Dampak Naturalisasi yang Gagal Timnas Indonesia

Alberto Goncalves atau Beto, pemain naturalisasi itu merasakan juga rasanya mengenakan jersey timnas Indonesia. Pemain berumur 37 tahun itu bermain di laga uji coba timnas Indonesia U-23 melawan Thailand U-23.

Mirisnya, tim Thailand menilai pemain Indonesia yang paling berbahaya adalah veteran berumur 37 tahun. Ini memperlihatkan tim muda Indonesia tidak ada yang berbahaya bagi Thailand, Beto pun berbahaya karena om-om  itu melawan bocah baru gede.

Keputusan Luis Milla untuk memasang Beto ini hasil dari rasa prustasi tumpulnya lini serang timnas Indonesia. Namun, kehadiran Beto pun tidak langsung menyelesaikan persoalan ketajaman lini serang tim garuda.

Soalnya, Beto juga masih belum mampu mencetak gol untuk membawa timnas U-23 bisa menang dalam laga ujicoba.

Kalau Beto sama tumpulnya dengan penyerang timnas U-23 lainnya, kenapa tidak pasang pemain yang lebih muda untuk memberikan pengalaman dan rangsangan agar bisa lebih ganas di depan gawang?

Sejak dulu, budaya PSSI itu inginnya langsung mendulang hasil yang indah secara cepat. Alhasil, wacana naturalisasi pemain mulai gencar dilakukan sejak 2006, ketika rezim Nurdin Halid masih berkuasa. Nurdin sempat ingin menyeleksi 7 pemain asal Brazil berumur 20 tahun sampai 23 tahun untuk dinaturalisasi menjadi pemain Indonesia.

Tiga orang pemain Brasil pun sudah datang ke Indonesia untuk mulai berlatih bersama timnas Indonesia kala itu. Namun, ambisi instan Nurdin itu dikecam oleh banyak pihak sehingga urung dilakukan.

Empat tahun berselang, Nurdin kembali menggelorakan semangat naturalisasi, tetapi pemain yang dipilih kali ini adalah yang sudah menetap lama di Indonesia. Selain itu, ada pula beberapa pemain Indonesia-Belanda.

Cristian Gonzalez menjadi pemain naturalisasi pertama, pemain asal Uruguay itu sudah cukup lama bermain di Liga Indonesia. Kinerjanya pun cukup apik, beberapa kali menasbihkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di liga.

Setelah itu, beberapa pemain naturalisasi lainnya yakni, Kim Jeffrey Kurniawan, Diego Michiels, Toni Cussel, Stefano Lilipaly, Sergio Van Dijk, John Van Beukering, Raphael Maitimo, Greg Nwokolo, Victor Igbonefo, Bio Paulin, Ruben Wuarbanaran, Ezra Wallian, dan termasuk Beto.

Sayangnya, dari total 14 pemain naturalisasi itu, hanya Cristian Gonzales saja yang bisa mendulang sukses. El Loco, julukan Gonzalez, mampu mencatatkan 11 gol dari 25 penampilan bersama timnas. Namun, pemain Uruguay itu memulai karir bersama timnas diumur yang sudah uzur yakni 34 tahun, sehingga prospek jangka panjangnya tidak ada.

Nah, penyerang naturalisasi lainnya seperti, Van Dijk, Van Beukering, Greg, dan Ezra masih belum menunjukkan taji pemain ‘bule’ yang bisa buat gol banyak.

Pada posisi lainnya, seperti tengah dan pemain belakang tercatat hanya Lilipaly yang punya kinerja lumayan. Igbonefo yang digadang-gadang bisa menjadi tembok di lini belakang timnas Indonesia malah tak pernah dipanggil lagi ke skuad garuda.

Kegagalan proyek naturalisasi pun berdampak signifikan kepada pasokan penyerang muda Indonesia sampai saat ini. Pasalnya, keberadaan penyerang naturalisasi telah menutup peluang pemain muda untuk merasakan pengalaman bermain di timnas.

Belum lagi, semangat klub domestik memanfaatkan pemain asing di lini depan juga membuat pengalaman bermain pemain muda Indonesia hanya sedikit. Hal itu diutarakan Gendut Doni dan Budi Sudarsono menanggapi tumpulnya lini depan Indonesia.

Kedua penyerang legendaris Indonesia itu menyebutkan, saat ini klub domestik lebih mengandalkan pemain asing untuk menggedor pertahanan lawan. Akhirnya, pemain Indonesia susah mendapatkan pengalaman bertanding yang layak.

Selama rentang proyek naturalisasi sejak 2010 sampai saat ini, ada beberapa penyerang asli Indonesia yang dipanggil timnas nasional seperti, Samsul Arif dan Ferdinand Sinaga. Namun, kinerja keduanya dinilai belum terlalu memuaskan. Malah, Ferdinand diubah posisinya dari penyerang menjadi pemain sayap.

BACA JUGA : Indonesia Gagal Total di Piala Thomas dan Uber 2018

Untuk penyerang muda, Muchlis Hadi Ning yang seangkatan dengan Evan Dimas pun belum mampu diandalkan. Gaya bermainnya cenderung pasif dan tumpul di depan gawang lawan.

