Buffon dan Para Bintang Pesakitan Lainnya

Juventus bagai bangkit dari kubur, Real Madrid langsung dihantam 3 gol tanpa balas pada leg 2 perempat final Liga Champion 2018. Sayangnya, kisah kebangkitan Si Nyonya Tua itu tidak happy ending, malah sebaliknya, terutama bagi sang kapten, Gianluigi Buffon.

Memasuki injury time, wasit pertandingan menunjuk titik putih. Alasannya, Medhi Benatia dianggap melakukan pelanggaran kepada salah satu pemain Real Madrid.

Sontak, Buffon tidak bisa menahan emosinya dan melayangkan protes. Alih-alih protes diterima, wasit malah memberikan kartu merah kepada si Superman [Julukan Buffon].

Buffon dianggap melakukan protes berlebihan sehingga terpaksa diusir dari lapangan, tepat beberapa detik sebelum pertandingan berakhir.

Penalti Real Madrid pun sukses, Wojciech szczesny yang menggantikan Buffon gagal menghalau tendangan sang algojo dari Los Galacticos.

Juventus pun harus mengubur impiannya untuk bisa menjadi kampiun Liga Champion musim ini.

Terlebih, Buffon pun harus mengubur impiannya juga untuk bisa mencatatkan gelar Liga Champion dalam rekam jejak karirnya.

Soalnya, sang kampten La Vechia Signora itu dipastikan bakal pensiun dari dunia sepak bola pada akhir musim ini.

Walaupun, keputusan itu dilakukan kiper berusia 40 tahun itu karena Juventus enggan memperpanjang kontraknya.

 

Kecuali, Juventus memberikan toleransi satu musim lagi untuk Buffon bisa kembali berjuang untuk merengkuh gelar Liga Champion bersama Si Nyonya Tua.

Berbicara Liga Champion, Buffon sudah tiga kali merasakan atmosfer final turnamen tertinggi Eropa tersebut. Sayangnya, ketiganya gagal diubah menjadi gelar alias gagal menang.

Pertama, Buffon bersama Juventus merasakan atmosfer Final Liga Champion pada musim 2002-2003. Kala itu, Juventus masih dilatih oleh Marcelo Lippi, pada babak final harus berhadapan dengan klub senegaranya yakni, AC Milan.

Sayang, pertandingan sengit hingga adu penalti itu gagal dimenangkan oleh Juventus. AC Milan yang dilatih Carlo Ancelotti lebih beruntung dan memenangkan pertandingan.

Final Liga Champion kedua dirasakan oleh Buffon ketika Juventus dilatih oleh Antonio Conte pada musim 2014-2015.

Juventus harus menghadapi Barcelona di babak final, hasilnya Si Nyonya Tua pun harus mengakui keunggulan tim Catalan itu dengan skor 1-3.

 

BACA JUGA : Transfer Pemain Sepak Bola Makin Gila

 

Final ketiga yang dirasakan Buffon di kompetisi tertinggi Eropa itu pada musim 2016-2017. Juventus kembali ke final dan harus menghadapi klub Spanyol lainnya yakni, Real Madrid.

Pada final ketiga Buffon bersama Juventus di Liga Champion ini banyak pengamat adan analis yang memperkirakan waktu itu adalah momentum tepat Si Nyonya Tua meraih gelar Liga Champion.

Di luar faktor eksternal seperti, posisi hotel, tempat diadakan final, dan sebagainya, Juventus punya rekor bagus ketika menghadapi Real Madrid.

Sayangnya, untung belum dapat diraih, Juventus dicukur 1-4 oleh Los Galacticos.

Di luar kegagalan Buffon menorehkan gelar Liga Champion dalam karirnya, si Superman juga menutup karir di timnas Italia dengan sad ending.

Pasalnya, sang Kapten timnas Italia itu gagal membawa negaranya untuk melaju ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia, itu menjadi hasil terburuk Italia setelah terakhir kali gagal lolos ke putaran final pada 1958.

Walapun, para pendukung menyoroti strategi Giampiero Ventura yang menyebabkan gagalnya Italia, tetapi nasib tutup karir Buffon di timnas Italia tidak bisa dihapuskan.

Padahal, pada awal karirnya di timnas senior, Buffon justru berhasil membantu Italia lolos ke putaran final Piala Dunia Prancis 1998.

