Buat Si Tajir, Enaknya Simpen Uang Dimana ya?

Duit banyak bingung nih mau diapain? atau orang tua kalian ada yang nanya enaknya nyimpen uang yang bagus untuk prospek masa depan di mana ya. Mau masuk ke pasar modal, pengalaman masih sikit, mau main reksadana bingung milih produknya yang mana, lalu apakah enaknya simpen di bank aja?

Kalau melihat tren dana jumbo yang mengendap di bank sih kayaknya begitu ya. Apalagi, inklusi pasar modal juga masih terbilang rendah.

Lalu, kalau bahasa beratnya, sekarang ini pengusaha masih nahan ekspansi. Jadi, dananya disimpen di bank. Kenapa di bank? soalnya sifat return deposito fix, sedangkan kalau investasi jangka pendek di pasar modal risikonya sangat tinggi.

Nanti, pas lagi butuh dananya, eh kinerja saham yang dibeli lagi anjlok kan berabe. Niat mau ekspansi malah enggak jadi nunggu return sahamnya balik lagi.

Selain itu, konon, para deposan [orang yang menyimpan dananya di deposito] juga tengah galau mencari tingkat imbal hasil. Mereka dilema memilih instrumen yang sesuai dengan risiko paling baik sehingga deposito menjadi pilihan.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan Jumbo [di atas Rp5 miliar] naik sebesar 15,95% menjadi Rp2.417 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Pertumbuhan simpanan jumbo pada kuartal ketiga tahun lalu itu bisa dibilang bangkit setelah pada kuartal III/2016 mencatatkan penurunan sebesar 0,25%. Lalu, kenaikan simpanan jumbo itu juga terhitung lebih tinggi ketimbang tiering nilai simpanan lainnya yang rata-rata tumbuh 8%.

Nah, pertumbuhan simpanan besar itu pun tidak mengartikan si Tajir sudah mulai nyaman di Indonesia loh. Bukan tidak mungkin, si Tajir tetap memantau perkembangan imbal hasil di luar negeri. Untuk itu, para pengelola dana di Indonesia dari bank maupun aset manajemen harus memutar otak untuk memuaskan si Tajir tersebut.

PT Bank OCBC NISP Tbk. menjadi bank yang fokus untuk memuaskan para pemilik dana besar tersebut. Bank OCBC NISP terus mengembangkan produk Trustee Individual yang sesuai dengan kebutuhan si Tajir sejak semester II/2017.

BACA JUGA : Mengatasi Masalah Keuangan Pada Millenial

Bank dengan kode emiten NISP itu pun menyiapkan instrumen anyar pada bisnis Private Bankingnya.

Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, perseroan sedang garap produk Trustee baru yang akan digabungkan dengan produk asuransi. “Cuma ini masih belum bisa diberikan detailnya,” ujarnya.

Parwati menyebutkan, kebutuhan nasabah Private Banking itu dengan dana besar itu juga terkait rencana warisan kepada generasi-generasi berikutnya. Nah, Trustee menjadi salah satu produk yang dibutuhkan.

“Walaupun, Trustee di Indonesia memiliki hukum yang berbeda, tetapi untuk Trustee individu ini bisa dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan nasabah besar,” sebutnya.

Kepala Divisi Private Banking Bank OCBC NISP Peter Harsono mengatakan, perseroan pun melihat peluang dari nasabah berdana besar itu dengan menyediakan produk investasi yang lebih spesifik dan diversifikasi.

“Produk investasi di Indonesia kan masih terbatas dibandingkan dengan produk di luar negeri. Untuk itu, kami tawarkan produk secara onshore [dalam negeri], dengan eksposur portofolio pada offshore [luar negeri],” ujarnya.

Untuk produk Private Banking, perseroan mensyaratkan nasabah harus memiliki dana minimal Rp10 miliar. Nanti, dari total dana itu akan didiversifikasi kepada beberapa produk keuangan.

Instrumen yang Lebih Menantang

Selain produk perbankan, pemilik dana jumbo juga bisa mulai melirik perusahaan teknologi finansial [Tekfin] yang bergerak di bidang peer to peer lending.

Pasalnya, tingkat imbal hasil yang diberikan cukup menarik loh. Apalagi, dana yang disimpan itu bakal digunakan mayoritas untuk sektor produktif seperti, usaha mikro, ekcil, dan menengah (UMKM).

Walaupun, istilah high risk high return juga tetap berlaku. Risiko gagal bayar dari debitur pasti ada sesuai dengan perkembangan bisnis.

Co-Founder dan Chief Executive Officer PT Mitrausaha Indonesia Grup Reynold Wijaya mengatakan, untuk tingkat rata-rata imbal hasil perseroan pada Oktober 2017 sekitar 20%.

“Namun, bila nanti sudah stabil, ke depannya imbal hasil berpotensi turun menjadi sekitar 15% karena melihat potensi risiko,” ujarnya

Reynold memaparkan, terkait risiko pada penempatan dana di peer to peer lending sepenuhnya ditanggung oleh pemilik dana. Dia menyarankan, untuk memitigasi risiko itu, pemilik dana wajib mendiversifikasi penyaluran dananya kepada calon penerima dana.

“Kami pun menyediakan fasilitas auto diversification engine yang secara otomatis melakukan diversifikasi portofolio pembeli pinjaman sehingga jauh lebih aman,” paparnya.

Dia menyebutkan, walaupun risiko penempatan dana sepenuhnya ditanggung oleh pemberi pinjaman, tetapi perseroan juga berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan collection pinjaman tersebut.

“Soalnya, kami hanya charge fee kepada pemberi pinjaman ketika ada pembayaran. Jadi, kalau penerima pinjaman tidak membayar, otomatis kami juga tidak ada pendapatan. Selain itu kalau ada penerima pinjaman yang bermasalah nama baik kami juga rusak,” sebutnya.

Reynold mengingatkan, kepada pemberi pinjaman kalau risiko itu tetap nyata adanya walaupun sudah dilakukan collection dengan cara terbaik.

Untuk itu, pihaknya sangat menekankan terkait diversifikasi pemberian pinjaman dan pendanaan berulang.

“Dengan kedua itu, risiko dan imbal hasil bisa terjaga,” ujarnya.

Nah, dengan muncul berbagai produk menarik bagi pemilik dana yang besar, kalian yang tajir ini tinggal memilih mau bermain aman atau sedikit melirik tantangan dengan imbal hasil dan risiko yang sesuai.

*diterbitkan di Harian Bisnis Indonesia dan Bisnis.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.