Jurnalis dan Supir Taksi Dalam Pergolakan Gwangju

Tugas jurnalis adalah memberitakan fakta, sedangkan tugas dari supir taksi ada mengantarkan penumpang hingga tujuan. Lalu, apa hubungan keduanya?

Hal itu bakal tampak pada film Korea Selatan berjudul A Taxi Driver yang tayang pada 2017. Film besutan Jang Hoon itu diklaim sebagai kisah nyata ketika era pergolakan di Korea Selatan pada 1979.

Pergolakan Korea Selatan memuncak terjadi di Gwangju. gerakan masyarakat Gwangju itu menuntut penerapan demokrasi di Korea Selatan.

Gerakan itu timbul setelah terjadi pembunuhan Presiden Park Chung-hee pada 26 Oktober 1979. Sang presiden yang dibunuh itu memiliki masa kepemimpinan selama 18 tahun, tetapi digdaya hancur tiba-tiba sehingga kondisi politik dan sosial Negeri Gingseng itu menjadi tidak stabil.

Lalu, apa hubungannya antara kisah sang Jurnalis dengan sang supir taksi?

Kim Man-seob yang diperankan Song Kang-ho adalah seorang supir taksi pribadi, maksudnya taksi yang dibeli secara pribadi bukan bagian dari perusahaan taksi.

Latar belakang ceritanya, istri Kim Man-seob meninggal, tetapi sebelum akhir hayatnya, sang istri meminta Kim membeli sebuah taksi untuk bisa menghidupi dirinya bersama putrinya.

Akhirnya, dia menjadi supir taksi pribadi untuk bisa menghidupi putri tunggalnya.

Namun, sikap Kim yang terlalu baik membuat kehidupannya sulit. Misalnya, ketika mendapatkan penumpang yang hendak melahirkan, ternyata ketika sampai tujuan sang penumpang tidak membawa uang sama sekali.

Akhirnya, sang penumpang meminta untuk bisa membayarnya nanti karena istrinya sudah akan melahirkan. Kim pun mempersilahkannya walaupun dengan sedikit ‘dumelan.’

salah satu adegan A Taxi Driver

Padahal, Kim punya tunggakan kontrakan rumahnya sekitar 100.000 won. Sebenarnya, dia berteman akrab dengan kepala keluarga yang memiliki kontrakan, tetapi sang istri empunya kontrakan cukup tegas kepadanya.

Dia pun benar-benar membutuhkan uang 100.000 won untuk membayar tunggakan kontrakannya tersebut.

Persoalannya itu pun menjadi bahan curhat dengan suami pemilik kontrakannya yang juga berperan sebagai tukang taksi. Bahkan, dia berencana meminjam 100.000 won dari sang suami untuk membayar kontrakan kepada istrinya tersebut,

Belum selesai membahas rencana utang, Kim menguping pembicaraan salah seorang supir taksi lainnya. Kabarnya, ada salah seoranng supir taksi yang mendapatkan orderan ke Gwangju dengan tarif 100.000 won.

Terpikir niat buruk, dia pun lekas pergi menuju tempat orang asing itu menunggu taksi pesanannya. Setelah sampai, dia pun menebak-nebak calon penumpangnya itu, mendahului taksi yang sesungguhnya dipesan.

Di sinilah, Kim bertemu dengan jurnalis asal Jerman Jurgen Hinzpeter yang diperankan oleh Thomas Kretschmann. Petualangan keduanya ke Gwangju yang tengah terjadi pergolakan pun dimulai.

Pemerintah Mengatur Berita, Kondisi Gwangju Kian Misterius

Pemberitaan tentang kondisi Gwangju benar-benar dirahasiakan oleh pihak militer. Bahkan, media setempat pun disensor terkait pemberitaan tentang kondisi Gwangju tersebut.

Hinzpeter yang datang jauh-jauh dari Jepang ingin meliput hal tersebut. Dia sudah menemui wartawan Korea Selatan dan diperingatkan kondisi di sana sedang berbahaya.