Kala itu, pelatih timnas Italia, Cesare Maldini, menurunkan Buffon yang masih berumur 19 tahun 9 bulan, menggantikan Gianluca Pagliuca yang cedera.

Buffon muda pun mampu menjaga gawangnya agar tidak kebobolan lebih banyak lagi, Italia pun lolos 2-1 melawan Rusia di babak Playoff.

Entah dosa apa yang dibuat Superman, atau mungkin karir para legenda memang kerap ditutup tidak dengan indah.

Pemain Legendaris yang Senasib dengan Buffon

Sebenarnya, selain Buffon, ada beberapa pemain yang hampir senasib dengan Buffon. malah mungkin lebih buruk dari nasib Superman. Misalnya, Michael Ballack.

Bisa dibilang Buffon masih lebih beruntung dari Ballack, Buffon masih merasakan mengangkat trofi Piala Dunia 2006.

Ballack menjadi salah satu legenda yang kurang beruntung karena selalu gagal mengangkat trofi walau sudah berlaga di babak final.

Padahal, Ballack mengawali karir dengan sangat indah, membela FC Kaiserslautern, sang jendral lapangan tengah itu langsung membawa klubnya menjadi juara Bundesliga pada 1997/1998.

Nama Ballack pun kian melambung ke seluruh dunia setelah mampu membawa Bayer Leverkusen ke Final Liga Champion musim 2001/2002. Sayang, mimpi Ballack merengkuh trofi Liga Champion gagal.

Setahun kemudian, Ballack dibawa Rudi Voeller ke skuad timnas Jerman Piala Dunia 2002. Jerman pun melesat ke final, sayang Ballack tidak bisa bermain di partai puncak, terlebih Jerman pun kalah dari Brasil kala itu.

Hijrah ke liga Inggris pun tidak membuat nasib Ballack berubah. Sang pemain asal Jerman itu pun hijrah ke Chelsea untuk memburu peruntungan, dan benar saja dia mampu membawa The Blues ke Final Liga Champion 2007/2008.

Sayangnya, peruntungan Ballack tidak kunjung datang, Chelsea dikalahkan Manchester United di final.

Pada gelaran turnamen selanjutnya di Piala Eropa 2008, Ballack yang memimpin skuad Jerman pun berhasil melaju ke final.

Sayangnya, Ballack kembali gagal merengkuh trofi setelah Fernando Torres membawa Spanyol menjadi kampiun. Akhirnya, sampai memutuskan gantung sepatu, Ballack menjadi bintang yang belum pernah mengangakt trofi Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champion.

Sang Raja Tanpa Mahkota

Nah, selain Buffon dan Ballack, ada satu pemain lagi yang sangat diakui kemampuannya, tetapi belum pernah mengangkat trofi Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champion. Dia adalah Zlatan Ibrahimovic.

Semua gelar liga dari Italia, Spanyol, maupun Prancis sudah dirasakan pemain jangkung asal Swedia tersebut.

Namun, eks kompatriot Buffon itu sama sekali belum merasakan mengangkat piala Liga Champion.

Lebih sialnya lagi, klub yang ditinggalkannya itu mayoritas langsung bisa menjadi juara Liga Champion. Sampai ada ucapan kalau Ibrahimovic si penghambat klub meraih gelar Liga Champion.

Seperti ketika dia pindah dari  Intermilan ke Barcelona pada 2009, setelah ditinggalkan sang pemain, Intermilan pun langsung menjadi juara Liga Champion.

Begitu juga ketika Ibrahimovic dipinjamkan ke AC Milan dari Barcelona pada 2011, tim Catalunia itu juga langsung merengkuh gelar Liga Champion.

Kini, Ibrahimovic pun sudah sangat mustahil bisa merengkuh gelar Liga Champion. Soalnya, sang pemain sudah hijrah ke Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat (AS) bersama LA Galaxy.

Di level timnas, Ibrahimovic pun masih belum berhasil memberikan gelar kepada Swedia, baik di Piala Eropa maupun Piala Dunia.

Mungkin memang tuhan itu adil, ada pemain yang memiliki talenta luar biasa dan menjadi legenda, tetapi ada yang tidak mampu didapatkanya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.