Bitcoin Menggeliat, Regulator Menghadang

sampai kapan bitcoin menggeliat?

Joshua, warga Jakarta, mulai mengenal Bitcoin sejak September 2017. Alasannya, instrumen uang virtual itu sangat menantang dari sisi risiko dan cuan yang bisa didapatkan.

“Saya lihat di sebuah media sosial ada kiriman teman tentang Bitcoin. Waktu itu harganya masih Rp40 juta per koin, tetapi setelah beberapa hari melihat harganya lain sudah melonjak menjadi Rp60 juta,” ujarnya pada Jumat (15/12/2017).

Sebelum memilih berkecimpung di salah satu mata uang crypto itu, dia sempat tertarik menempatkan dana di pasar modal.

Dia tertarik dengan instrumen saham, tetapi setelah berkonsultasi ternyata untuk main saham membutuhkan modal besar.

“Kata teman saya, kalau mau masuk pasar modal untuk bermain saham harus memiliki modal minimal Rp10 juta. Saya tidak punya uang sebanyak itu,” ujarnya.

Urung bermain saham, Joshua diajak berinvestasi di Gainmax capital market yang disebut mirip dengan reksadana.

Gainmax adalah perusahaan investasi trading online dengan instrumen saham global, komoditas, dan foreign exchange asal Inggris.

Joshua pun mengaku investasi di Gainmax kurang memuaskan karena kurang menantang. “Instrumen itu seperti untuk orang tua saja,” ujarnya.

Dia pun berkenalan dengan instrumen uang virtual yakni, Bitcoin, setelah beberapa pekan berinvestasi di Gainmax.

Apalagi, Bitcoin bisa dibeli tanpa harus ada minimum modal sehingga dia bisa menyisihkan uangnya untuk langsung ditempatkan di uang virtual tersebut.

“Saya membeli Bitcoin itu ketika harga berada di kisaran Rp52 juta per koin [harga Bitcoin per 20/2/2018 : Rp156,52 juta], tetapi saya tidak membeli per satu koin. Saya membeli per bagian nol koma sekiannya sesuai dengan uang yang tersedia,” ujar Joshua.

 

BACA JUGA : Waktunya Bank Berburu Fintech

 

Dia juga mengaku cukup lama dalam balik modal dan dapat untung dibandingkan pemain lainnya. “Soalnya, saya kurang berpengalaman juga dalam hal trading, jadi butuh waktu untuk belajar,” ujarnya.

Adapun, harga mata uang virtual yang cenderung fluktuatif tidak membuat Joshua gentar.

“Justru ketika harga lagi kenceng naik turunnya, itulah sisi menantangnya. Kondisi itu membuat saya harus di depan komputer terus untuk pantau pergerakan maupun berita yang mempengaruhinya,” ujarnya.

Namun, dia mengkhawatirkan kalau Bank Indonesia (BI) melarang aktivitas mata uang virtual tersebut.

Walaupun begitu, ketakutannya itu bisa diantisipasi dengan bertransaksi Bitcoin di luar negeri.

Bitcoin Masuk Ke Sistem Pembayaran?

Sementara itu, Bitcoin.co.id dalam situs resminya menampilkan video kalau uang virtual itu menjadi solusi sistem pembayaran yang efisien dan efektif.

Mereka pun secara gamblang menyebut rencana penambahan fitur untuk remitansi dan sistem pembayaran.

Untuk remitansi, Bitcoin mengklaim sudah bekerja sama dengan agen remitansi di Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

Bitcoin siap garap sistem pembayaran?
Bitcoin menjamah masuk sistem pembayaran seperti, remitansi dan sebagainya, tetapi sejumlah bank sentral melarangnya.

Dengan sistem Bitcoin disebut remitansi berbiaya lebih murah mendekati Rp0 dan kecepatan transaksi satu hari bisa selesai.

Dalam video perkenalannya itu, Bitcoin.co.id pun meminta dukungan terhadap Revolusi Bitcoin Indonesia Movement dengan mimpi bisa memberikan fitur sistem pembayaran yang efisien dan efektif.

Dalam catatan Bisnis Indonesia, CEO Bitcoin.co.id Oscar Darmawan menyebutkan, anggotannya saat ini sudah mencapai 700.000 orang, tanpa detail seberapa besar yang masih aktif. Pada situs resminya disebut sudah ada 745.897 anggota yang tergabung.

Kalau dilihat, strategi salah satu mata uang virtual itu seperti membuat masyarakat kecanduan yang tertantang untuk mendapatkan untung besar.

Setelahnya, uang virtual itu masuk ke bisnis sistem pembayaran dengan basis yang lebih kuat untuk bersaing dengan penyedia jasa pembayaran konvensional.

Bitcoin Dilarang Secara Tegas

Bank Indonesia, selaku regulator, sistem pembayaran pun melarang transaksi keuangan dengan menggunakan Bitcoin.

Alasan utamanya terkait perlindungan konsumen dan mata uang virtual itu tidak diakui di Indonesia.

Pekan lalu, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Eni V. Panggabean menegaskan, posisi bank sentral saat ini masih melarang transaksi keuangan dengan menggunakan Bitcoin.

“Korea Selatan, Australia, dan New Zealand sudah melarang penyedia jasa sistem pembayaran bertransaksi menggunakan uang virtual. Kalau dilihat aturan fundamental yang paling kuat adalah transaksi yang sah di Indonesia hanya menggunakan mata uang rupiah,” tegasnya.

Eni menyebutkan, dari sisi pergerakan nilai yang fluktuatif pun sangat meragukan perlindungan konsumen.

“Kami melarang jasa sistem pembayaran bertransaksi dengan mata uang crypto itu, dan tidak mengakuinya sebagai alat pembayaran serta tidak ada otoritas yang mengatur bila fluktuasi harganya bisa merugikan perekonomian,” sebutnya.

Bank sentral Indonesia itu pun juga sudah melarang teknologi finansial (Tekfin) untuk bertransaksi menggunakan uang virtual tersebut.

Eni menuturkan, saat ini pihaknya pun masih terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementrian Komunikasi dan Informasi terkait status mata uang Crypto sebagai objek komoditas investasi.

Dengan masifnya peminat mata uang virtual, regulator tampaknya harus bertindak cepat sebelum basis mata uang Crypto semakin kuat untuk menguasai sistem pembayaran di Indonesia.

Apalagi, segmen yang tertarik membeli mata uang virtual itu dari usia muda produktif yang kerap merasa tertantang.

 

Sumber foto : Bitcoin, Uzone

Ket. terbit di harian Bisnis Indonesia

2 thoughts on “Bitcoin Menggeliat, Regulator Menghadang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.