Petaka Itu Bernama Kereta Bandara

Kereta bandara dan Stasiun Duri mendadak mejadi topik viral dalam beberapa hari terakhir. Bom waktu kereta Bandara yang menganggu jadwal Commuterline akhirnya meledak juga.

Pada pekan lalu, ada dua perubahan besar yang terjadi di Stasiun Duri dan jalur Commuterline Tangerang-Duri.

Pertama, kereta Tangerang-Duri berhenti di jalur 5 Stasiun Duri, tetapi kapasitas peron dan alur perpindahan penumpang dari jalur 5 ke jalur 1 [arah Jatinegara] dan jalur 2 [arah Bogor] tidak cukup menampung para penumpang tersebut.

Kedua, jadwal kereta Commuterline Tangerang-Duri dan sebaliknya dibuat merata menjadi 30 menit sekali. Hal itu demi memberikan ruang interval kereta bandara lebih banyak. Sebagai gantinya, pihak Commuterline menambah gerbong rangkaian Commuterline Tangerang-Duri menjadi 12 gerbong.

Nah, dua poin itu menjadi masalah utama yang berpotensi membahayakan penumpang Commuterline, terutama jalur Tangerang- Duri. Kenapa?

Masalah pertama, Peron dan jalur alih kereta Commuterline dari jalur 5 ke 1 dan 2 tidak memadai. Perpindahan yang tersedia cuma satu eskalator tanpa ada tangga manual dan ruang perpindahan di ujung depan dan belakang kereta.

Masalah kedua, pihak Commuterline menambah jumlah gerbong rangkaian kereta Tangerang-Duri menjadi 12 gerbong, tetapi jadwal dipangkas menjadi 30 menit sekali kereta jalur coklat itu lewat.

Imbasnya, kedatangan satu rangkaian Commuterline Tangerang-Duri dengan 12 Gerbong selama 30 menit sekali itu bakal menambah beban peron dan stasiun Duri yang sudah tidak memadai lagi, walaupun baru dibangun.

Akhirnya, pada akhir pekan lalu sebelum libur Paskah, penumpang yang mau alih kereta pun harus mengantri di penyebrangan rel.

Mengapa polemik Commuterline di jalur Tangerang-Duri itu terjadi ?

Kalau dalam film serial Avatar The Legend of Aang, kekisruhan terjadi sejak negara api menyerang, tetapi kalau di kisah nyata Commuterline, kekisruhan terjadi sejak kereta bandara Soekarno-Hatta diluncurkan.

Dulu, pada  2016, interval kereta Commuterline Tangerang-Duri hanya 15 menit sekali.

Namun, memasuki pertengahan 2017, terutama ketika pembangunan kereta bandara dikejar kebut semalam. Jadwal kereta Commuterline Tangerang-Duri mulai dipangkas.

Saat itu, kereta bandara masih baru bersiap melakukan simulasi, tetapi kereta Commuterline Tangerang-Duri dipangkas dari 15 menit sekali menjadi 30 menit sekali.

Hasilnya, saat itu banyak yang pingsan di dalam gerbong kereta karena kehabisan nafas.

Hal itu terjadi karena rentang interval kereta yang biasanya 1 jam ada 4 kereta dipangkas menjadi 1 jam cuma 2 kereta.

 

BACA JUGA : Makan Yakiniku Murah? Ini Pilihannya

 

Akhirnya, jadwal Commuterline yang digarap Kementerian Perhubungan pun mengalami penyesuaian saat itu. Kereta Tangerang-Duri ditambah rentangnya menjadi 20 menit per kereta pada peak hour.

Sayangnya, pada pekan lalu, jadwal Commuterline Tangerang-Duri kembali dipangkas menjadi 30 menit sekali.

Tujuannya, memberikan ruang untuk kereta bandara yang diketahui oleh semua orang sepi peminat.

Para pengguna Commuterline, terutama jalur Tangerang-Duri geram bukan main.

Pemerintah dan perusahaan pelat merah yang mengelola kereta Commuterline dan bandara pun seperti tidak memiliki logika yang sehat.

Penumpang Commuterline yang lebih banyak ketimbang kereta bandara harus  berkorban. Padahal kereta bandara pun sepi peminat karena skema dan tata kelolanya berantakan.

