Berinovasi untuk Transportasi Kota Ultra Efisien

Ketika kita mengendarai mobil di tengah panasnya Jakarta, di dalam kendaraan roda empat itu bakal tetap sejuk karena adanya pendingin ruangan. Namun, pernahkah muncul dibenak kalian terkait berapa banyak energi bahan bakar yang dikeluarkan demi kenyamanan perjalanan dengan mobil tersebut.

Lalu, pernahkan kita memikirkan kenyamanan perjalanan dengan kendaraan roda empat terhadap dampaknya kepada lingkungan seperti, kualitas udara.

Jumlah kendaraan, mobil dan motor terus tumbuh ke depannya seiring dengan jumlah masyarakat dunia yang terus bertambah.

Umur kendaraan yang sangat tua sampai yang paling anyar akan semakin mudah ditemui di kota-kota besar, sebagai contoh di sini Jakarta. Kendaraan-kendaraan itu kian memadati jalan-jalan protokol perkotaan. Soalnya, kebutuhan transportasi memang meningkat seiring tingkat urbanisasi yang terus naik.

Saat ini, mayoritas bahan bakar kendaraan itu masih menggunakan energi fosil yang sifatnya tidak bisa diperbaharui lagi.

Belum lagi, karbon yang dikeluarkan dari hasil emisi pembakaraan bahan bakar terus mencemari udara secara bertahap.

Bayangkan, kalau itu semua terjadi tanpa kita memikirkan nasib masa depan di bumi ini?

Ini menjadi sinyal kita harus siap-siap berinovasi untuk teknologi kendaraan yang lebih efisien dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Perlahan tapi pasti, di beberapa negara maju terus meningkatkan kualitas bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan.

 

BACA JUGA : Mengatasi Masalah Pengelolaan Keuangan Milenial

 

Lewat acuan dari Europe Emission Standard, beberapa negara terus meningkatkan kualitas BBMnya.

Negara-negara di Eropa saat ini disebut tengah bersiap-siap meningkatkan kualitas BBMnya menuju EURO VII, sedangkan India tengah mempersiapkan diri menuju EURO VI. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Saat ini, Indonesia masih berbenah untuk mengimplementasikan EURO IV, apalagi jelang Asian Games 2018, kandungan karbon udara di beberapa kota penyelenggara multievent itu harus bisa lebih baik demi para atlet yang berlaga nanti.

Ke depannya, mobilitas manusia di seluruh dunia akan meningkat drastis yang bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, mengubah negara, dan kehidupan.

Saat ini, populasi sedang tumbuh cepat dan dari sisi ekonomi tengah mendorong jumlah permintaan pasar.

Perkembangan teknologi seperti internet yang semakin cepat pun telah mengubah cara mobilisasi masyarakat di seluruh dunia.

Dalam situs resminya, Shell pun menyebutkan pada 2050 jumlah orang yang tinggal di kota bisa berlipat ganda karena populasi dunia bakal melewati 9 miliar.

Hal itu pun bakal mempengaruhi jumlah mobil yang bisa naik berlipat ganda menjadi sebanyak 1 miliar.

Jumlah mobil yang mengalami kenaikan itu membuat munculnya kebutuhan efisiensi bahan bakar dan kualitas udara.

Pasalnya, bila kebutuhan efisiensi dan kualitas udara diabaikan bisa berdampak besar pada perubahan iklim dunia.

Lalu, satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan mengurangi emisi.

Kemudian, pengurangan jumlah emisi bisa dilakukan jika kita menciptakan kendaraan yang efisien.

Kendaraan Efisien Mengurangi Emisi Karbon

Seiring bertambahnya jumlah populasi di dunia dan potensi kenaikan urbanisasi, kebutuhan energi diprediksi bisa naik 2 kali lipat pada 2020.

Dari total kebutuhan energi itu, mayoritas diperkirakan dibutuhkan untuk kendaraan yang bisa sampai 2 miliar unit berada di jalan.

Nah, kita pun harus memutar otak untuk mencari solusi transportasi yang bersih dan hemat energi.

Ahli pelumas Shell yang juga pakar Engine Geo Technology dan perancang otomotif Gordon Murray Design telah membuat konsep mobil perkotaan yang bakal sangat efisien atau disebutnya ultra efisien dibandingkan dengan mobil perkotaan saat ini.

