PBSI

Dalam evaluasi pada akhir tahun ini, Persatuan Bulutangkis Seluruh indonesia (PBSI) memulangkan alias degradasi 15 pemain.

Dari sektor ganda putra, ada sosok Muhammad Bayu Pangisthu, pemain berusia 21 tahun itu menjadi salah satu yang dipulangkan.

Kalau melihat tren peringkat dunia pemain dari klub Djarum Kudus itu sepanjang tahun ini memang jauh dari kata memuaskan.

Mengawali tahun ini dengan berada pada peringkat 97, sampai akhir 2017 peringkat  Bayu malah terus melorot hingga 137.

Dari sisi perjalanan turnamennya sepanjang tahun ini, terakhir kali Bayu mengikuti turnamen adalah Indonesia Open Superseries Premier.

Pada gelaran turnamen di Jakarta itu, Bayu pun gagal masuk ke babak utama.

Setelahnya, dalam catatan BWF, Bayu tidak mengikuti turnamen apapun. Adapun, untuk turnamen sebelumnya, dia juga tidak memberikan hasil yang signifikan.

Dengan perkembangan yang cenderung menurun itu, wajar saja PBSI mendepaknya dari Cipayung.

 

Selain Bayu, ada beberapa tunggal putra lainnya yang didepak antara lain, Enzi Shafira (Mutiara Cardinal Bandung), Krishna Adi Nugraha (Jaya Raya Jakarta), Vega Vio Nirwanda (Mutiara Cardinal Bandung), Ramadhani Muhammad Zulkifli (Djarum Kudus).

Untuk tunggal putri, ada lima pemain yang didegradasi yakni, Isra Faradila (Exist Jakarta), Ghaida Nurul Ghaniyu (Djarum Kudus), Eprilia Mega Ayu Swastika (Exist Jakarta), Savira Sandradewi (Djarum Kudus), Gabriela Meilani Moningka (Jaya Raya Jakarta).

Pada  ganda putra ada satu pemain yang didegradasi yaitu, Kenas Adi Haryanto (Djarum Kudus). Lalu, di ganda campuran ada satu pemain yakni Shela Devi Aulia (Jaya Raya Jakarta).

Dari sisi ganda putri ada tiga pemain yakni, Tiara Rosalia Nuraidah (Mutiara Cardinal Bandung), Nisak Puji Lestari (Mutiara Cardinal Bandung), Ramadhani Hastiyanti Putri (Djarum Kudus).

Polemik Tunggal Putra

Di penghujung tahun, ada komentar dari legenda bulutangkis Indonesia yakni, Taufik Hidayat terkait perkembangan prestasi tunggal putra.

Dalam instagramnya, Taufik mengunggah gambar Kevin/Marcus dan memberikan selamat kepada ganda putra yang berhasil meraih gelar di World Superseries Final 2017 tersebut.

Di sela-sela ucapan selamat itu, Taufik dengan akun instagramnya @th_natanayo pun berkomentar “kapan bisa lihat tunggal putra bisa juara lagi dan stabil kayak ganda putra? siapa dan apa yang salah di tunggal putra? pelatihnya? pelatih fisiknya? atau nutrisi? apa mental pemainnya? tolong PBSI evaluasi yang maksimal dong. Apalagi mau Asian Games 2018 sebagai tuan rumah. Semangat terus pemain Indonesia. 

Suasana kian memanas setelah muncul berita dengan komentar Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI Hendry Saputra yang mengaku anak didiknya cukup hebat.

Hendry menyebutkan, tidak adil kalau melihat hanya dari sisi perolehan gelar saja.

Dengan menyebut harus dilihat secara komprehensif, dia mengingatkan torehan all Indonesia Final pada Korea Open 2017.

“Dengan umur Anthony (21 tahun) dan Jonatan (20 tahun), coba cek, pernah nggak all Indonesian finalNggak ‘kan? Saya lihatnya dari sisi itu, hebat sekali. Saya perlu acungi jempol untuk atlet saya,” ujarnya. 

Seolah merespons komentar Taufik, kalau dibandingkan dengan sektor boleh saja, tetapi juga harus dilihat dari sisi jam terbang, umur, dan latar belakangnya.

Hendry menyebut, kalau terus dibandingkan dengan sektor lain tidak masalah karena itu menjadi pemicu semangat ke depannya.

Harap Mulyo Kembali?

Selaras dengan komentar dari berita itu yang ditampilkan salah satu akun instagram, Taufik berkomentar pada postingan berita itu, “Hahaha bapak hendri pelatih tunggal putra malah ngeles ya, saya sudah minta sama PBSI untuk diganti, tapi enggak digubris juga. Coach Mulyo sempat diminta melatih tunggal putra, tetapi ada beberapa pengurus yang enggak suka dan akhirnya enggak masuk juga di PBSI. Dulu pernah bilang sama semua orang kalau tunggal putra punya potensi asal yang megang atau pelatihnya tepat, termasuk dukungan pelatih fisik dan nutrisi. Tapi, apa daya sama saja sampai sekarang.”

Komentar dari sang legenda itu pun memicu kontroversi di warganet pecinta bulutangkis.

Ada apa dengan Hendry Saputra yang masuk ke Pelatnas setelah membawa Simon Santoso kembali juara mengalahkan Lee Chong Wei pada Singapura Open 2014?

