Icip-icip Ayam Geprek, Si Makanan Blesteran

Lebaran sudah lewat, makanan seperti opor ayam, ketupat, rendang, dan sebagainya pasti menjadi hidangan dalam beberapa hari terakhir. Bosan, pasti ada yang berkomentar seperti itu, lalu enaknya makan apa ya?

Ayam geprek bisa jadi pilihan, itu pun kalau yang jualannya enggak mudik atau sudah pulang mudik. Soalnya, menarik garis lurus asal usul Ayam tepung disambelin itu berasal dari Yogyakarta, bisa jadi mayoritas penjualnya balik ke kota keraton tersebut.

Meskipun, pastinya ada juga kedai yang tidak dimiliki orang Yogyakarta juga sih karena siapapun bisa buka kedai ayam tepung disambelin tersebut.

Lalu, kenapa pilih makan ayam geprek habis lebaran?

Pertama, agar melepaskan keterikatan pada makanan santan yang selalu disantap sepanjang Lebaran.

Kedua, makan-makanan pedes bisa menyegarkan setelah lelah berkeliling rumah sanak saudara.

Ketiga, bisa membuat keringetan yang artinya, bisa membakar kalori dari makanan santan dan daging yang dimakan selama periode lebaran.

Sejarah Ayam Geprek

ngomong-ngomong ketenarannya ayam geprek, ternyata sejarah makanan blesteran ini masih simpang siur loh. Banyak pihak yang mengklaim sebagai pelopor pembuat ayam goreng tepung disambelin tersebut.

Dari berbagai sumber yang berbeda, konon ayam geprek ditemukan pertama kali di Yogyakarta pada 2003. Ayam geprek disebut pertama kali dibuat oleh Ruminah pemilik Warung Ayam Geprek Bu Rum di Yogyakarta.

Awalnya, Ruminah menjual berbagai macam makanan dari lotek, soto, sampai ayam goreng tepung. Nah, katanya dulu ada mahasiswa yang meminta sambal untuk dioleskan di atas ayam goreng tepung buatan Bu Rum tersebut.

Ternyata, banyak pelanggannya yang mayoritas mahasiswa itu menyukai ayam goreng tepung pakai sambal tradisional tersebut. Akhirnya, muncul menu Ayam Geprek, walaupun pelanggannya menyebut menu itu berbagai macam istilah, dari Ayam Gejrot sampai Ayam Ulek.

Namun, bukan hanya Ruminah yang mengaku sebagai penemu Ayam Geprek loh. Dari beberapa sumber lain menyebutkan, Quick Chicken, salah satu makanan cepat saji, menjadi pelopor penemu ayam tepung pakai sambal tersebut.

BACA JUGA : Makan Yakiniku Murah? Ini Pilihannya

Quick Chicken menemukan menu makanan blesteran itu pada 2013 dengan nama American Penyet. Menu itu disebut adalah kombinasi cita rasa barat dengan Indonesia. Bahkan, Quick Chicken memberikan 30 tingkat level kepedasan pada menu makanan blesterannya tersebut.

Nah, jadi siapa yang menemukan Ayam Geprek pertama kali? mungkin secara waktu, Bu Rumlah yang menemukan Ayam Geprek pertama kali. Namun, kita tidak tahu kalau ada warung serupa yang pernah membuat Ayam Geprek lebih dulu.

Lalu, Quick Chicken adalah pengembang menu Ayam Geprek dengan menggunakan skema level kepedasan.

Di luar itu, siapapun yang menemukan Ayam Geprek, yang penting makanan itu enak buat dimakan ya.

Untuk itu, ada beberapa review kedai Ayam Geprek yang pernah penulis coba.

Ayam Keprabon

Paket nasi ayam Keprabon ini memberikan porsi yang cenderung kecil untuk ukuran saya. Namun, paket Jumbonya sudah cukup untuk mengenyangkan perut.

Ayam Keprabon ini memberikan suwiran ayam yang tipis-tipis sehingga memudahkan untuk dimakan. Jadi, enggak perlu motong daging ayam yang disuwir kegedean. Namun, sangking tipisnya suwiran ayam membuat ayamnya seperti, bukan ayam tepung seperti, khas Ayam Geprek.

Tingkat kepedasannya untuk level 1 dan 2 sangat standar. Bagi yang kurang suka pedas mungkin 2 level terendah itu bisa dicoba. Namun, bagi yang suka sama pedes, disarankan mencoba icip mulai dari level 3 sampai 5.

Sambal yang dicampur dengan ayam suwirnya pun cenderung kering atau tidak terlalu basah dengan minyak. Namun, minyak sambalnya tergantung level yang dibeli, semakin tinggi levelnya, tingkat minyak sambal juga bakal lebih banyak.

