Gagal Di Piala AFF 2018, Edy Jangan Kayak Nurdin Dong

Persatuan Sepak bola seluruh Indonesia tengah menjadi sorotan atas kegagalan timnas di Piala AFF 2018. Apakah saatnya induk sepak bola Indonesia itu harus berganti pucuk pimpinan?

Menjelang Piala AFF 2018, masyarakat sudah resah setelah Luis Milla, pelatih timnas hampir setahun terakhir, enggan memperpanjang kontraknya.

Bima Sakti yang selama ini mendampingi Luis Milla pun ditunjuk sebagai pelatih timnas sementara untuk bertempur di Piala AFF.

Sayangnya, pola permainan yang sudah di bangun Milla selama setahun terakhir tidak berlanjut ketika Bima memimpin timnas.

Di sisi lain, banyak pihak yang sangsi dengan kemampuan Bima melatih. Apalagi, legenda timnas Indonesia itu tidak punya rekam jejak sebagai pelatih klub di level tertinggi liga Indonesia.

Namun, pengalaman Bima yang minim juga tidak bisa disalahkan. Bahkan, seorang Pep Guardiola atau Antonio Conte pun tidak bakal bisa langsung membawa timnas juara piala AFF dengan persiapan kurang dari sebulan.

Resmi ditunjuk pada Oktober 2018, Bima Sakti harus mempersiapkan tim untuk Piala AFF pada pertengahan November 2018. Status asisten pelatih Luis Milla bisa jadi beban untuk sang legenda timnas tersebut.

Faktanya, dia tidak berani mengotak-atik bagian lini depan timnas Indonesia yang selama ini masih belum subur mencetak gol.

Beto Goncalves yang sudah berusia 37 tahun menjadi andalan di lini depan sendirian. Lalu, Stefanno Lilipaly juga didapuk sebagai penyerang pendukung, meskipun posisi aslinya adalah gelandang serang.

Alhasil, Beto hanya mencetak satu gol sepanjang laga. Itu pun ke gawang Timor Leste yang masih dianggap salah satu tim terlemah di turnamen tersebut.

Di sisi lain, satu penyerang timnas Indonesia lainnya, Dedik Setiawan, malah dibiarkan setia di bangku cadangan.

Padahal, dia bisa dijajal ketika lini depan timnas sedang buntu. Apalagi, kalau melihat sepanjang gelaran Piala AFF, pergerakan Beto sudah terlalu lamban di tengah serbuan pemain muda lawan.

Piala AFF 2018 Jadi Akhir Edy Rahmayadi?

Ketua PSSI Edy Rahmayadi jelas menjadi sosok yang paling bisa disalahkan pada kegagalan timnas di Piala AFF.

Edy bisa dibilang sudah tidak layak lagi mengurus PSSI karena rangkap tiga jabatan yakni, Ketua PSSI, Gubernur Sumatra Utara, dan pembina PSMS Medan.

Dua jabatan pertama dan terakhir disebut juga menjadi kontroversi. Independensi PSSI dipertanyakan ketika ketuanya menjadi salah satu pembina klub bola di bawah naungan PSSI.

Kalau, PSMS kena kasus berarti ada peluang jalan pintas untuk menyelesaikannya.

Namun, Edy tidak bergeming, dia seperti tak ingin dijadikan kambing hitam atas kegagalan timnas Indonesia di Piala AFF.

BACA JUGA : Menelisik Dalang Penggerak Harga Minyak Dunia

Bahkan, sekjen PSSI Ratu Tisha menegaskan kegagalan piala AFF hanya salah satu dari berbagai keberhasilan timnas sepak bola Indonesia.

Dia memaparkan, timnas putri berprestasi setelah lolos putaran kedua penyisihan Olimpiade, timnas futsal putri juga di peringkat delapan besar asia, timnas futsal putra peringkat tiga AFF, timnas U-19 untuk pertama kalinya masuk ke perempat final Piala Asia.

Lalu, ada timnas U-16 yang menjuarai Piala AFF dan pertama kalinya lolos ke perempat final Piala Asia.

Tisha juga memaparkan prestasi PSSI sepanjang tahun ini. Organisasi sepak bola Indonesia disebut berprestasi menggelar 10 turnamen internasional dari Piala Futsal AFF, AFF Futsal Club Championship, Piala AFF U-15, Piala AFF U-18, AFF Women Championship U-15 dan senior, serta AFF Beach Soccer.

Selain itu, ada turnamen skala Asia seperti, AFC Futsal Club Championship, AFC U-19, dan Asian Games.

Adapun, prestasi yang disebutkan oleh Tisha itu seperti pelarian PSSI dari kegagalan besar di timnas senior.

Memang, jenjang timnas ada tujuh lapis, tetapi apa artinya berprestasi di kala mudah, tetapi tenggelam di kala senior.

Perkembangan jenjang yang cenderung surut ini pun harus menjadi perhatian PSSI.

Apa Hubungan Timnas dengan Wartawan?

Sementara itu, Ketua PSSI berkomentar lebih aneh bin enggak jelas.

Dia merespons pertanyaan wartawan terkait kegagalan di Piala AFF 2018 dengan menyebut, kalau wartawannya baik, timnasnya juga baik.

Komentar itu pun langsung viral di dunia maya.

Mungkin, Edy sudah jengah dengan pekerjaannya yang tiga rangkap itu.

Masyarakat Indonesia pun tampaknya sudah sangat siap melihat Edy mundur dari kursi ketua PSSI.

Tekanan mundur kepada Edy mengalir deras di media sosial.

Setiap postingan atau kicauan Edy langsung disambar dengan desakan mundur.

Bahkan, Edy sampai mematikan fitur komentar di akun Instagramnya.

Pak Edy, mungkin kali ini saat yang pas untuk mundur dari kursi Ketua PSSI. Jangan sampai era Nurdin Halid and the genk kembali terulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.