Gelar Pertama Antonsen di Arena Legendaris

Antonsen juara setelah mengalahkan Kento Momota. Pasca Indonesia Master juga, para pemain Denmark pun berdamai dengan federasinya.

Antonsen juara pada nomor tunggal putra di Indonesia Master 2019. Setelah mengalahkan wakil tuan rumah Jonathan Christie, pemain Denmark itu pun membabat wakil Jepang Kento Momota.

Anders Antonsen langsung berlari dan melemparkan kaosnya ke penonton selepas mengalahkan Momota.

Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih kepada penonton di Istora Glora Bung Karno setelah berhasil menjadi pemenang sektor tunggal putra pada kejuaraan tersebut.

Ketika sektor tunggal putra Indonesia kering prestasi, para pendukung istora sempat kebingungan ingin mendukung Momota atau Antonsen pada laga final Indonesia Master tersebut.

“Nippon, Kento Momota,” beberapa kali sempat disebut oleh segelintir orang. Beberapa diantaranya orang Jepang yang hadir langsung di Istora.

Jika melihat peringkat dan head to head, peluang Momota menang sangat besar sekali. Tunggal Jepang itu peringkat satu dunia dan unggul head to head 3-0 dengan Antonsen sebelum Indonesia Master.

Antonsen juara dan berhasil memecahkan telor head to head melawan momota

Sehari sebelumnya, rekan Antonsen, Viktor Axelsen dibantai habis oleh Momota 21-15, 21-4.

Padahal, Axelsen memiliki peringkat dan pengalaman lebih baik ketimbang Antonsen saja masih sulit mengimbangi keuletan Momota.  

Namun, seperti kisah di anime Jepang, pemain yang tidak diunggulkan tetap punya peluang menang. Bahkan, pemain yang tidak diunggulkan bisa menang, meskipun dengan perjuangan yang tidak mudah.  

BACA JUGA : Jalan Panjang liliyana, Butet dari Manado

Antonsen berlari ke depan, belakang, maupun sudut lapangan untuk mengejar penempatan bola Momota.

Melihat perjuangan Antonsen, penonton di Istora bersimpati dan tanpa sadar mulai berteriak mendukung sang pemain Denmark.

“Antonsen…. Antonsen….,” teriakan penonton sangat menggema ke seluruh gedung pertandingan. Seolah-olah pemain Indonesia yang bertanding di sana.

Lets’go Denmark Lets’go,” teriakan variatif muncul untuk mendukung Antonsen.

Hasilnya, Antonsen sempat unggul 21-16 pada set pertama, tetapi mental juara Momota membuat tunggal Denmark itu kandas di set kedua 14-21.

Antonsen Juara, Momota Tidak Beruntung

Pada set ketiga, Antonsen tampak kelelahan, pergerakannya tidak secepat set pertama dan kedua. Di sisi lain, Momota masih lincah, tetapi kerap melakukan kesalahan sendiri.

Pemain Denmark itu pun mencoba meladeni permainan ulet Momota dengan kaki yang tampak semakin berat.

Keberuntungan tampak tidak berada di sisi Momota, pendukung Istora sudah kompak mengelukan nama Antonsen. Bahkan, angin pun tidak berpihak pada pemain Jepang tersebut.

Namun, Antonsen mampu meraih match poin terlebih dulu dengan keunggulan 20-14. Tertinggal enam angka, Momota tidak menyerah begitu saja, dia tetap berjuang mengejar ketertinggalan angka.

Dua poin diraih Momota untuk mengejar angka Antonsen, sayangnya angin Istora benar-benar tidak berpihak kepada pemain Jepang tersebut. Bola nettingnya gagal melewati net dan sang pemain Denmark menjadi juaranya.

Prestasi Antonsen

Antonsen mulai menyicipi aroma persaingan pada pertandingan kelas senior pada 2014, tetapi dia masih lebih fokus pada beberapa kejuaraan junior saat itu.

Pada 2016, dia baru resmi bermain untuk kelas senior. Jerman Open Grand Prix Gold menjadi turnamen pertamanya.

Dia kalah pada babak 64 besar dari Mark Caljouw 14-21, 21-14, 7-21 pada turnamen tersebut.

Antonsen meraih juara pertamanya pada turnamen Scottish Open Grand Prix setelah mengalahkan Soong Joo Ven 22-20, 21-14. Namun, turnamen itu mayoritas diikuti pemain Eropa sehingga persaingannya tidak begitu ketat.

Pada 2017, Antonsen tidak meraih gelar apapun. Beberapa kali dia dikalahkan pemain papan atas seperti, Chen Long, Son Wan Ho, Hu Yun, dan Chou Tien Chen.

Begitu juga pada 2018, langkah pemain Denmark itu paling tinggi mencapai babak semifinal. Di sana, pemain peringkat lebih tinggi kerap mengandaskan perjuangannya.

Sebenarnya, Antonsen mengawali 2019 dengan langkah yang tidak begitu baik. Dia kandas di babak 32 besar pada turnamen Malaysia Master.

Antonsen dikalahkan wakil Korea Selatan Son Wan Ho dua set langsung 17-21, 9-21.

Namun, awal tahun Antonsen berbalik menjadi indah setelah dia memastikan kemenangan sebagai juara pada Indonesia Master.

Konflik Internal

Sementara itu, di balik kemenangan Antonse, ternyata ada konflik besar di belakangnya.

Kursi pelatih para pemain Denmark selalu tidak berpenghuni selama gelaran Indonesia Master 2019. Bahkan, ketika Kim Astrup/Anders Rasmussen berhadapan dengan Kevin Sanjaya/Marcus Gideon di semifinal, kursi pelatih malah diduduki Antonsen.

Dari kursi itu, Antonsen sesekali memberikan dukungan kepada rekan senegaranya tersebut. Ketika interval dan pergantian set, dia juga memberikan masukan kepada rekannya tersebut.

Misteri kursi pelatih Denmark yang kosong itu terungkap. Para pemain Denmark itu tengah berkonflik dengan federasi bulutangkisnya.

Alhasil, mereka ikut turnamen Indonesia Master itu dengan kocek dari kantong sendiri.

Konflik antara pemain Denmark dengan federasinya adalah terkait sponsor. Beberapa pemain Denmark sering menggunakan sponsor masing-masing, tanpa mengikuti sponsor yang dimiliki federasi.

Federasi pun berkeras para pemain yang membangkang tidak boleh berlaga. Alhasil, konflik memuncak.

Otoritas tertinggi bulutangkis Denmark itu mengancam selama kesepakatan belum tercapai, pemain Denmark dilarang menggunakan fasilitas dan tidak ikut serta kejuaraan besar.

Kabar baiknya, konflik antara pemain Denmark dengan federasinya itu sudah usai. Federasi telah mencapai kesepakatan dengan pemain terkait pendapatan komersial asosiasi melalui sponsor tim nasional.

Para pemain Denmark punya hak mengatur sponsor sendiri lewat turnamen individu. Berarti, pada laga selanjutnya seperti, All England, para pemain Denmark tidak perlu mengandalkan sponsor sendiri atau sampai merogoh kocek sendiri untuk bertanding.

Mereka sudah bisa menggunakan fasilitas timnas lagi. Akhir Indonesia Master pun seolah menjadi indah untuk Antonsen dkk.

1 thought on “Gelar Pertama Antonsen di Arena Legendaris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.