Menelisik Dalang Penggerak Harga Minyak Dunia

Shale Oil dan Era Harga Rendah

Pernah merasakan harga pertamax hingga Rp7.000-an per liter? hal itu pernah terjadi pada periode 2016–2017 ketika harga minyak dunia jatuh ke level di bawah US$30 per barel sampai US$35 per barel.

Awal semester II/2014, harga Brent yang begitu perkasa di level US$100 per barel secara perlahan menyusut menuju US$80 per barel.

Begitu juga harga WTI yang anjlok hingga mendekati US$70 per barel.

Salah satu faktor jatuhnya harga minyak adalah lonjakan produksi shale oil AS yang terus menggeliat sejak 2012.

Posisi harga minyak yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir membuat perusahaan migas Paman Sam menggali minyak serpih itu lebih banyak lagi.

Belum lagi, semangat menekan impor minyak mentah oleh AS mulai diluncurkan sejak 2005.

Data Energy Information Administration (EIA) mencatat produksi minyak AS mulai bangkit ke kisaran 6 juta barel per hari pada awal 2012.

Jumlah produksi itu terus merangkak naik menjadi 9,23 juta barel per hari pada Januari 2016.

Angka produksi itu sudah hampir setara dengan produksi minyak Arab Saudi kala itu.

Dikutip dari National Geographic, lonjakan produksi minyak AS itu didukung oleh kejayaan shale oil.

Kenaikan produksi yang drastis itu telah membuat Negeri Paman Sam mampu menekan impor minyaknya.

Produksi Shale Oil Melambat

Namun, laju kenaikan produksi shale oil AS mulai melambat pada awal 2016 seiring dengan kejatuhan harga WTI hingga US$35 per barel.

Harga minyak WTI pada periode 2014–2018/ Macrotrend

Produksi shale oil AS itu disebutkan membutuhkan biaya operasional dengan harga berada di atas US$50 per barel.

Scotiabank mengestimasikan biaya operasional shale oil membutuhkan harga di level US$69 per barel.

Di sisi lain, Economist mencatat para produsen shale oil masih mengatasi operasional pada harga minyak US$50 per barel.

Harga minyak Brent periode 2014–2018/ Macrotrend

Di luar faktor biaya operasional, EIA mencatat produsen shale oil AS memang mulai memangkas produksi untuk menstabilkan harga.

Alhasil, produksi shale oil pun mengalami penurunan hingga ke kisaran 8,4 juta barel per hari.

Selaras dengan penurunan produksi minyak serpih AS itu, harga minyak mentah dunia perlahan mulai bangkit.

Namun, kebangkitan harga minyak dunia bukan sekedar akibat penurunan produksi shale oil saja.

Peran OPEC yang memutuskan pangkas produksi juga memiliki andil besar dalam mengerek harga minyak untuk bisa bangkit kembali.

Selaras dengan melambatnya produksi shale oil, organisasi negara ekspor minyak itu pun memutuskan pangkas produksi pada akhir 2016.

Kebangkitan Harga Komoditas Energi

Secara perlahan, harga emas hitam itu kembali tembus US$50 per barel pada 2017 setelah aksi kompas OPEC dengan AS tersebut.

Sebelumnya, OPEC menolak memangkas produksi pada periode 2015 karena berpotensi menambah kerugian para raja minyak tersebut.

Apalagi, AS yang bersikeras meminta OPEC memangkas produksi terlebih dulu demi kestabilan harga, sedangkan produksi shale oil AS kala itu terus melaju naik mendekati produksi Arab Saudi.

Bahkan, adu keras kepala antara AS dengan OPEC membuat analis dan pelaku usaha melihat perkembangan aktivitas rig di AS untuk memperkirakan potensi penurunan produksi di Negeri Paman Sam.

Aksi memantau aktivitas rig di AS itu untuk melihat sejauh mana produsen shale oil bertahan di tengah era harga minyak mentah murah.

Ketika harga komoditas energi itu di bawah US$50 per barel, aktivitas rig shale oil AS yang dicatat Baker Hughes memang terus menyusut.

Sentimen penurunan aktivitas rig itu sempat mendorong harga minyak naik sesaat pada akhir 2015 dan 2016.

Posisi harga yang sudah lebih baik pun membuat aktivitas produksi minyak AS kembali menggeliat.

Hal itu tampak dari hasil produksi minyak AS saat ini sudah melebihi Arab Saudi.

Menurut data EIA, produksi minyak AS sudah menembus 11,1 juta barel per hari pada akhir September 2018.

Apakah ini berarti harga minyak bisa saja kembali drop ke level rendah bila para produsen shale oil bernafsu menggali minyak lebih banyak?

Hal itu bisa saja terjadi, kita bisa tunggu dampaknya pada 2019, 2020, atau 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.