Thomas Cup 2018, Menakar Peluang Indonesia

THOMAS Cup 2018 akan digelar di Thailand pada Mei nanti. Bagaimana peluang tim putra Indonesia setelah menjuarai turnamen beregu Asia kemarin?

China dan Denmark masih akan menjadi lawan terberat Indonesia di gelaran Thomas Cup tahun ini.

Indonesia meraih juara pada gelaran turnamen beregu Asia pekan lalu setelah mengalahkan China 3-1.

Namun, hal itu tidak berarti peluang merengkuh Thomas Cup menjadi mudah.

Soalnya, pada gelaran turnamen beregu Asia, China hanya menurunkan pemain kelas dua.

Pada sektor tunggal, China membawa tiga pemain yakni, Shi Yuqi, Qiao Bin, Lu Guangzu dan Zhao Junpeng.

Shi Yuqi menjadi pemain China dengan peringkat 7 dunia, dia menjadi pemain China dengan peringkat tertinggi.

Qiao Bin menghuni peringkat 27 dunia, Zhao Junpeng berada diperingkat 66 dunia, dan Lu Guangzu menjadi pemain dengan peringkat terendah yakni 196 dunia.

Padahal, China masih memiliki Chen Long yang berada pada peringkat 4 dunia, meskipun memang permainannya tengah menurun pada awal tahun ini.

Selain itu, ada pula Tian Houwei yang memiliki peringkat lebih tinggi dari Qiao Bin yakni, berada pada 23 dunia.

Pemain veteran Lin Dan yang masih bertengger di peringkat 6 dunia pun bisa saja kembali dimasukkan ke dalam tim.

Walaupun, karakter China lebih suka menurunkan pemain mudanya ketimbang mengandalkan veteran.

Pada sektor ganda, China pun benar-benar menurunkan pemain kelas dua yakni, He Jiting/Tan Qiang yang berada di peringkat 37 dunia dan Han Chengkai/Zhao Haodong yang berada di peringkat 42 dunia.

Padahal, China punya ganda putra peringkat 3 dan 4 dunia yakni, Li Junhui/Liu Yuchen dan Liu Cheng/Zhang Nan. Selain itu, China juga memiliki ganda putra peringkat 19 dunia yakni, Huang Kaixiang/Wang Yilyu.

Adapun, skuad tim putra Indonesia dari sektor tunggal putra sudah menurunkan pemain andalannya.

Tunggal putra andalan Indonesia itu kerap disebut F3 yang terdiri, Jonathan Christie, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana.

Ginting menjadi pemain tunggal dengan peringkat tertinggi yakni, berada di 9 dunia, sedangkan Jonathan dan Ihsan berada di peringkat 13 dan 36.

BACA JUGA : PBSI Bongkar Pasang Demi Dua Turnamen Besar

 

Selain itu, kekuatan sektor tunggal ditambah Firman Abdul Kholik yang bertengger diperingkat 80 dunia.

Pada sektor ganda, Indonesia membawa tiga pasang yakni, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon, Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan, dan Rian Agung/Angga Pratama.

Kevin/Gideon memiliki peringkat 1 dunia dan menjadi yang tertinggi di tim Indonesia.

Lalu, Hendra/Ahsan dan Rian Angga masih belum memiliki peringkat karena baru disatukan kembali.

Namun, rekam jejak kedua pasangan itu sangat bagus ketika dipasangkan sebelumnya.

Adapun, memasuki babak perempat final, Indonesia harus tanpa Marcus yang disebut mengalami cedera.

Pada semifinal, Kevin/Marcus pun dipulangkan untuk memfokuskan diri kepada All England yang akan digelar sebentar lagi.

Saya melihat dengan skuad Indonesia melawan China kemarin, seharusnya pemain Indonesia bisa menang 3-0 tanpa ada satu pertandingan yang harus melalui rubber set.

Sayangnya, Ginting yang dua kali mampu kalahkan Chen Long pada awal tahun ini malah kalah dari Qiao Bin.

Ginting kalah dari pemain China peringkat 23 dunia itu lewat rubber set 12-21, 21-11, 14-21.

Di sini, Ginting kembali menunjukkan tidak konsistennya.

Walaupun, pemain tunggal putra Indonesia yang memiliki peringkat tertinggi itu tengah kurang fit pada pertandingan sebelumnya.

Di sisi lain, Jonathan justru mampu membungkam Shi Yuqi yang memiliki peringkat ke-7 dunia dalam rubber set 16-21, 21-17, 21-18.

Jonathan pun diharapkan bisa terus konsisten dalam menghadapi pemain-pemain peringkat 10 dunia, tetapi tidak boleh lengah juga seperti Ginting ketika menghadapi pemain dengan peringkat lebih rendah.

Lalu, pemain ganda Indonesia bisa menang mudah melawan pemain China pun jelas karena unggul dari sisi pengalaman.

Gado-gado Hendra, Ahsan, Rian, Angga bisa jadi strategi jitu untuk membingungkan lawan, meskipun bisa juga menjadi bumerang.

Bila bisa membungkam China di babak awal, Indonesia bisa saja kembali membuat drama final melawan Denmark seperti dua tahun lalu.

Apalagi, Denmark punya kekuatan andalan di tunggal yakni Viktor Axelsen yang meraih gelar juara dunia tahun lalu.

Pada dua tahun lalu, Indonesia kalah dari Denmark di final dengan skor 2-3.

Kekalahan Indonesia disebabkan sektor tunggal yang sama sekali tidak mendapatkan poin.

Nah, untuk bisa menjadi pemenang, sektor tunggal diharapkan sudah bisa berkembang jauh sepanjang dua tahun terakhir sehingga bisa mengantisipasi pemain-pemain peringkat 10 besar.

Thomas Cup untuk Tommy Sugiarto?

Berbicara sektor tunggal, Indonesia masih memiliki satu pemain berpengalaman yakni, Tommy Sugiarto.

Saat ini, anak Icuk Sugiarto itu menghuni peringkat 30 dunia.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah Tommy masih layak untuk bergabung dengan tim Piala Thomas tahun ini?

Saya pun berpendapat sebaiknya Tommy tidak dibawa PBSI ke dalam tim Piala Thomas 2018.

Alasannya, Tommy tidak akan menjadi tunggal pertama Indonesia karena saat ini ada dua pemain yang berada di peringkat lebih baik seperti, Ginting dan Jonathan.

Apalagi, Ginting, Jonathan, dan Ihsan sudah memiliki pengalaman Piala Thomas 2016 sehingga tidak ada alasan untuk memasukkan Tommy.

Andaikan, Tommy memiliki peluang memberikan poin kepada Indonesia sebesar 90% mungkin dia masih layak masuk sebagai tunggal pertama.

Namun, Tommy pun permainannya sudah menurun dan kerap keok di babak awal turnamen BWF.

Pilihan lainnya, Firman Abdul Kholik bisa menjadi pilihan tunggal ketiga bersaing dengan Ihsan Maulana.

Apalagi, Firman bermain cukup apik saat melawan Korea Selatan, setelah tertinggal jauh di poin kritis bisa menikung dan membawa Indonesia ke final.

Bila membawa Firman ke Piala Thomas 2018, Indonesia pun menambah satu pemain tunggal yang berpengalaman melakoni laga di turnamen beregu putra tersebut.

Sumber foto : PBSI

 

 

2 thoughts on “Thomas Cup 2018, Menakar Peluang Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.