Tips Agar Naik Commuterline Nyaman

Pengguna Commuterline tampak bertambah banyak, saya berasumsi seperti itu karena melihat di parkiran motor stasiun Poris yang selalu penuh ketika memasuki pukul 11:00 WIB. Akhirnya, motor saya pun diparkir di pinggir jalan kecil terlebih dulu sampai nanti ada parkiran kosong.

Sebelumnya, saya masih mendapatkan tempat parkir walaupun berangkat siang sekitar jam 12:00 WIB.

Jumlah penambahan penumpang itu pun belum menghitung dari pengguna angkutan umum yang beralih ke kereta listrik Jabodetabek tersebut.

Semakin banyak penumpang, berarti semakin besar tantangan pihak Commuterline untuk mendisiplinkan konsumennya. Pasalnya, konsumen yang disiplin akan berimbas baik juga kepada mereka [konsumen] yakni, mendapatkan kenyamanan sepanjang perjalanan dengan kereta listrik tersebut.

Beberapa bulan terakhir, copet yang tertangkap di Commuterline diberikan hukuman sosial berupa dikasih papan nama yang bertuliskan “Saya Copet.”

Hasilnya membuktikan, ternyata copet di Commuterline itu tidak hanya dari laki-laki saja, tetapi juga ada perempuan muda yang tertangkap basah menyopet penumpang kereta listrik tersebut.

Begitu juga terkait aturan dilarang merokok di peron stasiun dan kereta listrik, pihak Commuterline cukup tegas soal ini.

 

BACA JUGA : Lima Fakta Derby Della Mole, Antara Si Zebra vs Banteng

 

Saya pernah melihat beberapa kali bapak-bapak yang nekat merokok akhirnya diarak ke ruangan petugas stasiun.

Intinya sih, jangan merokok di peron stasiun karena itu ruang publik dan banyak anak kecil. Masa, perokok yang asapnya bisa membunuh orang di sekitarnya itu mau dibiarkan saja, hehe.

Adapun, beberapa hal yang dibenahi lagi oleh pihak anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero) itu adalah terkait kebiasaan membuang ludah sembarangan.

Kebiasaan membuang ludah sembarangan itu cukup jorok karena bisa menularkan penyakit kepada pengguna kereta listrik lainnya. Namun, penumpang masih banyak yang hobi membuang ludah sembarang di peron stasiun sampai di dalam kereta.

Saya pernah melihat di kereta listrik bagian Tanah Abang – Serpong, ada pria paruh baya dengan santainya buang ludah di lantai gerbong kereta. Padahal, kereta itu sedang ramai-ramainya, tetapi hal itu sulit dilarang jika membuang ludah sembarang sudah menjadi kebiasaan.

Pelanggaran yang selalu dilakukan oleh mayoritas penumpang tanpa sadar adalah makan dan minum di gerbong di kereta.

Padahal, di setiap pintu  dan dinding gerbong kereta sudah dituliskan kalau jangan makan dan minum di dalam kereta listrik tersebut.

Namun, rasa haus atau lapar terutama untuk lansia dan anak-anak membuat aturan itu menjadi tidak berlaku.

Kabar terakhir, pihak Commuterline sekarang mulai menerapkan denda bagi siapa saja yang ketahuan makan dan minum di dalam kereta.

Cuma saya belum mendapatkan informasi resmi terkait hal tersebut. Kalau benar dilakukan, langkah manajemen kereta listrik itu cukup tegas untuk menegakkan disiplin di kalangan masyarakat.

Di luar masalah itu, ada beberapa aturan yang sering dilanggar ketika menggunakan Commuterline, apa saja?

Naik Eskalator Stasiun Commuterline

Eskalator atau tangga berjalan memang menjadi solusi agar membuat manusia tidak lelah ketika naik atau turun tangga.

Namun, kemudahan eskalator itu bukan berarti cukup diam saja untuk sampai ke atas. Apalagi, bila tangga berjalan berada di daerah ramai orang seperti, stasiun Commuterline.

Bila semua penumpang yang menaikki eskalator diam saja hingga sampai di atas atau di bawah, maka akan terjadi antrian panjang untuk naik dan turun.

Untuk itu, manajamen kereta listrik Jabodetabek pun mulai membuat pengumuman dalam penggunaan eskalator di stasiun.

