Jalan Panjang Liliyana, Legenda Butet dari Manado

Sang Legenda Butet dari Manado

Laju karir Butet/Owi sempat mengalami masa penurunan pada periode 2014-2015. Kala itu, banyak yang menilai mereka berdua sudah habis dan Owi harus dicarikan pasangan lain yang lebih muda, tetapi pasangan andalan Indonesia itu ternyata mampu bangkit. 


Sejak menjuarai Prancis Open 2014, Butet/Owi tidak menjuarai gelar apapun lagi hingga April 2016. 


Puasa gelar Butet/Owi pun berakhir setelah mereka menjadi juara di Malaysia Open. Mereka menghabisi wakil tuan rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying 23-21, 13-21, 21-16. 


Harapan kebangkitan pasangan andalan Indonesia ini pun mulai tumbuh. Hasilnya, pada 2016, Butet/Owi mempersembahkan emas Olimpiade untuk Indonesia. 


Sayang, pada Asian Games 2018 di Jakarta, mereka gagal menaklukan pasangan CHina Zheng Siwei/Huang Yaqiong. Pasangan Indonesia itu dikalahkan 13-21, 18-21. 

View this post on Instagram

Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad harus puas mendapatkan Perunggu pada gelaran Asian Games 2018. Meskipun gagal meraih emas, Butet, sapaan Liliyana tetaplah sang legenda. _ Butet sudah memberikan banyak gelar untuk Indonesia. Secara umum, dia telah memberikan gelar juara dunia 4 kali pada 2005, 2007 (bersama Nova Widianto), 2013, dan 2017 (bersama Tontowi Ahmad). _ Dia pun sudah kenyang meraih gelar All England sebanyak 3 kali, dan satu emas Olimpiade pada 2016. _ Walaupun, Butet harus puas belum pernah mencicipi medali emas Asian Games. _ Meskipun begitu, Butet yang berasal dari Manado ini tetap legenda di hati masyarakat Indonesia. Bahkan, dia adalah salah satu pemain ganda campuran yang disegani oleh dunia. _ Terima kasih Ci Butet, @natsirliliyana _ #AsianGames2018 #Badminton #Bulutangkis #Sport #Olahraga #LiliyanaNatsir #Butet #TontowiAhmad #PBSI #BWF #BadmintonLovers #Bisniscom

A post shared by Bisniscom (@bisniscom) on


Dalam laman resmi PBSI, Liliyana mengatakan, dirinya kurang puas dengan hasil Asian Games 2018, tetapi itu adalah upaya maksimalnya. 
“Pasangan China ini memang bermain baik. Kalau saya rasa, dari kekuatan dan kecepatannya, kami sudah kalah jauh,” ujarnya. 


Butet melanjutkan, dirinya sudah mencari cara biar bisa bangkit, tetapi hal itu cukup sulit. Setelah lawan menang di set pertama, mereka lebih nothing to lose lagi. 


“Ini memang menjadi Asian Game terakhir saya, tidak mungkin lah empat tahun lagi saya masih ikut. Cuma untuk menghibur diri, setidaknya saya mendapatka medali lah,” ujarnya. 


Bila nanti Liliyana sudah resmi gantung raket, Indonesia pasti merindukan sabetan depan net ala BUtet yang sangat tersohor di seluruh dunia.

1 thought on “Jalan Panjang Liliyana, Legenda Butet dari Manado

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.