Shell Concept Car yang dikerjakan oleh Geo Technology dan Gordon Murray Design. Mobil kecil disebut menjadi kendaraan perkotaan yang ultra efisien. Sumber : Shell.com

Mobil yang memiliki berat sebesar 550 kg itu pun menggunakan bahan bakar yang bisa didaur ulang, serta didesai untuk tingkat karbon rendah.

Bila dilihat dari segi ukuran bakal terlihat kecil, tetapi konsep mobil Shell ini disebut kecil-kecil cabe rawit.

Walaupun, ukurannya kecil, Shell klaim inovasi mobil ultra efisiennya itu juga tetap garang dalam aksinya di jalanan.

Dalam membuat konsep mobil ultra efisien itu, Shell memiliki misi merancang mobil perkotaan yang terjangkau dan dapat diakses oleh masyarakat, tetapi juga mampu mengurangi penggunaan energi transportasi pribadi dengan menggunakan material yang sesuai.

Konsep mobil ultra efisien Shell itu disebut bisa berjalan sepanjang 100.000 km dan masih menggunakan sedikit bahan bakar dibandingkan dengan mobil perkotaan di Eropa lainnya, termasuk SUV asal Inggris.

Pada tes efisiensi bahan bakar New European Driving Cycle (NEDC), mobil perkotaan yang ultra efisien itu menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dari mobil bertenaga bensin maupun mobil hibrida.

Mobil ultra efisien yang dikonsep Shell ini memiliki tiga kursi. Kursi depan untuk pengemudi, dan dua kursi sisanya untuk penumpang. Jadi kayak Bajaj ya? Sumber : Shell.com

Sejauh ini, konsep mobil SHell itu sudah berjalan sepanjang 4.800 km di jalanan.

Sepanjang perjalanan itu, kebutuhan bahan bakarnya hanya sebesar 38 km per liter,

Namun, Shell tidak berniat membawa konsep mobil ultra efisien itu ke produksi komersial.

Sebaliknya, perusahaan asal Belanda itu ingin memulai diskusi dengan mitra untuk mempercepat pembuatan kendaraan yang lebih hemat energi dan tingkat emisi karbon lebih rendah.

Kendaraan Efisien, Eco-Marathon 2018

Selaras dengan semangat hemat energi untuk masa depan itu, Shell juga terus melanjutkan gelaran Shell Eco-Marathon pada 2018.

Shell Eco-Marathon adalah kompetisi antar mahasiswa di seluruh dunia yang menantang para generasi muda itu untuk memunculkan inovasi desain dan membuat mobil yang sangat hemat energi.

Hasil desain mereka [Mahasiswa] pun langsung diuji dalam kompetisi tersebut.

Kompetisi itu dibagi ke beberapa benua, seperti Asia, Eropa, dan Amerika.

Pada Shell Eco-Marathon Asia bakal mencakup dua kompetisi utama yakni, kompetisi Mileage Challenge dan Driver’s World Championship Asia.

river’s World Championship 2018 digelar di 3 benua yakni, Asia, Eropa, dan Amerika. Sumber : Shell.co.id

Mileage Challenge menjadi kompetisi yang berlangsung cukup lama.

Pasalnya, tim yang berkompetisi pada Mileage Challenge bakal ditantang menempuh jarak paling jauh dengan bahan bakar yang paling sedikit.

Pada tahun lalu, pemenang Mileage Challenge di Asia berhasil menempuh 2.289 km atau setara jarak dari Singapura ke Chiang Mai, Thailand, dengan hanya menggunakan 1 liter bahan bakar.

Kalau di Indonesia, garis lurus dari Lampung ke Aceh saja cuma 1.645 km, berarti itu lebih jauh dan cuma 1 liter bensin saja.

Lalu, Driver’s WOrld Championship yang diperkenalkan sejak Eco-Marathon 2016 ini akan mempertemukan tim-tim UrbanConcept terbaik untuk memadukan efisiensi energi bahan bakar kendaraan, kecepatan, dan keahlian dalam mengemudi.

Para pemenang bakal ditentukan dari siapa yang tercepat sampai garis finis dengan menggunakan bahan bakar paling sedikit.

Nasib Wakil Indonesia di Shell Eco-Marathon 2018

Gelaran Driver’s World Championship 2018 regional Asia yang diadakan pada 8 Maret 2018 – 11 Maret 2018 itu diikuti oleh 7 tim dari Vietnam, Singapura, dan Indonesia.