Jika, beli paket yang ada telor dan mozarellanya, bentuk telor yang disajikan adalah telor dadar. Lalu, untuk mozarellanya standar seperti, ayam geprek yang lain.

Ayam Berseri

Ayam Berseri memiliki tekstur ayam suwir yang berbeda ketimbang Keprabon. Bila Keprabon menyuwir ayamnya tipis-tipis, Berseri menyuwir ayam apa adanya.

Bagi kalian yang suka mengunyah ayam yang lebih besar, Ayam Berseri bisa menjadi pilihan. Tepung ayamnya yang lumayan terlihat atau tebal pun tidak menjadi perusak rasa. Beberapa ayam geprek bermasalah pada tepung ayamnya yang justru merusak citra rasa sambalnya.

Nah, Ayam Berseri ini memberikan tingkat kepedasan hingga level 5, tetapi kalau kamu yang enggak kuat pedas, level 1 juga sudah cukup pedas loh. Untuk itu, ada opsi level 0 bagi yang mau menyicipi Ayam Berseri, tetapi enggak kuat makan pedas.

Sambal yang dicampurkan dengan ayam tepungnya pun cukup berminyak. Hal itu mungkin yang membuat level 1 pun menjadi terasa pedas.

Karakter pedas Ayam Berseri ini kayak mesin diesel alias telat panas. Pada awalnya, kalian enggak akan merasakan pedas, tetapi ketika sudah makan setengah porsinya, pedas itu baru muncul. Untuk antisipasi itu, Ayam Berseri menyediakan menu es teh tawar yang direfill kok.

Jika mengambil paket telur dan mozarella, yang diberikan Ayam Berseri adalah telur ceplok. Lalu, mozarellanya standar ayam geprek lainnya.

Ayam Gubrak

Ayam Gubrak memiliki perbedaan signifikan dengan kedai ayam geprek lainnya. Perbedaan itu adalah penyajian sambal yang terpisah.

Entah maksudnya apa, mungkin untuk menghindari pelanggannya kepedasan sehingga tidak bisa menghabiskan makanannya secara keseluruhan. Kalau sambal dipisah, bila sudah kepedasan, makan nasi dan ayamnya masih bisa dilanjutkan.

Secara keseluruhan, tepung ayam Gubrak sedikit menganggu rasanya. Bila tepungnya diolah dengan bumbu lainnya atau dikurangi mungkin bisa memperbaiki rasanya. Pasalnya, rasa tawar tepung begitu terasa.

Adapun, sambal Ayam Gubrak cukup enak, memiliki karakter yang berbeda dengan ayam geprek lainnya. Tingkat kepedasannya, Ayam Gubrak memberikan tingkatan dari 0 sampai 3. Level 1 berarti menggunakan 5 cabai, sedangkan level 3 berarti menggunakan 15 cabai.

Untuk, telur dan mozarella sama seperti, standar ayam geprek lain lah.

Master Geprek

Master Geprek memberikan kesan Ayam Geprek klasik dengan tidak menyuir ayamnya. Walaupun, hal itu bisa membuat orang yang enggan makan pake tangan menjadi malas.

Namun, ayam geprek yang utuh ini juga memberikan sensasi tersendiri, terutama ketika menggigit sampai ke tulangnya. Minyak ayam goreng dan bumbu tepung yang meresap bakal lebih dalam hingga ke tulangnya.

Apalagi, Master Geprek memberikan menu ala carte bagi yang mau membeli ayamnya saja. Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa kedai ayam geprek suwir yang tidak memberikan menu ala carte.

Nah, akibat menggunakan ayam utuh, telur ceplok yang kerap jadi campurannya pun dibuat terpisah. Namun, keju mozarellanya tetap menempel di ayamnya.

Selain itu, Master Geprek juga memberikan pilihan menu keju yakni, keju parut, atau leleh dengan keju mozarella.

Dari sisi sambalnya untuk level 2 dan 3 akan cukup pedas. Bagi yang tidak terlalu suka pedas mungkin bisa menguji nyali dengan makan level 1 saja.

Menariknya lagi, Master Geprek ini juga menyediakan kerupuk ‘nasi’ atau kerupuk aci. Hal itu meningkatkan nuansa makanan ala Indonesia banget. Padahal, Ayam Geprek ini makanan blesteran loh, ibaratnya bule bisa ngomong bahasa Jawa.

Nah, itu kedai ayam Geprek yang pernah saya cicipi. Mungkin, teman-teman warganet lainnya punya rekomendasi yang lebih apik. Bisa sampaikan di kolom komentar ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.