Pelatih timnas Indonesia pada AFF 2016 Alfred Riedl membuat gebrakan dengan membawa penyerang Lerby Eliandri. Publik sempat meragukan Lerby yang belum pernah bermain bersama timnas, tetapi dia menjawab keraguan dengan mencetak gol.

Sayangnya, kinerja Lerby di lini depan timnas pun belum konsisten. Selain itu, nama pemain asal Papua seperti Titus Bonai maupun Patrich Wanggai belum pernah lagi menembus skuad timnas. Padahal, keduanya bisa saja menjadi suksesor Boaz Solosa yang saat ini sudah berumur kepala 3.

Karakter Penyerang Indonesia

Bisa dibilang, karakter penyerang Indonesia itu memiliki daya ruang yang luas dan punya pergerakan cepat serta aktif. Bukan bergaya penyerang pasif seorang target man yang menunggu umpan manis dari rekan sejawat.

Misalnya, penyerang sejak era 1990-an, dari Widodo Cahyono Putro yang memiliki kecepatan dan jangkauang ruang yang luas. Lalu, Rochi Putiray memiliki keberanian menerobos dan aktif dalam menyerang. Bahkan, Paolo Maldini pun berkali-kali dilewati Rochi ketika berseragam Kitchee FC dan menghadapi pertandingan persahabatan dengan AC Milan.

Selain itu, ada Kurniawan Dwi Yulianto, lulusan Primavera ini juga memiliki positioning yang bagus, serta tak segan memberikan umpan matang maupun ruang ke rekan lain demi tim bisa mencetak gol.

Ilham Jaya Kesuma dan Zainal Arief pun serupa, cukup aktif di depan dan bergerak membuka ruang. Begitu juga Bambang Pamungkas, ibarat Filippo Inzaghi, keberadaannya kerap tidak disadari lawan. Dia bisa mencetak goal dari bola rebound penjaga gawang lawan maupun umpan silang dengan sundulan kerasnya.

Boaz Solosa yang masih menjadi wonderkid ketika Piala AFF 2004 pun memiliki insting mencetak gol yang baik. Gaya bermainnya pun satu karakter dengan senior-seniornya.

Nah, setelah Boaz, belum ada lagi penyerang timnas yang konsisten dan memiliki karakter kuat. Titus Bonai dan Patrich Wanggai yang memiliki karakter yang cukup kuat, tetapi pelatih timnas enggan memanggilnya.

Setelah era Boaz, ada beberapa pemain muda di lini depan timnas pada jenjang timnas Junior. Beberapa pemain itu seperti, Jajang Mulyana, Louis Ian Kabes, Ghery Setia, Syamsir Alam, Cornelius Geddy, dan Yongki Ari Wibowo. Namun, beberapa pemain itu kini sudah berganti posisi, bahkan ada yang berganti karir.

Irfan Bachdim menjadi penyerang Indonesia yang cukup punya karakter saat ini. Sayangnya, karir bersama timnasnya kerap diganggu dengan cedera.

Memperkuat Tim Usia Dini

Solusi untuk bisa memperkuat timnas Indonesia adalah dengan mempersiapkan pemain timnas sejak usia dini seperti U-10. Persiapannya bukan sekedar mencaplok pemain dari SSB, tetapi memilih pemain dengan standarisasi tertentu pada setiap posisinya.

Tidak perlu melihat kemampuan teknik, tetapi pilih pemain yang mempunya fisik, mental dan tingkat kebugaran bagus.

Pelajaran pertama yang harus diberikan kepada proyek pemain timnas jangka panjang itu adalah pembekalan teknik dasar. Pemain Indonesia saat ini mayoritas hanya memiliki kecepatan, tetapi teknik menembak sampai mengoper kadang masih buruk.

Masalah stamina dan mental motivasi juga perlu dibangun sejak dini untuk menciptakan karakter yang kuat.

Lalu, pembekalan manajemen strategi kolektif secara tim juga harus diberikan kepada pemain. Jadi, kehandalan teknik dasar bakal mendukung strategi kolektif tim untuk bisa menang.

Jika, pemain sejak U-10 terus bersama-sama hingga senior, Indonesia bisa membentuk generasi emas timnas senior.

Namun, hal itu akan sulit tercapai jika sampai di level liga domestik masih belum berkembang dengan baik. Pembinaan usia muda seperti, pelatihan teknik dasar dan sebagainya, di level klub juga harus baik.

Jadi, ketika para pemain ini dilepas ke klub dan bermain secara profesional karakter terjaga.

Walaupun, strategi ini bakal berdampak sangat jangka panjang yakni, 10 tahun sampai 15 tahun ke depan,

Ya, ibarat eksplorasi wilayah kerja migas, cadangan minyak mentah dan gas yang besar bisa didapatkan kalau bisa lebih bersabar. kalau terburu-buru yang ada keluarnya malah air doang. Semoga saja PSSI ada perubahan walaupun ketuanya lagi bersiap-siap Pilkada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.