Namun, Hinzpeter tidak gentar, dia berkukuh tetap akan ke sana dan minta bantuan transportasi berupa taksi.

Kim sang supir taksi yang tengah memburu uang 100.000 won pun menerima pesanan ke Gwangju dengan riang gembira.

Kondisi pergolakan Gwangju pada 1980. sumber gambar : Korea Times

Pemberitaan  tentang Gwangju yang disensor membuat Kim tidak tahu seberapa bahayanya perjalanan menuju Gwangju.

Hinzpeter pun tidak mengakui dirinya sebagai jurnalis, dia hanya berkata kalau dirinya seorang pebisnis. Kim pun percaya sampai ada gelagat aneh dari Hinzpeter yang mengeluarkan kamera dan mengambil gambar ketika sudah mendekati daerah Gwangju.

Kim semakin bingung, soalnya daerah masuk ke Gwangju ternyata diblokir oleh para  tentara. Kim pun diminta untuk kembali ke Seoul karena sekarang tidak boleh masuk ke Gwangju.

 

BACA JUGA : Ini 6 Pelajaran dari Dorama Saki ni Umareta Dake no Boku

 

Nah, Kim sebagai supir taksi itu sempat patah arang dan mengatakan lebih baik kembali ke Seoul. Namun, Hinzpeter mengancam kalau dia balik ke Seoul, Kim tidak akan dibayar sepeser pun.

Akhirnya, pikiran Kim berubah, dia tetap mengantarkan Hinzpeter ke Gwangju lewat jalur lain.

Namun, seluruh jalur memang sudah diblok oleh para tentara, tetapi di jalur lewat pegunungan ini Kim berhasil lewat. Dia meminta izin kepada para tentara untuk mengantarkan Hinzpeter seorang pebisnis yang sangat butuh ke Gwangju.

Ketika sampai di Gwangju, Kim terkejut karena kondisi kota yang kacau balau.

Harapan dari Seorang Jurnalis Asing

Ketika baru sampai Gwangju, Kim dan Hinzpeter bertemu dengan satu truk berisi rombongan mahasiswa. Hinzpeter yang tertarik langsung meminta berhenti dan menghampiri rombongan tersebut.

Dia pun menjelaskan kalau dirinya seorang jurnalis asal Jerman. Para mahasiswa menyambut gembira dengan kedatangan jurnalis asing tersebut.

Harapan muncul di kalangan warga Gwangju, mereka sangat berharap Hinzpeter bisa membuat sebuah karya tentang kondisi nyata di Gwangju. Nantinya, hal itu bisa mengubah persepsi dari pemberitaan yang muncul dari hasil sensor militer.

Salah seorang wartawan lokal pun membantu kerja Hinzpeter, tetapi pergolakan dan kekejaman militer di Gwangju sudah terlalu parah.

Kim pun yang memiliki perjanjian untuk mengantarkan Hinzpeter ke Gwangju sampai kembali lagi ke Seoul. Namun, dia khawatir tentang kondisi anaknya.

Sayangnya, jaringan telpon di Gwangju sudah diputus sehingga dia tidak bisa menelpon.

Salah satu adegan Kim bersama anaknya.

Secara keseluruhan, ini salah satu film kisah nyata yang dikemas dengan cukup menarik. Ketegangan kondisi Gwangju dan perjalanan Kim bersama Hinzpeter begitu terasa.

Walaupun, Hinzpeter mengakui alasan dia menjadi jurnalis adalah karena uang, tetapi perjuagannya mendapatkan berita di Gwangju meraih penghargaan besar.

Saat ini, Hinzpeter telah meninggal, pria asal Jerman itu meninggal karena sakit  pada 25 Januari 2016. Hinzpeter disebut salah satu yang berperan dalam revolusi Korea pada era 1980-an.

Pasalnya, media lokal saat itu kerap disensor sehingga pemberitaan yang muncul adalah adanya pemberontak di Gwangju.

Mungkin film ini cukup menarik ditonton sendiri, bersama keluarga, maupun bersama kekasih. hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.