Pengguna jalur kiri eskalator diam, pengguna jalur kanan berjalan untuk mendahului

Itu menjadi salah satu pengumuman demi membuat lancar arus naik turun eskalator di stasiun. Sebenarnya, sistem naik eskalator ini juga sudah berjalan di Jerman, Jepang, dan beberapa negara lainnya.

Tata cara naik eskalator itu pun akan memudahkan bagi pengguna kereta listrik yang sedang terburu-buru.

Permasalahan naik eskalator ini adalah ada beberapa pihak yang merasa menguasai satu eskalator. Misalnya, ada yang naik sendirian, tetapi berdirinya di tengah. Selain itu, ada juga sepasang kekasih yang tidak ingin dipisahkan oleh eskalator sehingga berdiri berdampingan dan terdiam hingga sampai lantai yang dituju.

Hal itu bisa menghambat alur pergerakan di eskalator karena yang kanan seharus bisa berjalan sehingga pergerakan lancar menjadi terhambat.

Jadi, sepasang kekasih mungkin bisa berdiri di sisi kiri bersamaan dan terdiam sampai lantai dituju, sedangkan penumpang yang sendirian bisa memutuskan mau berjalan di kanan atau terdiam di kiri. Hal itu demi memperlancar pergerakan di eskalator yang padat seperti, stasiun.

Selain itu, beberapa stasiun yang dilengkapi dengan eskalator juga disediakan tangga manual. Jadi, bagi yang buru-buru banget bisa pula menggunakan tangga itu, pastinya tangga manual lebih sepi dibandingkan eskalator.

Aturan Naik Tangga Manual

Di beberapa tangga manual stasiun sudah ada stiker jelas terkait jalur naik dan turun, tetapi penumpang kerap mengabaikan hal tersebut.

Padahal, pemisahan jalur tangga naik dan turun itu demi keamanan penumpang kereta listrik agar tidak bertubrukan.

Jadi, bila ada penumpang yang terburu-buru naik tangga bisa berjalan cepat tanpa khawatir ada orang yang datang dari arus berlawanan pada sisi yang sama.

Sayangnya, hal itu kerap diabaikan dan penumpang menaiki dan turun tangga di jalur seenak jidatnya.

 

Jalur Masuk Penumpang Commuterline

Saya sudah melihat tanda posisi penumpang di peron stasiun untuk bersiap-siap masuk kereta. Pada beberapa stasiun, di lantai peronnya akan ada gambar tanda panah berwarna jingga, dan pembatas dengan warna hijau.

“Woy, yang turun dulu, biar gampang,” teriakkan seperti itu kerap muncul ketika ingin turun kereta,

Teriakkan itu bisa diucapkan oleh siapa saja yang akan turun kereta, Pasalnya, penumpang yang mau masuk ke gerbong suka tidak sabar ingin memburu tempat duduk di sana.

Nah, alasan kenapa harus penumpang turun dulu yang didahulukan adalah biar tercipta ruang kosong untuk para penumpang yang akan naik.

Bila, penumpang yang turun belum keluar dari gerbong, berarti penumpang naik tidak akan sulit mendapatkan tempat berdiri atau duduk meskipun berkukuh memaksakan diri.

Namun, banyak yang tidak mempedulikan hal itu dan berpikir “Yang penting, gue dapat duduk.”

Saat ini, Commuterline sudah membuat batasan lintasan keluar masuk penumpang di lantai peron stasiun. Harapannya, masyarakat bisa lebih peduli posisi menunggu masuk ke gerbong dengan mendahulukan penumpang turun.

Sayangnya, posisi tanda masuk dan keluar itu tidak tepat dengan posisi pintu kereta berhenti sehingga masyarakat pun mengabaikan hal tersebut.

Seharusnya, titik pembatas penumpang yang keluar dan masuk gerbong kereta bisa lebih disesuaikan tepat di mana pintu kereta berhenti.

Jadi, masyarakat akan lebih peduli dengan tanda aturan tersebut, walaupun masih cukup banyak penumpang berkukuh ingin buru-buru masuk gerbong demi mendapatkan tempat duduk yang diinginkan.

Jika, kalian ingin menaikki Commuterline sebagai salah satu transportasi massal yang bisa memangkas jarak tempuh ke kantor atau tempat aktivitas, maka patuhi segala aturan yang ada. Kalau, kita nyaman, orang lain pun akan nyaman juga.

4 thoughts on “Tips Agar Naik Commuterline Nyaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.