Vietnam dan Singapura mengirimkan masing-masing satu tim yakni, LH Est dari Lac Hong University Vietnam dan NTU Singapore 3D printed Car dari Nanyang Technological University Singapura.

Lalu, Indonesia mengirimkan 5 tim yakni, Institute Teknologi Surabaya (ITS) mengirimkan dua wakil. Kedua wakil ITS itu antara lain, Nogogeni ITS Team 1 dan Tim ITS Team 2.

Selain itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) menurunkan 1 tim yakni, Tim Semar Urban UGM Indonesia. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) juga menurunkan 1 tim yakni, Tim Garuda UNY Eco Team.

Terakhir, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga mengirimkan satu tim yakni, Tim Bumi Siliwangi.

Tim Semar Urban UGM dari Indonesia menjadi juara pertama dalam river’s World Championship 2018 regional Asia. Sumber : Shell.co.id

Hasilnya, Tim Semar Urban UGM Indonesia yang diwakilkan oleh Tito Setyadi Wiguna sebagai pengendara mobil menjadi yang pertama mencapai garis finis.

Bahan bakar yang tersisa setelah mobil Tim Semar Urban UGM sampai finis sebanyak 0,9%.

Pada posisi kedua, ITS Team 2 dengan pengemudinya Muhammad Hafiz Habibi. Lalu, pada posisi ketiga adaGaruda UNY Eco Team dengan pengemudinya Fauzi Achmad Prapsita.

Tito bersama Tim Semar Urban UGM pun girang bukan main setelah berhasil memenangkan Driver’s World Championship 2018 regional Asia tersebut.

Tito mengatakan, dia bersama tim telah berupaya keras untuk menghasilkan mobil yang memiliki kecepatan, tetapi juga efisien dari segi penggunaan bahan bakar.

“Kami pun telah berlatih semaksimal mungkin untuk dapat menyatu dengan kendaraan yang sudah dibuat. Strategi kami adalah tetap kompak, bekerja keras, komunikasi yang baik, dan doa,” ujarnya dalam situs resmi Shell.

Setelah menjuarai regional Asia, ketiga wakil Indonesia itu bakal berhadapan lagi dengan tim seluruh dunia dari kawasan Amerika dan Eropa.

Grand Final bakal diadalan di London pada 8 Juli 2018, pemenang dari Driver’s World Championship 2018 bakal diberikan kesempatan ke markas Scuderia Frari.

Hasil Off Track

Selain hasil di track, ada pula hasil off-track yang memberikan penghargaan kepada kemampuan teknisi dan kreativitas tim yang berlaga di Driver’s World Championship 2018 Regional Asia.

Garuda UNY Eco Team dari UNY pun memenangkan penghargaan Safety Award untuk desain mobil perkotaannya.

Lalu, EnduroKiwis dari University of Canterbury, Selandia Baru memenangkan penghargaan Technical Innovation Award. Tim asal Selandia Baru itu menang karena mesin 3d-printed titanium yang mendesain konsep mobil urban tersebut.

Tim river’s World Championship 2018 asal Indonesia berfoto bersama. Indonesia diwakilkan oleh 5 tim dalam gelaran yang dilaksanakan di Singapura tersebut. Sumber : Shell.co.id

NUST Eco-Motive dari National University of Sciences and Technology Pakistan juga memenangkan penghargaan sebagai peserta tergigih dan semangat.

Selain itu, ada pula penghargaan kategori Prototype yang dinilai dari rekor jarak tempuh terbaik.

Pada penghargaan itu, prototype Pandjavidhya 1 dari Panjavidhya Technological College. Tim asal Thailand menang dengan jarak tempuh 2.341,1 km per liter.

Pemenang lainnya pada ketegori Prototype kategori energi baterai adalah Team HuaQi-EV. Tim dari Guangzhou College of South China University of Technology asal China menang dengan jarak tempuh 511 km per kWh.

Lalu, ada juga tim TP Eco Flash dari Temasek Polytechic asal Singapura. Mereka memenangkan ketegori Hidrogen dan hasil tempuh 404,3 km per m3.

Nah, dengan berbagai ide inovasi mobil urban yang cepat dan efisien itu. Apakah masa depan transportasi bisa lebih efisien dan tingkat kandungan emisi karbon yang rendah?

4 thoughts on “Berinovasi untuk Transportasi Kota Ultra Efisien

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.