Menelisik Dalang Penggerak Harga Minyak Dunia

Pertama Kalinya Tembus US$100 per Barel 

Harga minyak dunia pertama kali tembus US$100 per barel pada 2008. Kala itu, banyak faktor geopolitik yang membuat harga komoditas energi itu bisa melejit.

Beberapa yang telah dikompilasi antara lain, kerusuhan di Nigeria, pembunuhan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, Venezuela, sampai ketegangan antara Iran dan AS.

Dua faktor terakhir yakni, Venezuela dan Iran bersama AS kembali menjadi dalang pendongkrak harga minyak hingga mendekati US$100 per barel saat ini.

Perbedaannya, pada 2008, ekonomi negara-negara berkembang melesat, termasuk China.

Permintaan produk berbasis minyak mentah pun meningkat drastis sehingga pasokan global pun terancam menipis.

Apalagi, faktor geopolitik pada beberapa negara produsen minyak semakin mengancam pasokan minyak dunia.

Negara konsumsi minyak terbesar di dunia, AS, pun turut andil terhadap lonjakan harga minyak dunia.

Kondisi ekonomi AS yang dilanda krisis menyebabkan pelemahan dolar AS, hal itu pun justru menjadi sentimen pendongkrak harga minyak dunia.

Selain itu, pasokan minyak Negeri Paman Sam juga menipis.

Sampai pertengahan 2008, ekonomi AS dinilai memiliki prospek cerah dalam jangka menengah.

Hal itu justru memicu harga minyak menembus level tertingginya sepanjang masa yakni, US$161,8 per barel.

Pergerakan harga minyak WTI periode 1998–2018./Macrotrends

Berharap Permintaan Minyak Susut

Pada 2008, analis energi senior Oppenheimer & Company Fadel Gheit mengatakan, dunia memulai awal tahun dengan keras.

Faktor eksternal yang memburuk, musim dingin yang sangat dingin, hingga pasokan minyak yang kian tipis.

“Namun, kalau terjadi resesi bisa saja langsung membuat harga minyak kembali merosot. Soalnya, resesi berarti permintaan turun dan para spekulan akan mengambil posisi jual yang berarti ada potensi turun,” ujarnya seperti dikutip New York Times.

Pada periode 2008, harga minyak disebut berangsur turun setelah bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya.

Pemangkasan suku bunga acuan The Fed itu membuat indeks dolar AS lebih kuat sehingga harga komoditas seperti, minyak mentah, bisa mengalami penurunan.

Hasilnya, dalam waktu sekitar 6 bulan, harga minyak mentah dunia langsung merosot hingga ke level US$49,77 barel per hari.

Secara umum, garis merah pergerakan harga komoditas energi itu sangat berpengaruh oleh tindakan AS.

Negeri Paman Sam selaku konsumsi energi minyak terbesar memang memiliki andil besar dalam pergerakna harganya.

Walaupun, saat ini pola konsumsinya sudah mulai dipengaruhi oleh China, negara konsumsi energi terbesar kedua.

Selain itu, kekuatan adidaya AS dalam memberikan sanksi kepada negara-negara yang ‘dianggap’ membahayakan dunia bisa mempengaruhi pergerakan harga. Terutama, negara yang diberikan sanksi adalah para produsen minyak. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.