Lalu, siapa yang tidak suka dengan Mulyo Handoyo?

Sebelum Mulyo bergabung dengan India, sempat disebut eks pelatih Taufik itu menunggu pinangan pengurus baru PBSI di bawah komando Susi Susanti.

Namun, apa daya, tidak ada panggilan dari dalam negeri, India pun memanggilnya.

Nah, pecinta bulutangkis Indonesia sempat diberikan kabar gembira seiring isu Mulyo yang tidak perpanjang kontrak di India.

Dengan begitu, ada peluang tangan dingin Mulyo untuk memoles tunggal putra Indonesia.

Menanti Mulyo bukan hanya melihat sejarah sukses mengorbitkan Taufik saja, tetapi dia juga terbilang sukses mendongkrak peforma Kidambi Dkk, tunggal putra India sepanjang tahun ini.

BACA JUGA : Pelatih Merantau, antara tidak nasionalis atau tidak dibutuhkan

 

Sayangnya, kebahagiaan pecinta bulutangkis Indonesia masih hanya angan, isu beredar Mulyo akan menuju Singapura bukan berlabuh ke Indonesia.

Polemik dalam PBSI seperti ini sudah terlalu sering dan membuat prestasi jeblok. Seperti, ketika Taufik mau hengkang ke Singapura mengikuti jejak Mulyo. Sampai ketika menjadi veteran, kemunduran Taufik dari pelatnas juga dikaitkan dengan PBSI yang ogah memanggil Mulyo sebagai pelatih.

Sorotan Tunggal Putri

Bukan hanya Taufik yang gerah dengan prestasi tunggal putra. Melihat prestasi tunggal putri yang ‘begitu-begitu saja’ juga membuat gerah legenda tunggal putri.

Verawaty Fajrin, peraih gelar kejuaraan dunia 1980 menilai sektor ganda putri dalam kondisi kritis.

Bahkan, dia menyebut sosok Minarti Timur, yang kala bermain berada pada sektor ganda, itu kurang tepat.

“Latar belakang Minarti itu ganda, dan itu masalahnya. Seharusnya, PBSI juga berikan kesempatan kepada pelatih lainnya, enggak kurang kok pelatih yang bagus itu,” ujarnya yang juga sempat melatih di PBSI.

Komentar Verawaty terkait kondisi tunggal putri yang kritis pun bisa dibilang benar.

Setelah Lindaweny Fanetri dan Maria Febe mundur dari pelatnas, tunggal putri hanya menyisakan pemain muda seperti, Hanna Ramadhini dan Dinar Dyah Ayustine.

Sayangnya, dari hasil evaluasi, dua tunggal putri paling senior di pelatnas itu statusnya dalam pantauan selama 6 bulan.

Berarti jika tidak ada perkembangan, dua tunggal putri senior yang sempat bermain ganda bersama di Seagames itu bisa jadi didepak dari Cipayung.

Nah, dengan kata lain, PBSI tinggal mengandalkan pemain yang lebih muda lagi seperti, Fitriani, Gregoria Mariska, dan Ruselli Hartawan.

Saat ini, memang Fitriani yang menjadi tumpuan utama, tetapi permainannya kerap labil apalagi menghadapi lawan lebih tinggi seperti Pusarla V. Sindhu.

Menatap 2018

Polemik yang ada di internal tubuh PBSI mungkin berpotensi masih berlanjut, tetapi hal itu jangan sampai menganggu peforma pemain di dalamnya.

Bisa dibilang mayoritas pemain di pelatnas saat ini adalah pemain muda.

PBSI harus membuat mereka nyaman dan bisa berkembang dibalik masih banyak polemik di kubu PBSI.

Pasalnya, prestasi pemain pelatnas terhambat terkadang bukan dari faktor teknis, melainkan nonteknis.

Seperti, ketika Tommy Sughiarto yang memilih meninggalkan pelatnas. Dengan alasan tidak nyaman dengan atmosfer Cipayung.

Hal itu bisa berdampak sistemik, dengan keluarnya Tommy, kala itu Simon Santoso yang baru bangkit dan kembali ke Cipayung akhirnya kembali angkat kaki.

Alasannya, beban terlalu berat karena hanya dia pemain senior kala itu.

Akhirnya, Cipayung hanya mengandalkan tiga pemain muda yakni, Jonathan Christie, Antony Ginting, dan Ihsan Maulana.

Ketiganya pun belum menunjukkan permainan yang stabil.

Begitu juga tunggal putri pasca Mia Audina dipinang pria Belanda. Regenerasi tunggal putri sempat melompong sampai hadirnya Ardianti Firdasari dan Maria Christin.

Berburu gelar mungkin menjadi penting, tetapi menciptakan suasana yang nyaman [tidak hanya dinilai dari suasana fisik] serta sistem yang bisa mengembangkan pemain dengan baik juga lebih penting, terutama untuk perkembangan prestasi berkelanjutan Indonesia dalam jangka panjang.

Selain itu, seberapa efektifkah hasil evaluasi 2017 dan perubahan yang dilakukan PBSI pada 2018 untuk bisa meningkatkan kinerja pemain pelatnas? Nantikan saja hehe.

 

1 thought on “PBSI Bongkar Pasang Demi Dua Turnamen Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.