SKOR BARU, Bulutangkis Menarik atau ‘Kentang’?

Badminton World Federation (BWF) memutuskan untuk mengganti sistem skor pertandingan bulutangkis dari 21 poin x 3 set menjadi 11 poin x 5 set.

Keputusan ini sangat konstroversial, dari sisi pemain dan pelatih tidak menyetujui, tetapi federasi berkukuh tetap melakukannya demi pertandingan bulutangkis menjadi lebih menarik.

Namun, apakah benar pertandingan akan menjadi lebih menarik? Lalu apa dampaknya kepada para pemain?

Banyak pelatih yang tidak setuju dengan sistem 11 poin x 5 set karena para pemain biasanya baru bisa mulai menggenjot permainannya setelah poin 11. Bisa dikatakan, selama 11 poin awal, pemain masih beradaptasi dengan sisi lapangan yang dimainkannya.

Pasalnya, pemain harus beradaptasi dari kecepatan angin dan berbagai faktor teknisnya.

Jika hanya 11 poin kemudian tukar posisi sudut permainan membuat pemain harus beradaptasi lebih cepat dengan lapangan.

Kalau tidak, mungkin nantinya akan banyak poin 11-0 atau 11-1 dan poin dengan spread jauh lainnya karena keterlambatan seorang pemain beradaptasi.

Jika benar akan direalisasikan pada semua turnamen, sistem skor ini membuat pelatih dan pemain harus mengocok ulang strategi.

Pasalnya, dengan poin singkat hanya sampai 11, bukan hanya permainan menjadi lebih cepat, tetapi juga harus menjaga konsentrasi pemain terjaga setiap poin demi poin.

Lengah sedikit saja, berarti set akan hilang diambil pemain lawan.

BACA JUGA : Ganda Campuran, Mencari Suksesor Sang Legenda

 

Lalu bagaimana dengan kesiapan pemain bulutangkis Indonesia?

Bila menilik gaya permainan Kevin Sanjaya/Marcus Gideon yang terbiasa bermain cepat dan menyerang sejak menit awal tampaknya tidak akan terlalu bermasalah.

Ahsan/Rian pun memiliki gaya permainan cepat, dan Fajar/Alfian pernah meraih juara pada turnamen China Taipei yang menggunakan sistem skor tersebut.

Begitu juga, Lilyana/Tontowi, walaupun pasangan veteran ini kerap hilang fokus pada awal set.

Greysia/Apriani, pasangan junior senior ini tampaknya akan lebih terbiasa dengan gaya permainan set cepat 11×5 tersebut.

Para  tunggal putra pelatnas yang kerap disebut F3, Jonathan Christie, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana secara teknis harusnya bisa menyesuaikan diri secara cepat.

Hanya, tinggal konsistensi mereka bertiga yang harus bisa dijaga dalam menghadapi jumlah set yang lebih banyak. Agar bisa meraup kemenangan pada tiga set, jika konsistensi buyar, berarti akan sulit bagi mereka bisa meraih gelar.

Paling perlu diperhatikan adalah Praveen/Debby yang sering kehilangan konsentrasi.

Blunder pada pukulan Praveen bisa menjadi petaka buat pasangan ini. Sekali tertinggal jauh, set bisa melayang diambil lawan.

Untuk tunggal putri Indonesia justru menjadi perhatian dengan pergantian sistem skor tersebut.

Walaupun gaya bermain Fitriani maupun Gregoria juga lumayan cepat, tetapi keduanya kerap kehilangan fokus yang membuat perbedaan poin menjadi jauh.

Di sisi lain, gaya permainan Hanna Ramadhini dan Dinar Dyah Ayustine cenderung lambat.

Hal itu bisa menjadi petakan untuk dua pemain senior tunggal putri tersebut.

PBSI [Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia] harus memperhatikan ini dan menyiapkan strategi yang pas.

Pasalnya, pada tahun depan ada turnamen bergengsi di mana Indonesia menjadi tuan rumah, yakni Asian Games 2018.

Bila, pada Januari 2018 sistem skor itu mulai dijalankan, berarti para pelatih hanya mempunyai tujuh bulan untuk meramu strategi ciamik demi emas di Asian Games.

Permainan Bulutangkis Kurang Menegangkan

Sementara itu, dengan sistem skor baru ini, penulis melihat permainan bulutangkis bisa jadi kurang menegangkan.

Soalnya, ibarat baru nonton 10 menit pertandingan sudah kelar. Berbeda dengan poin 21 x 3 yang membuat berdebar-debar.

Pertandingan dengan poin 21 x 3 itu membuat menengangkan karena pemain yang tertinggal pada interval [poin 11] bisa bangkit mengejar lawannya.

Kebangkitan itu bisa berasal dari selesainya pemain beradaptasi dengan lapangan maupun pelatih yang membaca permainan lawan dan memberikan instruksi untuk mematikan lawannya.

Adapun, dengan poin 11 x 5 berarti sudah tidak ada interval. Jika sudah kalah 11 berarti selesai pertandingan.

Pelatih masih bisa memberikan instruksi setelah membaca pergerakan lawan untuk set selanjutnya, tetapi dari sisi pemain harus kembali beradaptasi dengan sisi lapangannya.

Di sisi lain, permainan lawan juga berpotensi berubah seiring dengan kondisi lapangan.

Mungkin permainan akan tampak lebih cepat, tetapi juga akan terasa ‘kentang alias kena tanggung.’

Tidak membuat debar-debar menantikan siapa yang akan menang.

Namun, belum tahu juga sih, kalau yang bermain pemain kelas dunia.

Berbeda ketika terjadi perubahan dari 15 poin x 3 set menjadi 21 poin x 3 set dengan rally poin.

Sistem rally poin memang membuat permainan lebih cepat dan menarik ketimbang sistem sebelumnya.

Sistem 15 poin x 3 set terasa lambat dan pemain yang sudah tertinggal akan kesulitan mengejar.

Soalnya, 15 poin itu menggunakan sistem pindah bola. Jadi, ketika service bukan pada pemain, saat dia memasukkan kok ke arena lawan tidak akan langsung terhitung menjadi poin.

Setelah poin lewat service baru pemain itu mendapatkan angka.

Dengan sistem itu, pada babak awal sebuah turnamen kerap muncul skor dengan spread jauh seperti 15-0, 15-1, dan sebagainya.

Semoga saja, dengan sistem baru ini bulutangkis benar-benar semakin menarik, bukan kentang.

 

 

 

1 thought on “SKOR BARU, Bulutangkis Menarik atau ‘Kentang’?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.