Kenapa Kereta Bandara Enggak Laku?

Ketika kereta bandara Soekarno Hatta pertama kali diluncurkan, siapa pun yang dari bandara internasional di Tangerang itu bakal langsung naik kereta tersebut.

Euforia manis, terutama bumbu promosi membuat kereta bandara laris di awal. Bahkan, sampai-sampai tiket kereta bandara sold out.

Nah, kasiannya, sekarang ini kereta bandara bak kereta hantu yang tidak ada penumpangnya.

Setiap hari, saya melihat ketika pagi, siang, sore, sampai malam, pengguna kereta bandara bisa dihitung dengan jari. Malah, tidak perlu dihitung karena tidak ada yang naik.

Kereta ke bandara Soekarno Hatta itu tidak laku karena mereka membuatnya menjadi kelas eksekutif. Hal itu membuat harga tiket menjadi mahal dan itu bukan solusi moda transportasi alternatif untuk ke bandara.

“Ketimbang naik kereta bandara mendingan naik damri, sama aja,” ujar salah seorang teman.

Lalu, harga tiket kereta bandara juga sangat tidak ekonomis bagi penumpang yang mau ke bandara dengan jumlah kelompok tertentu.

Misalnya, satu keluarga dengan empat orang anggota, bila naik kereta itu harus mengeluarkan kocek hingga Rp280.000 per sekali jalan, sedangkan dengan taksi atau jasa transportasi online bisa menekan kocek itu menjadi sekitar Rp100.000 sampai Rp200.000.

Selain itu, kesalahan tata kelola kereta bandara sangat fatal. Mereka membuat kereta gerbong eksekutif dengan harga tinggi, tetapi proses alih penumpang dari stasiun ke bandara layaknya penumpang ekonomi.

Penumpang kereta pun tetap harus berjalan cukup jauh dan menunggu Skytrain yang rentang jadwalnya cukup lama.

Jadi, ketimbang bayar Rp70.000 sekali jalan, masih banyak orang lebih memilih taksi atau damri karena langsung sampai di depan bandara.

Solusi Kereta Bandara

Adapun, solusinya adalah menghapuskan esklusifitas kereta bandara tersebut. Pihak terkait lebih baik menggunakan kereta seperti Commuterline dan proses alih kereta seperti transit kereta listrik saja atau tanpa biaya tambahan.

Jadi, Commuterline bandara bergerak dari Batuceper ke Bandara, bentuk gerbongnya pun tidak perlu ada kursi eksekutif. Dibuat saja layaknya kursi Commuterline yang lebih memberikan ruang kepada mereka yang berdiri.

Dengan begitu, tidak perlu ada yang dikorbankan, termasuk kepentingan orang banyak  yakni, pengguna kereta Commuterline.

Bahkan, kereta yang disebut sebagai salah satu alternatif ke bandara pun bisa lebih laku karena mendekati segmen menengah ke bawah. Pasalnya, sekarang yang naik pesawat tidak hanya golongan menengah ke atas.

Adapun, integrasi kereta ke bandara Soekarno Hatta itu dengan commuterline itu bisa membuat jadwal rentang kereta lebih singkat. Jadi, penumpang pun lebih efisien dari harga tiket maupun waktu,

Lalu, ada pendapat dengan skema kereta bandara seperti itu akan menyulitkan bagi yang membawa barang banyak.

Nah, skema kereta bandara menjadi kereta eksekutif saat ini pun tetap menyulitkan penumpang yang banyak membawa barang.

Soalnya, peralihan dari stasiun ke bandara cukup jauh, dengan begitu simpulannya kereta ke bandara memang diperuntukkan bagi mereka yang fleksibel.

Jadi, skema bentuk kereta ke bandara Soekarno Hatta itu menjadi terintegrasi dengan Commuterline di Batuceper dan bentuk gerbongnya lebih memberikan ruang kepada penumpang berdiri pun bukan masalah.

Namun, itu hanya angan, demi kereta bandara menjadi solusi buat masyarakat, bukan menjadi petaka.

3 thoughts on “Petaka Itu Bernama Kereta Bandara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.