Menelisik Dalang Penggerak Harga Minyak Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengutuk sambil menuduh monopoli pasar yang dilakukan Organization Petroleum of the Exporting Countries (OPEC) hingga harga minyak melejit tembus US$100 per barel.

Pada 20 September 2018, Trump mencuit di Twitter mengatakan, “Kami selalu berupaya melindungi Timur Tengah, tanpa kami, Timur tengah tidak akan aman. Cuma, mereka malah terus mendorong harga minyak naik semakin tinggi, kami akan mengingatnya, OPEC itu memonopoli pasar dan harusnya menurunkan harga minyak segera.”

Presiden Rusia Vladimir Putin merespons terkait tuduhan Trump kepada OPEC yang memonopoli pasar dan harus menurunkan harga minyak segera.

“Dia benar tentang harga minyak sudah terlalu tinggi, tetapi untuk mengetahui siapa pelaku yang membuat harga minyak naik, dia [Trump] harus melihat cermin,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg pada Jumat (5/10/2018).

Harga Minyak WTI satu tahun terakhir./Macrotrends

Kenaikan harga minyak Brent memang menjadi perhatian dunia setelah kian dekat dengan US$100 per barel.

Dari data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (5/10/2018), harga minyak Brent melemah 0,5% menjadi US$84,16 per barel. Posisi harga itu sudah naik 25,85% dibandingkan akhir 2017.

Spread harga minyak Brent dengan West Texas Intermediate (WTI)pun melebar hingga US$9,82 per barel.

Sebelumnya, spread harga Brent dengan WTI sempat sekitar US$5 per barel.

Harga minyak Brent satu tahun terakhir./Macrotrends

Adapun, lonjakan harga minyak dunia terjadi seiring munculnya kekhawatiran pasokan minyak global bakal menyusut.

Pasalnya, AS kembali memberlakukan sanksi terkait nuklir kepada Iran yang akan berlaku pada 5 November 2018.

Sanksi sektor energi yang diberikan kepada Iran itu terdiri dari transaksi terkait minyak sampai lembaga keuangan asing dengan bank sentral Iran.

Harga Minyak dan Kekhawatiran Pasokan Menyusut

Alhasil, muncul kekhawatiran terkait pasokan minyak dunia bakal menyusut.

Pasalnya, Iran adalah negara produksi minyak besar, sampai Juli 2018 produksi minyak Iran mencapai 3,8 juta barel per hari.

Di sisi lain, kekhawatiran pasokan minyak dunia menyusut kian menjadi nyata seiring krisis ekonomi yang terjadi di Venezuela.

Usut punya usut, ekonomi Venezuela mengalami kemerosotan akibat sanksi AS kepada negara penghasil minyak itu pada pertengahan 2017.

Dampaknya, produksi minyak Venezuela memang terus merosot sejak awal 2018 sampai saat ini.

Data Tradingeconomics menunjukkan, produksi minyak Venezuela bisa tembus 2,2 juta barel per hari pada awal 2017, tetapi sampai Agustus 2018 menyusut menjadi 1,4 juta barel per hari.

Putin pun menekankan hal serupa, menurutnya lonjakan harga minyak saat ini diakibatkan oleh sanksi administrasi yang diberikan AS kepada Iran dan masalah politik di Venezuela.

“Kami pun sudah menambah produksi sekitar 200.000 barel per hari sampai 300.000 barel per hari untuk meningkatkan pasokan di pasar,” ujarnya.

Selain itu, Arab Saudi dikabarkan juga berencana menggenjot produksi hingga menembus 10,7 juta barel per hari atau rekor produksi tertinggi sepanjang masanya.

Sampai Agustus 2018, produksi minyak mentah Arab Saudi sebesar 10,41 juta barel per hari.

Langkah Rusia dan Arab Saudi itu dilakukan demi menjaga ketersediaan pasokan minyak mentah di pasar di tengah potensi penurunan produksi di Iran dan Venezuela.

Harapannya, pasokan minyak mentah aman bisa membuat lonjakan harga tidak terlalu melejit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.