Menelisik Dalang Penggerak Harga Minyak Dunia

Sesuai Ramalan

Lonjakan harga minyak yang mulai terjadi sejak 2018 ternyata sudah diprediksi sejak 4 tahun lalu.

Kala itu, harga komoditas energi utama itu tengah melempem setelah berada di level tinggi pada medio 2012 sampai pertengahan 2014.

Banyak analis maupun pelaku bisnis sektor migas pesimistis harga emas hitam itu mampu bangkit ke level US$100 per barel.

Pasalnya, perkembangan energi baru terbarukan bisa membuat permintaan minyak semakin menyusut.

Namun, ada beberapa pihak justru memperkirakan harga minyak dunia bisa kembali tembus US$100 per barel.

Analisis itu pun dinilai berlawanan dengan asumsi banyak orang, sampai akhirnya pandangan itu dinilai sekedar ramalan.

Pendiri Konsultan PIRA Energy Group Gary Ross menjadi sosok peramal yang optimistis harga minyak bisa kembali ke kisaran US$100 per barel.

Ross memperkirakan itu dengan melihat ekspansi negara-negara maju yang berpotensi membuat permintaan minyak naik dan berpotensi mengerek harga komoditas energi tersebut.

Jika, ramalan Ross menyebutkan 5 tahun dari 2014, berarti dia meramalkan harga minyak bisa kembali ke US$100 per barel pada 2019.

Nah, prediksi Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Statoil ASA Eirik Waerness bisa jadi mendukung ramalan Ross.

Prediksi Lonjakan Konsumsi Minyak

Waerness memperkirakan harga komoditas energi itu bisa kembali ke kisaran US$80 per barel pada 2018.

Alasannya, ketika harga minyak dunia jatuh ke level di bawah US$50 per barel, beberapa produsen minyak mulai menghentikan eksplorasi.

Lalu, rendahnya harga minyak kemungkinan bisa merangsang gairah permintaan.

Namun, permintaan tidak langsung menggeliat tiba-tiba di tengah rendahnya harga minyak pada periode 2015–2016.

Penyebabnya, perekonomian global masih mengalami perlambatan. Jadi, permintaan dan lonjakan harga minyak diperkirakan mulai muncul pada 2018.

Berarti, langkah harga minyak menuju US$100 per barel dalam 5 tahun sejak 2014 bisa saja benar-benar terealisasi.

Meskipun, lonjakan harga pada tahun ini disebabkan faktor geopolitik dan sanksi AS kepada Iran dan Venezuela, tetapi secara keseluruhan ramalan Ross dan Waerness bisa menjadi nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.