Kualitas Latihan Atlet, Ini Curhat Susi Susanti

kualitas latihan atlet

Kualitas latihan atlet akan menjadi perhatian Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susi Susanti mengatakan, Latihan dan pertandingan sama pentingnya dalam capaian seorang atlet. Hasil yang diraih atlet tidak lepas dari matangnya persiapan sebelum keberangkatan menuju turnamen.

“Mengatasi tekanan di pertandingan harus dibiasakan dari latihan. Contoh, kalau sudah capek di latihan, kadang masih nawar, kalau ketat, ya sudahlah, pasrah,” ujarnya dalam situs resmi PBSI pada Rabu (6/2).

BACA JUGA : Gelar Pertama Antonsen dari Arena Legendaris

Susi melanjutkan, waktu latihan drilling 100 bola, kadang kalau sudah capek malah sengaja bolanya dibuat nyangkut ke net. Kebiasaan itu bisa terbawa ke pertandingan dan membuat kebiasaan cepat menyerah.

“Lebih baik di latihan mikir yang terjelek dulu, kalau nanti nggak sejelek itu di pertandingan kan enak kitanya main,” lanjutnya.

Atlet diminta untuk meningkatkan latihan menjadi tiga kali lipat. Pasalnya, tenaga atlet bakal lebih terkuras di pertandingan sehingga harus menyiapkan stamina yang kuat juga.

Susy mengatakan, kalau latihan 20 kali smash, paling di pertandingan cuma lima sampai enam kali smash untuk satu poin.

“Kalau di tunggal, bisa 56 kali sampai 80 kali, ya latihannya harus tiga kali lipatnya,” ujarnya.

Kualitas Latihan Atlet dan Kegigihan Ketika Tanding

Legenda tunggal putri Indonesia itu pun menyebutkan, kesadaran dari masing-masing atlet adalah faktor utama untuk meningkatkan kualitas latihan tersebut.

“Ada atlet yang merasa sudah latihan, sudah habiskan program, tetapi kualitasnya bagaimana?” ujarnya.

Dia melanjutkan, Belum lagi ada yang suka nyolong latihan seperti, latihan kelincahan yang harus menyentuh garis, tetapi penerapannya tidak sampai garis.

“Padahal ini sangat bermanfaat untuk pertandingan, bisa menentukan posisi di mana dia menyerang,” lanjutnya.

Bahkan, Susy mengungkapkan sudah dimarahi, tetapi pelatih tidak bisa memantau posisi bolanya satu per satu.

“Ada lagi, latihan tiga jam, kan enggak mungkin pelatih nongkrongin selama tiga jam. Pemain sudah dewasa, masa harus dipantau terus,” ungkapnya.

Susy menekankan, ada pemain yang bilang, ini cuma latihan kalau di pertandingan baru sungguh-sungguh.

“Itu namanya mimpi!,” tegasnya.

Kevin dan Marcus Jadi Contoh

Ganda putra andalan Indonesia Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon menjadi salah satu contoh yang baik terkait kualitas latihan.

Susy mengatakan, kualitas latihan Kevin/Marcus sudah berbeda. mereka datang lebih pagi dan pulang paling terakhir.

“Apa yang mereka rasa kurang, kembali dilatih. Kevin juga kelihatan enggak mau kalah kalau lagi latihan,” ujarnya.

Susy membuktikan, coba lihat ketika Kevin/Marcus bertanding, saat poin ketat, mereka tidak mau kalah. Itu karena sudah terbiasa menghadapi hal itu saat latihan.

Padahal, kualitas Kevin/Marcus dengan Fajar Alfian/Rian Ardianto tidak berbeda jauh. Bahkan, Kevin kerap kesulitan menghadapi pasangan tersebut.

Namun, Kevin/Marcus lebih gigih dan punya kemauan menang sehingga mereka lebih unggul.

Susy mengatakan, sudah berbicara kepada Fajar/Rian untuk mengeluarkan ekspresi dan emosinya di depan musuh.

“Ini karakter kok, bisa diubah,” ujarnya.

Adapun, Minions, julukan Kevin/Marcus sudah menduduki tahta peringkat satu dunia ganda putra selama dua tahun terakhir. Penampilan mereka pun cukup stabil, bahkan pada awal tahun ini sudah mengantongi dua gelar dari Malaysia Master dan Indonesia Master.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.