Mengatasi Masalah Pengelolaan Keuangan Milenial

Kehidupan para milenial penuh dengan godaan, dari target untuk mengejar cap di paspor agar bisa penuh dengan melancong ke luar negeri sampai ingin keluar dari hiruk pikuk ibukota dengan liburan tujuan wisata di domestik.

Melihat kebutuhan itu, bagaimana dengan persiapan keuangan para milenial ddi masa depan?

Selaras dengan pertanyaan itu, beberapa survey memang mulai menyoroti kemampuan keuangan milenial di masa depan.

George Washington Global Financial Literacy Excellence Center memaparkan hasil survey terkait pemahaman soal prinsip dasar pengelolaan keuangan di kalangan milenial.

Hasilnya, dari 5.500 milenial, hanya 24% yang memahami pengelolaan keuangan.

Alexa Von Tobel, pengarang buku Financially Fearles pun memaklumi hal tersebut.

“Literasi keuangan tidak diajarkan di sekolah maupun kampus. Jadi, ketika memasuki fase mulai membayar segala sesuatunya sendiri, mereka [generasi milenial] tidak memiliki strategi yang tepat,” tulis pada sebuah keterangan resmi.

Tak hanya itu, dari dalam negeri juga ada survey yang diadakan Rumah123 bersama Karir.com terkait peluang memiliki rumah bagi generasi milenial dengan asumsi kenaikan harga properti dibandingkan upah.

Hasilnya, pada 2020 nanti disebut hanya 5% milenial yang akan mampu membeli rumah seiring dengan kenaikan properti.

Hasil itu merunut dengan perkiraan kenaikan harga rumah sekitar 20% per tahun, sedangkan kenaikan gaji paling tinggi hanya 10% per tahun.

Dalam survey itu disebutkan, generasi milenial yang bergaji Rp7,5 juta sebesar 17%. Sisanya, bergaji di bawah nilai itu, dan rata-rata senilai Rp6,1 juta.

Dengan tingkat gaji Rp7,5 juta per bulan, dari ketentuan perbankan bisa membeli rumah dengan cicilan 30% dari total gaji yakni, Rp2,25 juta atau rata-rata harga rumah senilai Rp300 juta.

Untuk itu, generasi milenial pun dituntut untuk bisa mengelola  keuangannya sejak dini dengan baik demi masa depan.

 

BACA JUGA : Bitcoin Menggeliat, Regulator Menghadang

 

Namun, beberapa generasi milenial lebih tergoda mengikuti tren perkembangan zaman seperti, melancong ke luar maupun di dalam negeri.

Head of Digital Banking PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto mengatakan, ada beberapa kesalahan milenial dalam mengelola keuangan dan perencanaan masa depan.

Pertama, pengeluaran berlebihan untuk biaya sewa tempat tinggal.

Kelompok umur milenial itu memilih menyewa tempat tinggal dekat kantor yang bisa seharga 30% dari total pendapatan dengan alasan kenyamanan dan efisiensi dari segi ongkos transportasi.

Kedua, tidak menyiapkan dana darurat sebagai cadangan bila ada suatu hal mendesak.  

Ketiga, memiliki utang kartu kredit dalam jumlah besar.

Padahal, rekam jejak penggunaan kartu kredit yang buruk bisa berdampak kepada sulitnya pengajuan kredit lainnya seperti, kredit pemilikan rumah (KPR).

Keempat, tidak mempersiapkan dana pensiun.

Bagi yang masih berumur sekitar 25 tahun sampai 30 tahun mungkin melihat masa pensiun masih cukup lama.

Namun itu harus disiapkan dari sekarang agar ketika pensiun dana yang terkumpul mencukupi untuk hari tua.

Perencana Keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan,pemahaman literasi keuangan akan lebih mudah dilakukan kalau generasi milenial itu sadar terkait kebutuhan jangka panjang. 

Sayangnya, kebanyakan belum sadar terkait tujuan di masa depan tersebut.

“Hal itu disebabkan perkembangan teknologi yang membuat pola pikir untuk masa depan, termasuk dalam pengelolaan keuangan, malah cenderung lebih instan,” ujarnya.

Produk Sesuai Bagi Milenial

Eko menyebutkan, untuk itu dibutuhkan produk keuangan yang sesuai dengan zaman milenial dengan pola pikir instan tersebut.

Selaras dengan Eko, Leo menuturkan, pengelolaan keuangan generasi milenial yang salah itu bisa dimaklumi karena mengurus secara manual seperti lewat ke cabang untuk cetak buku tabungan menjadi satu hal yang sulit.

“Mereka [generasi milenial] lebih suka melakukan apapun lewat ponsel, dan untuk itu produk keuangan seperti bank juga harus berbasis digital seperti, pengelolaan pengeluaran berbasis virtual assisten bisa menjadi pilihan,” tuturnya.

Menanggapi kebutuhan generasi milenial itu, beberapa bank pun sudah menyiapkan produk digital khusus untuk menangkap potensi nasabah dari sana.

Seperti, DBS Indonesia pun memiliki produk anyar terkait dengan kebutuhan generasi milenial yakni, Digibank. Selain itu ada juga Jenius dari PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk.

Sebelumnya, Digital Banking Value Proposition & Product Head Bank Tabungan Pensiun Nasional Irwan Sutjipto Tisnabudi menuturkan, dalam tahap pembentukannya, BTPN berkolaborasi dengan masyarakat yang pintar memanfaatkan teknolgi digital atau digital savvy dengan tujuan untuk membuat fitur yang dibutuhkan oleh generasi milenial tersebut.

“Kami ingin Jenius berevolusi menyesuaikan dengan gaya hidup lebih dinamis,” ujarnya.

Nah, bila para milenial enggan mengurus pengelolaan keuangan secara fisik karena kesibukan dan karakter instan. Mungkin, dari sekarang para milenial harus menatap pengelolaan keuangan di masa depan dengan produk digital yang lebih fleksibel.

*Terbit di harian Bisnis Indonesia

2 thoughts on “Mengatasi Masalah Pengelolaan Keuangan Milenial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.